Menuju konten utama

Apa Itu Etilen Oksida di Indomie Ayam Spesial, Bisa Picu Kanker?

Departemen kesehatan Taiwan menarik produk Indomie Ayam Spesial dari pasaran karena diduga mengandung  zat pemicu kanker etilen oksida.

Apa Itu Etilen Oksida di Indomie Ayam Spesial, Bisa Picu Kanker?
Ilustrasi mie instan. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Departemen kesehatan Taiwan menarik produk mi instan asal Indonesia, yaitu Indomie Ayam Spesial dari pasaran. Penarikan ini dilakukan karena mi instan tersebut mengandung zat pemicu kanker bernama etilen oksida (ethylene oxide).

Dikutip dari Focus Taiwan, otoritas setempat tidak hanya menemukan zat etilen oksida di dalam Indomie Ayam Spesial. Zat berbahaya serupa juga ditemukan dalam mi instan merek Mie Kari Putih Ah Lai dari Malaysia.

Temuan mi instan mengandung zat berbahaya ini terjadi setelah Divisi Obat dan Makanan Departemen Kesehatan Taipei melakukan pemeriksaan terhadap 30 produk.

Produk-produk tersebut diambil secara acak dari sejumlah supermarket, toko serba ada, pasar tradisional, hingga toko makanan Asia Tenggara.

Hasilnya, dikonfirmasi kedua jenis makanan asal Asia Tenggara itu mengandung zat beracun etilen oksida. Akibatnya, para distributor di Taiwan diminta untuk menarik kedua produk mi instan tersebut dari rak toko.

Sementara itu, pihak importir produk akan dikenai denda antara 60.000 - 200 juta dolar Taiwan atau sekitar Rp29 juta hingga Rp96,6 miliar.

Apa Itu Etilen Oksida di Indomie Ayam Spesial?

Etilen oksida adalah sebuah zat kimia yang berbahaya jika dihirup atau dikonsumsi. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) etilen oksida biasa ditemukan di kawasan industri dan sangat berbahaya jika terpapar pekerja.

Umumnya, etilen oksida ditemukan untuk membuat bahan antibeku, poliester, produk tekstil, deterjen, hingga busa poliuretan. Zat ini juga ditemukan dalam produk obat pestisida anti serangga dan zat pembersih peralatan medis.

Etilen oksida dalam bentuk gas memiliki sifat yang mudah terbakar. Kontaminasi zat etilen oksida biasanya ditandai dengan bau yang sedikit manis. Meskipun masih digunakan dalam beberapa industri, zat etilen oksida nyatanya sudah dilarang di beberapa negara.

Dikutip dari Safe Food, Uni Eropa bahkan sudah melarang penggunaan etilen oksida dalam produk industri dan pestisida sejak tahun 1991 karena sifatnya yang sangat beracun.

Merespons temuan tersebut, GM Corporate Relation Indofood, Stefanus Indrayana menyatakan, pihaknya masih terus mempelajari temuan tersebut. Dalam waktu dekat klarifikasi resmi akan dilakukan pihaknya.

"Kami update segera ya, saat ini sedang dipelajari," ujarnya saat dikonfirmasi Tirto, Rabu (26/4/2023).

Di sisi lain, Direktur Indofood Fransiscus (Franky) Welirang mengatakan, sejatinya produk mi instan yang diekspor perusahaannya sudah sesuai dengan ketentuan BPOM dan Badan Pengawas Makanan dan Obat dari negara tujuan.

"Pada prinsipnya kami mengikuti ketentuan BPOM dan ketentuan FDA dari negara-negara pengimpor produk kami," katanya terpisah.

Dampak Etilen Oksida, Benarkah Bisa Picu Kanker?

Faktanya etilen oksida merupakan zat karsinogenik atau zat berbahaya yang bisa picu kanker. Menurut US Environmental Protection Agency (EPA) etilen oksida dianggap meningkatkan risiko kanker limfoid bagi pria dan kanker payudara bagi wanita.

Etilen oksida bisa dengan mudah masuk dan merusak sel tubuh manusia melalui dua cara. Cara pertama adalah masuk ke sistem pernapasan karena gas etilen oksida terhirup saat bernapas.

Sedangkan cara lainnya tertelan di saluran pencernaan lewat makanan atau obat yang terkontaminasi. Penyakit kanker akibat paparan etilen oksida umumnya berlangsung dalam jangka panjang.

Sementara, dalam jangka pendek dampak paparan etilen oksida dapat menyebabkan masalah kesehatan lainnya, termasuk:

  • sakit kepala;
  • sakit perut;
  • muntah;
  • diare;
  • kesulitan bernapas;
  • ngantuk;
  • lemas dan kelelahan;
  • luka bakar pada mata dan kulit;
  • memperoleh radang dingin;
  • mengalami masalah reproduksi.

Baca juga artikel terkait ETILEN OKSIDA atau tulisan lainnya dari Yonada Nancy

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Yantina Debora