Menuju konten utama

Ada IEU-CEPA, Bos Pan Brothers Sebut Uniqlo Cs Mau Kerek Pesanan

Ratifikasi IEU-CEPA disebut memberi keunggulan kompetitif baru bagi industri padat karya nasional, khususnya tekstil dan garmen.

Ada IEU-CEPA, Bos Pan Brothers Sebut Uniqlo Cs Mau Kerek Pesanan
PT Pan Brothers Tbk (PBRX). foto/pan brother
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Direktur Utama PT Pan Brothers Tbk (PRBX), Anne Patricia Sutanto, mengungkapkan bahwa sejumlah merek global mulai mengantre untuk meningkatkan kapasitas produksinya di Indonesia menyusul kesepakatan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Uni Eropa (IEU-CEPA).

"Saya harapkan kita mulai bersiap sekarang, karena political will from both government (Indonesia-Uni Eropa) are secured dan we have to trust our government bahwa ease of doing business harus kita kawal. And my believe if government it's committed I think the growth it's not a dream. Sekarang banyak brand global Brand itu sudah mulai lining up the capacity to us," ujarnya dalam diskusi publik yang digelar Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, Senin (4/8/2025).

Anne menyebut ratifikasi IEU-CEPA memberi keunggulan kompetitif baru bagi industri padat karya nasional, khususnya tekstil dan garmen, yang selama ini bersaing dengan negara-negara ASEAN dan Asia Selatan yang telah lebih dulu memiliki perjanjian dagang dengan Uni Eropa.

"Ini adalah negara-negara yang punya GSP Plus dan juga negara-negara yang sudah punya free trade agreement dengan Uni Eropa dalam hal ini, saya ngomong langsung blak-blakan, adalah Vietnam, dan GSP Plus adalah kamboja dan juga Bangladesh," imbuhnya.

Anne mengatakan, Indonesia sebelumnya masih dikenakan tarif dan bea masuk dalam ekspor produk tekstil ke Uni Eropa. Namun, dengan IEU-CEPA, pelaku industri seperti Pan Brothers berpeluang menikmati tarif nol persen, yang membuat produk dalam negeri lebih kompetitif di pasar Eropa. "Market kita ekspor ke Eropa itu 15 persen dari perusahaan saya. Dan itu FOB yang masih kena duty. Bayangkan kalau itu jadi nol," ujarnya.

Meski demikian, Anne menekankan pentingnya pembenahan internal agar pelaku industri dalam negeri bisa benar-benar memanfaatkan momentum ini. Salah satu hal yang krusial adalah konsistensi pemerintah dalam mendorong kemudahan berusaha (ease of doing business) dan efisiensi birokrasi.

"Kita harus memastikan secara internal, ease of doing business Indonesia harus at least sejajar dengan negara yang paling efisien di ASEAN. Dan kita tahu negara itu adalah Singapura," kata Anne.

Ia juga mendorong pemerintah untuk terus menjaga komitmen dalam menciptakan iklim usaha yang sehat agar pelaku industri dan investor lokal terdorong melakukan ekspansi kapasitas produksi. “Begitu deregulasi dan kemudahan investasi benar-benar terasa, maka pertumbuhan bukan lagi mimpi,” ujarnya.

Baca juga artikel terkait TEKSTIL atau tulisan lainnya dari Hendra Friana

tirto.id - Insider
Penulis: Hendra Friana
Editor: Dwi Aditya Putra