Menuju konten utama

Amran Catat 107,4 Ribu Hektare Sawah Rusak Imbas Bencana Sumatra

Mentan Amran menyebut angka kematian hewan ternak di ketiga provinsi terdampak bencana Sumatra juga tembus mencapai 824.991 ternak.

Amran Catat 107,4 Ribu Hektare Sawah Rusak Imbas Bencana Sumatra
Menteri Pertanian Amran Sulaiman (tengah) bersama Menteri Perikanan dan Kelautan Sakti Wahyu Trenggono (kiri), dan Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (kanan) menyampaikan paparan saat rapat kerja dengan Komisi IV DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (14/1/2026). Rapat tersebut membahas upaya pemerintah dalam pemulihan pascabencana pada sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan di daerah terdampak. ANTARA FOTO/Asprilla Dwi Adha/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengungkap dampak dari bencana banjir bandang yang melanda Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh terhadap sektor pertanian di wilayah tersebut.

Bencana hidrometeorologi yang menerjang pada akhir November 2025 lalu itu meninggalkan jejak kerusakan masif yang melumpuhkan mata pencaharian ribuan petani dan peternak setempat. Dalam Rapat Kerja bersama Komisi IV DPR RI pada Rabu (14/1/2026), Amran melaporkan skala kerusakan yang terjadi sangat signifikan.

Berdasarkan data yang didapat kementeriannya per 13 Januari 2026, menunjukkan lahan sawah masyarakat hancur dengan klasifikasi kerusakan yang beragam.

“Sawah yang terdampak bencana di ketiga provinsi mencapai 107,4 ribu hektare yang terdiri atas sawah rusak ringan 56,1 ribu hektare, rusak sedang 22,2 ribu hektare, rusak berat 29,1 ribu hektare,” papar Amran dalam rapat di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (14/1/2026).

Amran mengatakan, kondisi ini diperparah dengan tingginya angka gagal panen atau puso. Berdasarkan paparannya, luas areal tanaman padi dan jagung yang mengalami puso gagal panen mencapai 44,6 ribu hektare. Tidak hanya sektor tanaman pangan, komoditas perkebunan seperti kopi, kakao, dan kelapa juga terdampak seluas 29,3 ribu hektare, disusul lahan hortikultura atau sayuran dan buah sebesar 1.800 hektaree.

Tak hanya itu, sektor peternakan juga berdampak. Amran menyebut angka kematian hewan ternak di ketiga provinsi terdampak bencana melambung tinggi mencapai angka yang fantastis, yakni 824.991 ternak.

“Jumlah ternak mati hilang untuk jenis ternak sapi, kerbau, kambing, domba, unggas mencapai lebih 820 ribu ekor,” ucap Amran.

Amran menekankan kehilangan ini bukan sekadar angka statistik, melainkan hilangnya aset modal bagi masyarakat pedesaan di wilayah terdampak. Kerusakan ini, lanjutnya, kian sistemik karena turut menghancurkan infrastruktur penunjang pertanian di wilayah terdampak.

Kementerian Pertanian (Kementan) mencatat sebanyak 58 unit Rumah Potong Hewan (RPH) rusak, 74 unit Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) hancur, dan 2.300 unit alat mesin pertanian atau alsintan hilang tersapu bencana.

Infrastruktur pengairan juga tak luput dari kerusakan. Amran menyebutkan ada 3 unit bendungan yang rusak, 152 kilometer irigasi yang hancur, serta 820 unit jalan produksi yang kini tak lagi bisa dilalui.

“Tentu data dampak kerusakan di sektor pertanian ini bersifat dinamis dan terus kami perbarui setiap harinya melalui koordinasi intensif antara unit Eselon 1 lingkup Kementerian Pertanian dengan dinas lingkup pertanian provinsi di ketiga wilayah terdampak,” ucap Amran.

Baca juga artikel terkait BENCANA ALAM atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Insider
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher