Menuju konten utama

Airlangga Akui Pemerintah Minim Serap Dana JETP, Baru Pakai 18%

Pemanfaatan dana Just Energy Transition Partnership (JETP) Indonesia baru sekitar 3,93 miliar dolar AS dari total komitmen sebesar 21,4 miliar dolar AS.

Airlangga Akui Pemerintah Minim Serap Dana JETP, Baru Pakai 18%
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan pers terkait pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026 di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Rabu (5/8/2026). ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengakui realisasi pemanfaatan komitmen pembiayaan dalam skema Just Energy Transition Partnership (JETP) Indonesia masih cukup rendah. Dari komitmen sebesar 21,4 miliar dolar Amerika Serikat (AS), Indonesia baru memanfaatkan sekitar 3,93 miliar dolar AS atau setara 18,3 persen.

“Program JETP yang diluncurkan saat Indonesia memegang presidensi G20. Indonesia memiliki alokasi dana sekitar 21 miliar dolar AS lebih, namun perkembangannya agak lambat; sejauh ini baru sekitar 4 miliar dolar AS yang telah dimanfaatkan,” jelasnya dalam konferensi pers di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Kamis (20/8/2026).

Karenanya, untuk meningkatkan realisasi serapan pembiayaan JETP, Indonesia akan mengadakan rapat lanjutan dengan Jerman. Pada pertemuan tersebut, kedua negara direncanakan akan membahas kerja sama proyek-proyek energi hijau apa saja yang bisa ditingkatkan.

“Dan tadi disampaikan kepada Menteri Commerce bahwa kita akan ada rapat untuk terus, bagaimana kita bisa meningkatkan proyek-proyek green energy ini,” ujar Airlangga.

Menurut Airlangga, lambatnya realisasi pemanfaatan dana JETP tersebut dipengaruhi oleh ekosistem pembiayaan, utamanya terkait power purchase agreement:perjanjian pembelian tenaga listrik (PPA), dan lainnya.

Untuk bisa mendapatkan akses pembiayaan termasuk juga dari bank asal Jerman, Kreditanstalt für Wiederaufbau (KfW) yang fokus pada pendanaan pada proyek infrastruktur hijau, energi terbarukan, transisi energi berkeadilan, dan pembangunan berkelanjutan di berbagai negara berkembang.

“Kita perlu bergerak lebih cepat. Kami menyadari adanya tantangan di kedua bidang tersebut, namun hal ini merupakan langkah yang sangat diharapkan oleh Indonesia. Terkait pembiayaan, Indonesia memiliki pengalaman kerja sama dengan KfW; biasanya, untuk sektor swasta, KfW dapat menyediakan pembiayaan bagi pengadaan barang modal,” jelas Airlangga.

Dukungan untuk mempercepat realisasi pemanfaatan dana JETP datang dari Menteri Federal untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan Jerman, Reem Alabali Radovan. Dukungan tersebut akan dilakukan melalui kemitraan strategis antara Indonesia dan Jerman, khususnya di bidang energi terbarukan.

“Kami ingin mendukung Indonesia dan negara-negara lain dalam membuka jalan bagi energi terbarukan, dan tentu saja kami ingin menciptakan situasi yang saling menguntungkan (win-win) bagi semua pihak. Tentu saja, kami menginginkan hasil yang positif bagi iklim—yakni upaya mengatasi perubahan iklim—serta keuntungan bagi perusahaan-perusahaan Indonesia maupun Jerman,” jelas Radovan.

Baca juga artikel terkait LATEST NEWS atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana