tirto.id - Muncul beragam pemberitaan di Sudan yang mengisahkan krisis kemanusiaan terburuk di dunia saat ini. Benarkah terjadi perang saudara di daerah tersebut dan apa sebabnya?
Sudan adalah sebuah negara di yang terletak di Timur Laut Afrika. Negara ini berbatasan langsung dengan beberapa negara lain seperti Mesir di utara, Laut Merah di timur laut, Eritrea di bagian timur, Ethiopia di tenggara, Afrika Tengah di barat daya, Chad di barat, Libya di barat laut, dan Sudan Selatan di bagian selatan.
Ada Apa dengan Sudan Terkini & Benarkah Perang Saudara?
Seperti dilaporkan Al Jazeera, di Sudan sejak April 2023 terjadi perang saudara antara dua kekuatan utama yakni SAF (Sudanese Armed Forces) atau Tentara Nasional Sudan yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Burhan dengan RSF (Rapid Support Forces), pasukan paramiliter yang dipimpin oleh Mohammed Hamdan Dagalo, dikenal sebagai Hemedti.
Konflik ini berawal dari perselisihan kekuasaan dan rencana integrasi RSF ke dalam militer nasional (SAF). Akibat perbedaan pandangan di antara dua kubu ini, maka pecahlah perang besar yang terjadi di semua bagian di negara tersebut.
Setelah dua tahun lebih perang saudara, pada Minggu, 26 Oktober 2025, RSF dilaporkan berhasil merebut El-Fasher, ibu kota negara bagian Darfur Utara. Kemenangan RSF ini mereka raih setelah pengepungan selama 18 bulan terhadap sekitar 1,2 juta penduduk.
Yang menjadi sorotan dunia adalah selama pengepungan itu, RSF diduga telah memblokade total akses makanan, air, dan obat-obatan. Tentu apa yang dilakukan RSF ini menyebabkan penderitaan massal bagi penduduk Darfur Utara.
SAF menambahkan jika diperkirakan sekitar 2.000 orang tewas dalam pengepungan RSF itu. Tak jauh berbeda dengan kalkulasi SAF, Jaringan Dokter Sudan (Sudan Doctors Network) juga memperkirakan sedikitnya 1.500 orang telah menjadi korban jiwa.
Tak hanya melakukan blokade terhadap akses makanan, air, dan obat-obatan, RSF juga diduga telah melakukan pembunuhan massal dan kekerasan terhadap warga sipil.
PBB dan organisasi HAM Sudan melaporkan adanya pembunuhan berdasarkan etnis, terutama terhadap kelompok non-Arab. Selain itu, RSF juga dilaporkan telah menyerang rumah sakit, termasuk Rumah Sakit Saudi di El-Fasher yang mengakibatkan ratusan orang tewas termasuk pasien dan tenaga medis.
PBB dan IOM mencatat lebih dari 26.000 orang melarikan diri dari El-Fasher dalam dua hari setelah kota dikuasai RSF. Sebagian besar mereka memilih pergi dengan berjalan kaki menuju Tawila yang berjarak 70 km.
Saat ini diperkirakan masih ada sekitar 177.000 warga yang terperangkap di dalam kota tanpa bantuan kemanusiaan.
Selain di El-Fasher, kekerasan juga dilaporkan di Bara, wilayah di negara bagian Kordofan Utara, yang baru-baru ini direbut RSF. Di sana, lima relawan Palang Merah Sudan dilaporkan tewas dan tiga lainnya hilang.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id




























