tirto.id - Bagi banyak orang, menggulir layar hingga jempol pegal untuk menonton video pendek dan mengikuti lini media sosial sudah jadi kebiasaan harian. Ledakan konten tak terkurasi memicu perilaku doomscrolling. Orang dewasa maupun anak-anak bisa scrolling tanpa henti berjam-jam, melahap konten yang sebagian besar tak berkualitas.
Secara global, menurut laporan Data Reportal pada 2024, rata-rata orang menghabiskan 6 jam 40 menit di depan layar per hari. Generasi Z bahkan menghabiskan sekitar 9 jam waktu layar per hari. Sejak 2013, rerata waktu layar harian pengguna internet terus meningkat lebih dari 30 menit.
Meskipun terkesan biasa, konsumsi konten digital berlebihan dapat mengganggu kesehatan mental. Paparan konten dangkal secara terus-menerus bahkan berisiko menurunkan kemampuan berpikir. Dampak ini populer dengan istilah pembusukan otak atau brain rot, yakni kemunduran kualitas intelektual akibat terlalu banyak konsumsi konten receh.
Istilah ‘brain rot’ pertama kali muncul pada 1854 di buku bertajuk Walden karya Henry David Thoreau. Dia memakai kata itu saat mengkritik kecenderungan masyarakat beralih pada hiburan dangkal yang merusak intelektualitas. Berkat percakapan Gen Z dan Alpha di media sosial, kata 'brain rot' kembali mencuat, meski kali ini merujuk pada dampak konten digital berkualitas rendah. Saking melejitnya, kata ini masuk kamus Oxford pada 2024, dengan definisi mirip di medsos.
Bagaimana Brain Rot Terjadi?
Brain rot sebenarnya bukan diagnosis resmi dari dunia medis. Namun, banyak ahli psikologi mengaitkannya dengan masalah kognitif dan kesehatan mental. Temuan yang ada pun menegaskan bahaya brain rot bukan isapan jempol.
Hal ini ditegaskan oleh laporan Laurie Ann Manwell dkk dalam International Journal of Mental Health and Addiction (2021). Hasil studinya menerangkan bahwa durasi menatap layar berlebih dapat berdampak negatif pada perkembangan saraf otak, kapasitas pembelajaran, memori, kesehatan mental, hingga peningkatan risiko penurunan kognitif dini. Semua itu merujuk pada kondisi yang kini lazim disebut brain rot.
Melalui tinjauan terhadap 44 laporan riset tentang kaitan waktu layar dan kesehatan mental dari 16 negara, studi itu menemukan pula pengaruh buruk dari pola penggunaan layar yang eksesif. Terlalu sering menggulir layar dan mengonsumsi konten dengan kecepatan tinggi, sambil mengerjakan banyak tugas, bisa membuat daya konsentrasi merosot. Kondisi saat seseorang terus-menerus diterpa berbagai hal sekaligus ini tidak hanya membuat kemampuan belajar dan mengingat menurun, tetapi juga memantik stres dan disregulasi emosional.
Kajian tim dari Fakultas Psikologi Universitas Wilfrid Laurier Kanada tersebut mengungkapkan pula sejumlah gejala umum brain rot, seperti gangguan konsentrasi secara konsisten, sering mengalami disorientasi, kesulitan mengingat hal-hal yang baru terjadi, perubahan kepribadian maupun kemampuan bersosialisasi, hingga penurunan kapasitas penalaran dan mengambil keputusan. Berbagai gejala itu bisa terjadi pada orang dari semua golongan usia.

Sebuah laporan studi dalam JurnalTranslational Psychiatry (2021) menjelaskan penyebab kecanduan smartphone berdampak buruk pada otak. Riset ini mengamati gangguan kontrol atensi pada 33 pengguna smartphone bermasalah. Hasilnya menunjukkan orang-orang yang kecanduan smartphone kerap kesulitan menuntaskan tugas yang butuh konsentrasi tinggi. Meski otak mereka sudah bekerja lebih keras, fokus masih sering buyar.
Penyebabnya karena bagian otak yang berfungsi membantu pikiran mereka fokus (lobulus parietal inferior) tidak bekerja efektif. Koneksi antar bagian otak - yang berperan mengalihkan perhatian dengan baik - juga lemah. Kondisi ini melatarbelakangi perilaku orang yang lebih mudah mengalami distraksi selepas memainkan ponsel pintar dalam waktu lama.
Bebas dari Brain Rot Tanpa Harus Buang Smartphone
Sekalipun nyaris tidak mungkin bebas sama sekali dari smartphone, ada banyak cara untuk terlepas dari bahaya brain rot. Mengutip dari Health, membatasi waktu layar adalah langkah awal agar bebas dari ancaman ini. Sesekali mengambil jeda dari perangkat digital, apalagi rutin melakukannya, akan memberi waktu otak untuk beristirahat. Membatasi waktu akses media sosial, menjadwalkan kegiatan berselancar, hingga mengaktifkan aplikasi produktivitas termasuk trik yang patut dicoba.
Rutin berolahraga bisa pula mempertebal jarak dengan ponsel. Berjalan kaki, bersepeda, atau berenang akan membantu meningkatkan aliran darah ke otak, mendukung kesehatan kognitif, sekaligus mengurangi tatapan pada layar. Selain itu, melatih mindfulness melalui meditasi atau teknik pernapasan dapat meningkatkan fokus dan mengurangi stres.
Membaca buku secara rutin kemungkinan besar juga menjadi 'obat' untuk brain rot. Melalui artikel di Journal of Cell Communication and Signaling (2017), Bernard Perbal memaparkan hasil studinya yang memperlihatkan bahwa membaca buku berguna meningkatkan fokus, pemahaman, dan kapasitas memahami ide-ide kompleks.
Penelitian lain di Jurnal Psicologia: Reflexão e Crítica (2022) bahkan mengaitkan aktivitas membaca buku dengan penguatan area otak yang mengolah bahasa dan imajinasi, sehingga dapat mencegah kemunduran fungsi kognitif. Semua manfaat itu berlawanan dengan gejala brain rot.
Cara lain menjauhi brain rot yang tidak kalah ampuh ialah bercakap-cakap langsung dengan kerabat, teman, atau komunitas baru. Terhubung dengan banyak orang memang lebih mudah secara online, tetapi pertemuan langsung bisa membawa komunikasi lebih mendalam. Singkatnya, ngobrol langsung berpotensi membangun koneksi emosi alih-alih isolasi seperti saat fokus menatap layar, demikian mengutip dari publikasi CDC, “Improving Social Connectedness.”
Jika banyak cara masih belum efektif menjauhkan tatapan mata pada layar ponsel, tidur adalah senjata pamungkas. Sebaiknya jangan remehkan 'kekuatan' tidur.
Artikel "Memory and Sleep: How Sleep Cognition Can Change the Waking Mind for the Better" dalam Jurnal Annual Review of Psychology (2021) memuat hasil studi yang menegaskan manfaat tidur bagi konsolidasi memori. Tidur dapat memberikan waktu pada otak untuk memproses informasi saat terjaga agar tersimpan lebih lama. Berbagai temuan dalam kajian ini meyakinkan bahwa tidur dalam waktu cukup akan meningkatkan kinerja kognitif saat terjaga.
Editor: Addi M Idhom
Masuk tirto.id
































