Menuju konten utama

Ada Perang Iran, Ini Tips Keuangan Kelas Menengah Jelang Lebaran

Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho, memberi tips pengelolaan keuangan bagi kelas menengah di tengah ketidakpastian geopolitik.

Ada Perang Iran, Ini Tips Keuangan Kelas Menengah Jelang Lebaran
Ilustrasi mengatur keuangan. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran membuat ketidakpastian di pasar keuangan global semakin meningkat. Bahkan, Presiden Prabowo Subianto mengakui, kendati secara geografis Indonesia cukup jauh dari Iran, konflik yang kini memasuki pekan kedua membuat Indonesia tidak terelakkan dari 'kesulitan'.

Di dalam negeri, konflik AS-Israel dan Iran yang membuat lonjakan harga minyak mentah dunia, dapat mengerek angka inflasi. Sebab, jika akhirnya kondisi tersebut memaksa pemerintah menaikkan harga BBM non-subsidi , dampaknya akan merembet pada harga barang kebutuhan pokok hingga jasa transportasi.

Di sisi lain, konflik juga membuat rantai pasokan dan ekspor terganggu. Akibatnya, permintaan ekspor untuk komoditas tertentu ke Kawasan konflik atau negara tujuan yang harus melewati Kawasan konflik turut mengalami penurunan. Pada gilirannya, banyak industri yang akan mengurangi produksi dan berujung pada efisiensi.

Lantas, bagi kelas menengah, bagaimana sebaiknya mengelola keuangan jelang Lebaran di tengah ancaman tersebut? Berikut sejumlah tips dari Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE), Andy Nugroho.

Belanja Lebih Bijak

Menurut Andy, ketidakpastian geopolitik akibat perang di Timur Tengah akan mendorong investor untuk lebih memilih aset safe haven seperti emas atau dolar AS.

Kondisi ini, dapat menyebabkan aliran modal keluar Indonesia dan menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Dengan berbagai ketidakpastian tersebut, Andy menyarankan masyarakat, utamanya kelas menengah ke bawah, untuk membelanjakan uang dengan lebih bijak dan hati-hati.

"Beli hanya hal-hal yang penting dan urgent bagi kita, bukan yang bersifat konsumtif," kata Andi kepada Tirto, dikutip Selasa (10/3/2026).

Jikapun belanja tidak bisa dikurangi, ia menyarnkan agar masyarakat turut meningkatkan pendapatan di luar gaji rutin yang ada sekarang. "Berusaha untuk bisa mendapatkan income tambahan entah itu dari investasi, kerja sampingan, atau mulai merintis bisnis," tutup Andy.

Jangan Tambah Utang

Selain itu, masyarakat juga tidak disarankan untuk menambah utang baru. Hal ini penting sebab, kerap kali, orang mengambil jalan pintas dengan menarik utang melalui berbagai kanal, baik itu perbankan, pinjaman online hingga kerabat atau teman.

Namun, jika sudah terlanjur berhutang, Andy menyarankan agar pendapatan difokuskan saja untuk mengurangi beban utang yang telah ditarik hingga lunas.

Tentu, dalam beberapa kondisi, hal ini mungkin saja memberatkan. Namun, Andy menekankan pentingnya "mengencangkan ikat pinggang" demi ketahanan finansial.

10% Pendapatan untuk Dana Darurat

Saran lainnya adalah menyusuhkan sebagian pendapatan rutin untuk tabungan dan dana darurat. Minimal, menurut Andi, 10 persen dari total gaji atau pendapatan harus diamankan terlebih dahulu sebelum melakukan perencanaan pengeluaran.

Bahkan, jika memungkinkan, pengelolaan dana darurat dan tabungan tidak disatukan. Tujuannya, untuk tetap menjaga keberlanjutan finanasial dalam jangka pendek, menengah hingga panjang jika kondisi buruk terjadi di masa depan.

Jika dana darurat habis dan krisis masih berlangsung, misalnya, tabungan masih bisa menjadi penyangga (buffer) untuk bertahan.

Instrumen Investasi Rendah Risiko

Terakhir, Andy menyarankan agar masyarakan memprioritaskan investasi pada instrumen dengan risiko rendah atau sedang, dibandingkan dengan yang risiko tinggi.

Di tengah kondisi seperti ini, menurutnya, emas, reksadana pasar uang, deposito berjangka, hingga obligasi atau surat utang pemerintah menjadi instrumen investasi yang bisa dipilih.

Ia juga meningatkan bahwa dalam berinvestasi, uang yang digunakan haruslah uang dingin atau idle cash.

Siapkan Cukup Cash

Tidak kalah penting, masyarakat juga sebisa mungkin memberikan porsi lebih banyak berupa uang cash ataupun investasi yang mudah dicairkan. Tujuannya, tak lain sebagai antisipasi jika sewaktu-waktu kondisi makin memburuk.

Apalagi, krisis geopolitik bisa turut merembet ke pasar keuangan dan meningkatkan risiko berbagai jenis investasi, bahkan yang aman sekalipun.

"Maka kita tidak kehilangan banyak investasi kita karena dengan mudah dapat dicairkan kembali dan dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari kita," tuturnya.

Baca juga artikel terkait KELAS MENENGAH atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Hendra Friana