tirto.id -
Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa tekanan ekonomi tak hanya dirasakan oleh pengangguran atau kelas bawah, melainkan juga para pekerja yang penghasilannya tergerus.
"Artinya, bukan hanya orang yang benar-benar tadinya tidak bekerja. Orang yang tadinya bekerja pun, pekerjaannya jadi susah," ujar Darmin di Bursa Efek Indonesia, Jakarta (28/7/2025).
Eks Gubernur BI tersebut juga menyoroti fenomena pemutusan hubungan kerja yang terjadi di mana-mana dan masyarakat yang kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam hematnya, masalah ini bukan muncul tiba-tiba, melainkan akibat tumpukan persoalan struktural.
"Ini situasi yang akumulasi dari proses yang udah panjang. Enggak bisa dianggap itu karena situasi sekarang. Itu akumulasi dari kekurangberhasilan kita menyelesaikan persoalan-persoalan kita," tegasnya.
Ia juga mengkritik paradigma bantuan sosial pemerintah yang hanya fokus pada masyarakat miskin, sementara kelas menengah yang terhimpit kerap terabaikan.
"Memang, terus terang, itu ada di luar paradigma bantuan sosial kita. Bantuan sosial kita itu untuk orang miskin," jelas Darmin.
Sebagai informasi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), kelas menengah Indonesia pada 2019 mencapai 57,33 juta dan mengalami penurunan di 2021 hingga menjadi 47,85 juta jiwa.
Penurunan tersebut membuat populasi kelas menengah di Indonesia yang tadinya mencapai 21,5 persen pada 2019, turun menjadi 17,1 persen pada 2024.
Penurunan kelas menengah menjadi sinyal alarm bagi pemulihan ekonomi Indonesia. Tanpa intervensi kebijakan yang tepat, kelompok ini dikhawatirkan semakin tergerus, memperlebar ketimpangan sosial.
“Artinya, apa, mau tidak mau ini adalah situasi yang memang cukup (menantang),” tuturnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id






































