Menuju konten utama

Perang Iran Belum Berakhir, Pasokan Minyak Dunia Kian Tertekan

Dalam 5 hari perdagangan terakhir, harga Brent telah naik lebih dari 7%, sedangkan WTI menguat lebih dari 8%.

Perang Iran Belum Berakhir, Pasokan Minyak Dunia Kian Tertekan
sambungan pipa di kilang minyak. foto/shutterstock
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Harga minyak relatif tidak banyak berubah pada perdagangan Jumat (21/8/2026), meski tetap berada di jalur kenaikan mingguan untuk pekan kedua berturut-turut. Kondisi ini terjadi karena perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang masih menemui jalan buntu terus mengganggu pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah yang merupakan salah satu pusat produksi minyak utama dunia.

Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 4 sen menjadi US$93,82 per barel pada pukul 01.42 waktu setempat, setelah menguat 2,4 persen pada perdagangan sebelumnya. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 6 sen menjadi US$86,78 per barel, setelah naik 2,3 persen pada sesi sebelumnya.

Dalam lima hari perdagangan terakhir, harga Brent telah naik lebih dari 7 persen, sedangkan WTI menguat lebih dari 8 persen. Keduanya mencapai level tertinggi sejak 24 Juli.

Kenaikan harga minyak terjadi di tengah kekhawatiran bahwa perang AS-Israel terhadap Iran yang belum menunjukkan titik penyelesaian akan menyebabkan gangguan pasokan terus berlanjut dari sejumlah negara produsen minyak utama, seperti Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait.

Kesepakatan damai yang sebelumnya dicapai antara kedua pihak berakhir pekan ini tanpa adanya upaya dari salah satu pihak untuk kembali membuka perundingan. Presiden AS Donald Trump juga mengancam akan memberikan sanksi ekonomi kepada negara-negara yang mendukung Iran.

"Kedua pihak masih bertahan pada posisi masing-masing, tetapi mereka tidak memiliki banyak waktu untuk terus menunggu. Kondisi ini terjadi di tengah harga minyak mentah yang terus bergerak naik tanpa henti," kata analis IG, Tony Sycamore, dikutip Reuters.

Pada Rabu malam, Trump mengancam akan melakukan "perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya" terhadap Teheran. Dia memperingatkan akan ada konsekuensi bagi negara mana pun yang memberikan "bantuan dalam bentuk apa pun kepada Iran".

Sementara itu, Uni Emirat Arab pada pekan ini menghentikan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga pemberitahuan lebih lanjut. Langkah tersebut menunjukkan semakin rumitnya hubungan antara salah satu produsen minyak utama negara-negara Arab di kawasan Teluk tersebut dengan Teheran.

Ribuan orang telah tewas dalam perang Iran yang dimulai pada 28 Februari, ketika AS dan Israel melancarkan serangan militer terhadap Iran. Sejak saat itu, blokade Iran terhadap Selat Hormuz serta serangan Iran terhadap fasilitas energi di berbagai wilayah Timur Tengah telah mengganggu arus perdagangan minyak dan gas global.

Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz pada Rabu tidak berubah dibandingkan hari sebelumnya, dengan hanya sembilan kapal yang melintas di jalur perairan tersebut. Jumlah itu jauh di bawah tingkat sebelum perang. Sebelum perang Iran berlangsung, sekitar seperlima dari konsumsi minyak global diangkut melalui Selat Hormuz.

Baca juga artikel terkait HARGA MINYAK DUNIA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi