tirto.id - Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengeklaim pemerintah telah menyiapkan langkah untuk memitigasi dampak konflik geopolitik dunia yang berkepanjangan. Salah satu langkahnya, mengalokasikan anggaran pendapatan dan belanja nasional (APBN) sebagai bufer untuk meredam kenaikan harga imbas konflik geopolitik tersebut.
"APBN itu sebagai bufer untuk meredam fluktuasi harga," tuturnya di Menara Batavia, Jakarta Selatan, Kamis (5/3/2026).
Ia mengatakan, Pemerintah RI pernah melakukan hal serupa ketika geopolitik dunia sebelumnya bergejolak, yakni saat Rusia mengalami konflik dengan Ukraina. Kala itu, harga minyak dan harga komoditas mengalami lonjakan.
Airlangga menyebutkan, Pemerintah RI kala itu menggunakan APBN untuk tetap menyalurkan subsidi bahan bakar minyak (BBM).
"Kita kan pernah mengalami pada saat perang Ukraine. Pada saat itu harga minyak naik tinggi, dan harga komoditas naik tinggi. Bagi Indonesia kan dua sisi. Di satu sisi tentu yang terkait dengan subsidi kita jaga, dan pemerintah kemarin sudah siapkan bahwa subsidi akan lanjutkan," urainya.
Dalam kesempatan itu, ia mengaku tetap mendukung pelaksanaan program makan bergizi gratis (MBG). Padahal, program itu membutuhkan ratusan triliun agar dapat terus beroperasi.
Selain itu, penerapan MBG juga menjadi sorotan lembaga pemeringkat Fitch Ratings. Airlangga menyebutkan, investasi 1 dolar Amerika Serikat (AS) dapat menjadi 7 dolar AS.
"MBG itu kan kalau beberapa studi dari World Bank maupun dari Rockefeller Foundation, itu dengan pelaksanaan MBG yang masif dan baik, itu investasi 1 dolar itu menghasilkan 7 dolar," ucapnya.
"Jadi itu adalah sebuah investasi. Dan banyak negara melakukan itu. Bahkan Amerika pun melakukan itu. Sehingga ini adalah tantangan long term dan medium term. Yang tidak bisa, kita menghilangkan long term hanya untuk short term," sambung Airlangga.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id



































