tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengakui perang yang dipicu oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran berpotensi menyulitkan pemerintah mempertahankan defisit anggaran di level 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Keuangan Negara.
Bahkan, dalam skenario terburuk yang telah dihitung pemerintah, defisit anggaran bisa melebar hingga 4,06 persen.
Menurut Airlangga, skenario tersebut dihitung dengan asumsi harga minyak mentah dunia mencapai 115 dolar AS per barel, dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp17.500. Selain itu, skenario tersebut juga memperhitungkan pertumbuhan ekonomi di level 5,2 persen serta imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) sebesar 7,2 persen.
"Nah kemudian kalau skenario terburuk yang pesimis itu dengan harga 115 dolar AS per barel, kurs rupiah kita Rp17.500, growth-nya 5,2 persen, surat berharganya 7,2, defisitnya 4,06 persen. Jadi, artinya dengan berbagai skenario ini, defisit yang 3 persen itu sulit kita pertahankan," ungkapnya dalam sidang kabinet di Istana Negara, Jakarta Pusat, Jumat (13/3/2026).
Meski demikian, Airlangga menilai potensi pelebaran defisit tersebut masih dapat diantisipasi melalui penyesuaian belanja negara maupun revisi target pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa skenario terburuk tersebut dihitung berdasarkan sejumlah kemungkinan durasi konflik, mulai dari perang yang berlangsung selama lima bulan, enam bulan, hingga sepuluh bulan. Dalam simulasi tersebut, harga minyak diperkirakan dapat meningkat hingga 107 dolar AS per barel dalam enam bulan pertama.
"Kemudian yang 10 bulan itu menaik sampai 130, sampai akhir Desember 125," imbuhnya.
Jika menilik realisasi pembelian minyak mentah, pada Januari–Februari Indonesia telah melakukan pembelian dengan harga di kisaran 64,41 dolar AS per barel dan 68,79 dolar AS per barel. Realisasi ini masih berada di bawah asumsi harga minyak dalam APBN 2026 yang sebesar 70 dolar AS per barel.
"Nah kalau kita buat skenario yang tadi 6 bulan, itu kita rata-rata menjadi 90 dolar per barel. Kemudian yang 5 bulan, yang 6 bulan 97, dan 10 bulan 115 Pak Presiden," papar Airlangga.
"Nah kalau ini kita masukkan terhadap APBN kita Pak yang sekarang, ini skenario pertama ICP-nya di 86 (dolar AS per barel), kursnya di Rp17.000 Pak. APBN kita kursnya Rp16.500, kemudian dengan growth kita pertahankan Pak. Jadi ini yang kita pertahankan growth di 5,3. Surat berharga negaranya angkanya lebih tinggi Pak, 6,8 persen maka defisitnya adalah 3,18 persen," lanjut Airlangga memaparkan skenario yang lebih baik.
Dalam skenario moderat, dengan harga minyak di level 97 dolar AS per barel, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sebesar Rp17.300, pertumbuhan ekonomi di level 5,2 persen, serta imbal hasil SBN di 7,2 persen, defisit anggaran diperkirakan mencapai 3,53 persen.
"Nah ini beberapa skenario yang mungkin perlu kita rapatkan secara terbatas," tutup Airlangga.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id


































