Menuju konten utama

65 Persen Belanja Modal Pertamina Dialokasikan untuk Hulu Migas

Sepanjang 2024 belanja modal Pertamina diketahui mencapai sekitar Rp106 triliun.

65 Persen Belanja Modal Pertamina Dialokasikan untuk Hulu Migas
konferensi pers terkait capaian kinerja 2024 dan hasil Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) PT Pertamina (Persero) di Jakarta, Jumat (13/6/2025). tirto.id/Qonita Azzahra

tirto.id - PT Pertamina (Persero) mencatatkan realisasi belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar 6,57 miliar dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp106 triliun (kurs Rp16.157 per dolar AS) di sepanjang 2024. Posisi ini naik 4,3 persen dibandingkan belanja modal 2023 yang senilai 6,31 miliar dolar AS atau setara Rp101,95 triliun.

Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini, mengatakan porsi terbesar dari belanja modal tahun lalu digunakan untuk merealisasikan investasi di sektor hulu migas (upstream), yakni mencapai 62-65 persen.

“Kenapa masih didominasi oleh upstream? Karena faktanya kita masih harus menggenjot produksi di upstream kita. Tadi target kita adalah menaikkan produksi lifting kita 1 juta barrel (per hari), jadi kita harus affirmative, kita harus spending capex kita di upstream,” jelasnya dalam Konferensi Pers Kinerja Pertamina 2024 di Grha Pertamina, Jakarta Pusat, Jumat (13/6/2025).

Sementara untuk pengembangan energi hijau dan energi yang rendah karbon belanja modal dianggarkan hanya sekitar 10-15 persen. Hal ini karena investasi di hulu migas dinilai memang lebih pada modal (heavy capex).

“Jadi, kurang lebih setiap tahun itu hampir 4 bio (billion/miliar dolar AS) sampai 5 bio itu kita spend di capex di upstream. Untuk me-maintain supaya tidak decline saja, itu rata-rata itu kurang lebih organic capex aja di 2,5-3 bio. Belum lagi kalau untuk sampai kalau ada akuisisi juga gitu, ya. Jadi, kurang lebih bisa 5 sampai 6 bio sendiri itu untuk di upstream,” beber Emma.

Meski belanja modal Perseroan meningkat di sepanjang 2024, namun Emma meyakinkan bahwa rasio keuangan masih terjaga dengan baik, terlihat dari rasio utang terhadap ekuitas (Debt to Equity Ratio/DER) yang mengalami penurunan menjadi 52,2 persen.

Pun, dari sisi utang covenant coverage ratio - rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi ketentuan-ketentuan yang telah disepakati dalam perjanjian kredit- mengalami perbaikan dengan berada di level 2,63.

“Ini juga menunjukkan bahwa kita menjaga service level untuk serviceability risk kita terjadi perbaikan. Dan ini terlihat juga dari hasil kredit rating pertamina secara group, itu terjaga baik,” tambahnya.

Sementara itu, dalam laporan keuangannya, Pertamina melaporkan laba bersih sebesar 3,13 miliar dolar AS atau setara Rp49,54 triliun. Dengan kondisi ini, pendapatan Perseroan di sepanjang tahun lalu tercatat mencapai 75,33 miliar dolar AS atau Rp1.193,7 triliun dengan EBITDA senilai 10,79 miliar dolar AS atau Rp171,04 triliun.

Baca juga artikel terkait PERTAMINA atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Insider
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Dwi Aditya Putra