tirto.id - Sudan kembali jadi pusat perhatian dunia setelah laporan kekerasan massal mengguncang wilayah Darfur. Di balik rentetan konflik dan kekacauan itu, nama Rapid Support Forces (RSF) kembali mencuat. Pasukan paramiliter ini kini berdiri di jantung krisis, membawa bayang-bayang kekerasan yang terus menghantui negeri itu.
Pertarungan antara RSF dan militer Sudan bukan sekadar perebutan senjata, melainkan perebutan arah masa depan negara. Sejak perang saudara pecah, kedua kubu saling menuding sambil memperluas wilayah dan kekuasaan. Akibatnya, jutaan warga sipil terjebak di tengah perebutan pengaruh yang kian brutal.
RSF dikenal bukan hanya karena kekuatan tempurnya, tetapi juga karena sejarah panjangnya yang berkelindan dengan kekuasaan politik di Sudan. Dari milisi lokal hingga pasukan elite, kelompok ini tumbuh di bawah naungan rezim lama dan perlahan berubah menjadi kekuatan otonom. Kini, RSF tak lagi sekadar alat militer, mereka menjelma menjadi aktor politik yang menentukan arah konflik.
Arti RSF Sudan, Sejarah, Kekuatan, Anggota, & Pemimpinnya Kini
Rapid Support Forces (RSF) atau Pasukan Dukungan Cepat kini menjadi nama yang paling sering disebut ketika berbicara tentang krisis Sudan. Kelompok paramiliter ini lahir dari dinamika kekuasaan dan perang internal yang tak kunjung berakhir. Di balik seragam dan senjatanya, RSF menyimpan sejarah kelam yang berakar pada kekerasan etnis dan politik sejak awal 2000-an.
RSF pertama kali dibentuk secara resmi pada 2013 di bawah pemerintahan Omar al-Bashir. Tujuannya untuk mengintegrasikan milisi Janjaweed, kelompok bersenjata yang terkenal brutal di Darfur, ke dalam struktur negara. Namun, langkah itu justru melahirkan kekuatan baru yang sulit dikendalikan bahkan oleh pemerintah sendiri.
Menurut Al Jazeera, pasukan paramiliter itu berasal dari milisi Janjaweed yang terkait dengan pemerintah. Janjaweed dikenal karena perannya dalam menumpas pemberontakan di Darfur dengan cara-cara ekstrem. Amerika Serikat juga menyatakan bahwa RSF dan sekutunya telah melakukan genosida dalam perang saat ini.
Desa-desa dibakar, warga non-Arab dibunuh, dan ribuan perempuan menjadi korban pemerkosaan massal. Dari pengalaman inilah RSF mewarisi reputasi sebagai pasukan yang bertindak di luar kendali hukum dan kemanusiaan.
Seiring waktu, RSF berkembang menjadi kekuatan bersenjata dengan struktur yang mapan dan pembiayaan mandiri. Mereka menguasai tambang emas, jalur perdagangan lintas perbatasan, serta menjalin hubungan dengan negara-negara Teluk. Sumber daya ini menjadikan mereka tidak hanya pasukan perang, tetapi juga pemain ekonomi yang kuat.
Jumlah personel RSF diperkirakan mencapai puluhan ribu, sebagian besar berasal dari komunitas Arab nomaden di barat dan utara Sudan. Loyalitas para anggota sering kali lebih terikat pada suku dan komandannya dibanding kepada negara. Kombinasi ini membuat RSF memiliki fleksibilitas tempur tinggi sekaligus daya kontrol sosial di wilayah kekuasaannya.
Melansir Reuters, Mohamed Hamdan Dagalo, atau Hemedti, memimpin RSF dan menjadi jenderal paling berpengaruh di Sudan. Di bawah kepemimpinannya, RSF berubah dari pasukan lapangan menjadi kekuatan politik yang menantang militer nasional. Hemedti memanfaatkan jaringan bisnis dan diplomatik untuk memperkuat pengaruhnya di dalam dan luar negeri.
Namun, kekuasaan itu diwarnai tudingan kejahatan perang dan genosida. Laporan-laporan dari PBB, Human Rights Watch, hingga lembaga riset independen menggambarkan pola kekerasan sistematis terhadap warga sipil di Darfur dan Kordofan. Pembantaian di El-Fasher dan Bara menjadi contoh terbaru dari brutalitas yang melekat pada nama RSF.
Kini, setelah menguasai sebagian besar wilayah Darfur, RSF berusaha memproyeksikan diri sebagai kekuatan politik sah melalui pembentukan “Pemerintahan Perdamaian dan Persatuan.”
Dunia internasional menilai langkah itu sebagai upaya meraih legitimasi di tengah tuduhan kekejaman yang belum terselesaikan. Di mata banyak warga Sudan, RSF bukan sekadar pasukan, mereka adalah simbol dari kekuasaan yang lahir dari kekerasan dan terus memeliharanya.
Pembaca yang ingin mengikuti informasi seputar Sudan dapat klik tautan di bawah ini.
Penulis: Satrio Dwi Haryono
Editor: Indyra Yasmin
Masuk tirto.id





























