tirto.id - Di sudut kafe riuh di Amman, atau ruang tamu temaram di Kairo, begitu siaran berita memotong hiburan, suasana mendadak hening. Layar menampilkan sosok berkeffiyeh merah, wajah tertutup, hanya mata tajam yang menatap kamera, seolah berbicara langsung pada jutaan penonton.
Ribuan jejak digital merekamnya. Seorang balita berlari ke televisi lalu mengecup layar, seakan menyapa paman yang lama tak pulang. Tidak ada takut, hanya keakraban. Adegan serupa muncul di lain tempat. Seorang pekerja bangunan disapa oleh anak kecil dengan panggilan “Obaida! Obaida! Obaida!” berkali-kali, hanya karena menutupi wajahnya dengan keffiyeh.
Warsa 2004, sosok itu hanyalah remaja kurus di Gaza, tanpa penutup wajah, tanpa seragam. Ia hanya pemuda biasa, berbicara penuh semangat di tengah debu jalanan. Lalu, publik kemudian melihatnya sebagai juru bicara ulung. Ia menukar masa mudanya dengan senapan dan mikrofon.
Inilah kisah Hudhayfah Samir Abdallah Al-Kahlout alias Abu Ubaida, Abu Obeida atau Abu Obaida, corong lisan Brigade Izzudin al-Qassam, sayap militer kelompok perlawanan Hamas. Kematian raganya justru menandai lahirnya keabadian simboliknya.
Pena di Antara Reruntuhan
Setiap kisah tentang Gaza kerap berangkat dari peta kehilangan, warisan mental yang turun dari generasi ke generasi. Keluarga Hudhayfah Samir Abdallah Al-Kahlout berasal dari Desa Ni'ilya, sebuah desa di Palestina yang terhapus sejak 1948. Bagi mereka, seperti ribuan pengungsi lain, “rumah” hanyalah konsep abstrak.
Realitas yang membentuk Hudhayfah adalah Kamp Pengungsi Jabalia, sebuah kawah candradimuka. Kepadatan ekstrem, lorong sempit lembap, dinding beton penuh grafiti perlawanan, semua menciptakan ekosistem sosial khas.
Di sanalah Hudhayfah lahir pada 11 Februari 1985, tumbuh di bawah bayang konflik. Masa kecilnya diiringi deru patroli dan sirene, suara yang menjadi pengantar tidur anak-anak kamp. Tumbuh di Jabalia pada '80-an dan '90-an berarti menyaksikan langsung Intifada Pertama. Dari situ ia mengenal solidaritas, kewaspadaan, dan resistensi sebagai cara mempertahankan martabat.
Namun, Hudhayfah tidak mengikuti tren pemuda kamp Palestina yang hanya mengenal batu dan ketapel. Di tengah blokade mencekik dan kerapuhan ekonomi, Hudhayfah Al-Kahlout tetap menekuni jalur akademik, dengan mendaftar di Universitas Islam Gaza, sebuah kampus yang kerap menjadi pusat diskursus intelektual dan politik. Di ruang kuliah itu, Hudhayfah menempa pikirannya. Ia enggan membiarkan deru perang mematikan nalar kritisnya.
Pada 2013--tahun penuh gejolak di Timur Tengah--ia meraih gelar Magister Studi Islam (Usul al-Din). Dalam tesisnya, ia menulis tajuk "The Holy Land, Between Judaism, Christianity, and Islam (Tanah Suci, Antara Yudaisme, Kekristenan, dan Islam)". Judul itu membuka jendela pada cara berpikirnya.
Hudhayfah melihat konflik bukan hanya soal perbatasan atau sumber daya, melainkan dalam kerangka teologis dan historis. Ia membedah teks, membandingkan doktrin, dan menyusun argumen akademik.
Beberapa laporan bahkan menyebut, Hudhayfah tengah bersiap melanjutkan ke jenjang doktoral, sebelum perang memaksanya meninggalkan pena demi mikrofon dan senapan.
Sisi intelektual itulah yang kelak memberi bobot pada setiap pidato sosok yang belakangan dikenal sebagai Abu Obaida. Ia tidak hanya berbicara dengan emosi, tetapi dengan referensi sejarah dan ketepatan teologis yang sulit dipatahkan.
Psikologi Sang Pria Bertudung
Transformasi Hudhayfah dari akademisi menjadi Abu Obaida, ikon militer, tidak terjadi seketika. Masuk ke lingkaran dalam Brigade Izzudin al-Qassam merupakan proses panjang dalam sebuah ordo persaudaraan tertutup. Di sana, kepercayaan menjadi mata uang paling mahal.
Literatur organisasi tersebut menunjukkan, rekrutmen dimulai dari observasi jangka panjang di basis sosial, terutama masjid. Para pencari bakat tidak hanya menilai fisik, tetapi juga integritas spiritual.
Syaratnya ketat, mulai disiplin ibadah, konsistensi Salat Subuh berjemaah, kemampuan membaca dan menghafal Al-Qur’an, serta keterdiaman mutlak. Di Gaza, dengan infiltrasi intelijen tinggi, calon anggota harus membuktikan mampu menyimpan rahasia bahkan dari keluarga sendiri.
Hudhayfah sudah terjun ke lapangan sejak 2002, masa Intifada Kedua. Ia dipercaya sebagai komandan lapangan senior di sayap militer Hamas. Pengalaman langsung di medan tempur memberinya legitimasi di mata para pejuang. Ia adalah sosok yang merasakan debu parit dan tegangnya penyergapan.
Momen penting datang pasca-2005, setelah Israel menarik diri dari Gaza. Hamas membutuhkan strategi komunikasi baru, wajah atau suara yang bisa mewakili transisi dari gerilya menjadi entitas semi-pemerintahan dengan militer terstruktur. Mereka mencari sosok fasih berbahasa Arab baku, berwawasan luas, sekaligus misterius.
Pada 25 Juni 2006, Hudhayfah resmi ditunjuk sebagai juru bicara Brigade Al-Qassam. Debut di medianya ialah mengumumkan penangkapan tentara Israel, Gilad Shalit. Sejak itu, Hudhayfah Al-Kahlout perlahan menghilang dari publik, digantikan oleh nama sandi “Abu Obaida.” Nama ini dipilih dengan simbolisme kuat, merujuk pada Abu Ubaidah bin al-Jarrah, sahabat Nabi yang dikenal sebagai Penakluk Syam.
Selama hampir dua dekade, Abu Obaida mengubah wajah perang informasi di Timur Tengah. Ia membangun citra visual khas dengan seragam kamuflase rapi, latar grafis digital modern, keffiyeh merah penutup wajah, serta tampilan ayat suci di sebelahnya, menyebar lewat media sosial ke seluruh dunia.
“Berjuang dengan segenap kekuatan, tekad, dan keberanian yang luar biasa, dengan pertolongan Tuhan,” tuturnya, sebulan sebelum ia tewas.
Keffiyeh itu bekerja sebagai alat psikologis. Ia menghapus identitas Hudhayfah, menjadikannya sosok anonim yang bisa diproyeksikan siapa saja. Bagi rakyat Palestina, wajah tertutup itu adalah ruang kosong untuk menaruh harapan, ketakutan, dan mimpi. Ia bisa jadi saudara, ayah, atau tetangga.
Retorikanya pun berkembang menjadi senjata. Pidato-pidatonya dikutip dan dianalisis, memadukan bahasa puitis dan ancaman, ayat suci dan terminologi militer. Jari telunjuk yang teracung ke kamera menjadi ikon visualnya.
Dalam kajian psikolinguistik Samarra University (2024), pidatonya dianggap sebagai janji tindakan. Saat ia berkata roket akan diluncurkan, langit benar-benar menyala tepat waktu. Konsistensi ini memberi semacam terapi psikologis bagi pendukungnya, menyalakan harapan di tengah keputusasaan.
Pernyataannya bahwa, “Agresi ini akan segera pecah dan gagal dengan kekuatan Allah,” adalah sebuah janji Allah akan memastikan agresi tidak berhasil. Cara bicara seperti itu, menurut kajian tersebut, menunjukkan keyakinan kuat dan keyakinan bahwa Allah akan campur tangan, menawarkan kepastian dan harapan dari Abu Obaida kepada rakyat Palestina.
Sebaliknya, bagi Israel, ia adalah wajah teror psikologis. Ejekan yang ia lontarkan ditujukan untuk meruntuhkan moral pasukan lawan, menjadikan kata-katanya sama tajamnya dengan senjata di medan perang.
Agustus Kelabu dan Runtuhnya Benteng Rimal
Tahun 2025 menjadi titik balik yang kelam. Genosida yang dilakukan Israel secara berkepanjangan telah mengubah Gaza menjadi lanskap penuh kawah, mirip permukaan bulan. Intelijen Israel memperketat perburuan terhadap pimpinan Hamas, menebar jaring elektronik dan informan di sekitar Kota Gaza.
Pada 30 Agustus, serangan udara presisi diarahkan ke sebuah apartemen di Al-Rimal. Distrik yang dulu ramai itu menjadi saksi bisu akhir perjalanan sang juru bicara. Ledakan memekakkan telinga, disusul ribuan lembar uang kertas beterbangan, bercampur debu beton dan asap hitam. Dana operasional yang tersimpan di lokasi persembunyian melayang di udara.
“Lima rudal menghantam lantai dua dan tiga apartemen enam lantai di gedung lingkungan al-Rimal secara bersamaan dari dua arah berbeda,” tulis BBC dalam laporannya.
Tak lama kemudian, Menteri Pertahanan Israel mengonfirmasi keberhasilan invasi itu. Hudhayfah Al-Kahlout, alias Abu Obaida, dinyatakan tewas. Media Israel bersorak, menyebutnya pukulan telak yang diyakini akan membungkam mesin propaganda Hamas.
Kematian fisik Abu Obaida tidak langsung mematikan suaranya. Yang muncul justru keheningan panjang, penuh tanda tanya dan ketegangan. Dari September hingga Desember 2025, Hamas memilih bungkam. Diam ini memicu spekulasi liar di kedai kopi dan forum daring, apakah ia benar-benar mati, atau sekadar bagian dari strategi?
Dalam krisis, Hamas kerap menunda pengumuman kematian tokoh kunci hingga barisan terkonsolidasi dan narasi balasan siap. Mengumumkan kehilangan Abu Obaida tanpa pengganti hanya akan meruntuhkan moral pasukan dan pendukung. Kabut perang dimanfaatkan sepenuhnya, membingungkan musuh sekaligus menjaga harapan di dalam tubuh organisasi.
Tirai misteri akhirnya terbuka pada 29 Desember 2025, saat musim dingin menusuk Gaza. Saluran resmi Al-Qassam merilis video yang ditunggu dunia. Sosok itu kembali muncul dengan seragam dan keffiyeh merah yang sama, tetapi ketika ia berbicara, jelas ada perubahan mendasar.
“Kami mewarisi gelar Abu Obaida dari komandan Hudhayfah Al-Kahlout, dan kami berjanji melanjutkan perjalanan ini,” ujar sosok di balik topeng itu tanpa memperkenalkan diri.
Hamas mengonfirmasi kematian Hudhayfah akibat serangan Agustus, tetapi sekaligus menolak membiarkan Abu Obaida mati. Persona itu dilembagakan, bukan hanya sebagai individu, tetapi sebagai jabatan dan simbol abadi.
Juru bicara baru, yang tetap menyembunyikan identitas, menyampaikan eulogi menyentuh bagi pendahulunya. Ia menyebut Hudhayfah sebagai “suara guntur umat” dan mengonfirmasi gugurnya tokoh lain, seperti Muhammad Sinwar dan Raed Saad.
Dengan langkah itu, Hamas menegaskan bahwa Israel bisa membunuh Hudhayfah sang manusia, ayah, suami, akademisi, tetapi tidak bisa membunuh ide yang ia wakili.
Di layar televisi dunia Arab, sosok bertopeng merah itu masih berdiri, masih menunjuk dengan jari telunjuknya. Ia mengingatkan bahwa dalam perang asimetris, simbol sering kali hidup lebih lama daripada manusia yang melahirkannya.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































