tirto.id - Indonesia menghadapi perubahan demografi menuju masyarakat menua. Di tengah menyempitnya bonus demografi, kesiapan masyarakat menghadapi masa pensiun masih menjadi tantangan. Sebanyak 82,96 persen rumah tangga lansia masih bergantung pada penghasilan anggota keluarga yang bekerja.
Temuan tersebut tercantum dalam riset DBS Foundation berjudul “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” Riset itu mencatat populasi lansia Indonesia mencapai 12 persen pada 2025 dan diproyeksikan menembus 20 persen pada 2045.
Sementara itu, Indonesia masih berada dalam periode bonus demografi. Pada 2025, sekitar 69 persen penduduk berada pada kelompok usia produktif 15–65 tahun. Namun, proporsi tersebut diperkirakan terus menurun seiring perubahan struktur penduduk.
Penurunan fertilitas menjadi salah satu faktor pendorong perubahan tersebut. Total Fertility Rate (TFR) turun dari 3,11 anak per perempuan pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024 dan diproyeksikan mencapai 1,97 pada 2045.
Jumlah pernikahan juga turun dari 2,01 juta pada 2018 menjadi 1,48 juta pada 2025. Struktur keluarga yang semakin kecil berpotensi mengurangi jumlah anggota keluarga usia produktif yang dapat berbagi tanggung jawab finansial dan perawatan orang tua.
Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap sandwich generation, yakni kelompok yang harus menanggung kebutuhan generasi anak sekaligus orang tua.
Riset juga menunjukkan 55,32 persen lansia masih bekerja. Sebanyak 84,75 persen lansia yang bekerja berada di sektor informal. Di tingkat nasional, 59,42 persen tenaga kerja juga berada di sektor informal yang umumnya memiliki pendapatan lebih rendah dan tidak menentu serta akses terbatas terhadap tunjangan ketenagakerjaan.
Selain ketergantungan terhadap keluarga, kesiapan pensiun juga masih menghadapi kesenjangan dalam pemanfaatan layanan keuangan.
Pada kelompok usia 18–50 tahun, inklusi keuangan telah mencapai 93,5–95,1 persen, sedangkan literasi keuangan berada pada kisaran 72,1–74,1 persen.
Namun, kepemilikan tabungan atau dana pensiun masih sebesar 5,37 persen. Padahal, pemahaman mengenai pentingnya dana pensiun telah mencapai 27,79 persen.
Akses layanan keuangan juga masih didominasi sektor perbankan sebesar 65,5 persen. Riset tersebut menilai kondisi ini menunjukkan akses keuangan belum otomatis berbanding lurus dengan kesiapan pensiun.
Riset DBS Foundation juga menyoroti pendidikan sebagai salah satu faktor yang memengaruhi peluang ekonomi pada masa depan. Rata-rata lama sekolah generasi saat ini sekitar sembilan tahun atau setara pendidikan SMP, sedangkan lansia saat ini rata-rata menempuh pendidikan selama enam tahun atau setara SD.
Persiapan Masa Tua Perlu Dimulai Sejak Usia Produkti
Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK, Woro Srihastuti Sulistyaningrum, mengatakan persiapan menghadapi masa tua perlu dilakukan sepanjang siklus kehidupan.“Kita perlu memastikan bahwa setiap tahapan kehidupan mendapat perhatian yang tepat, mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif, hingga memasuki usia lanjut,” ujar Woro merujuk keterangan resmi pada Jumat (18/9/2026).
Menurut Woro, pemerintah mengarahkan berbagai program untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus memenuhi kebutuhan masyarakat pada setiap fase kehidupan.
“Dengan pendekatan ini, kita tidak hanya mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi usia lanjut, tetapi juga membangun fondasi agar mereka dapat menjalani kehidupan yang sehat, produktif, dan sejahtera sejak dini,” katanya.
Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia, Mona Monika, mengatakan isu masyarakat menua berdampak terhadap seluruh generasi sehingga persiapannya perlu dilakukan sejak usia produktif.
“Ageing society merupakan isu penting bagi kami karena memiliki implikasi bagi seluruh generasi. Di DBS Foundation, kami percaya persiapan menghadapi populasi menua perlu dipersiapkan sejak usia produktif,” ujar Mona.
DBS Foundation, kata Mona, berkomitmen mendukung kesiapan masyarakat rentan melalui peningkatan akses pendidikan, kesehatan, ketenagakerjaan, literasi dan inklusi keuangan hingga persiapan pensiun.
“Kami ingin setiap orang dapat dapat menjalani proses menua dengan sehat, produktif, sejahtera, dan mandiri,” kata Mona.
Sebagai bagian dari kampanye “Pensiun Gak Susah”, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation juga menghadirkan *Retirement Goal Calculator* untuk membantu masyarakat memproyeksikan kebutuhan finansial berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran, gaya hidup, inflasi, dan asumsi imbal hasil investasi.
Riset “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?” disusun DBS Foundation bersama Tenggara Strategics sebagai knowledge partner.
Editor: Tim Media Service
Masuk tirto.id



































