Menuju konten utama

10 Rekomendasi Motor 2 Tak, Masih Kuat, & Andal di Jalanan

Butuh rekomendasi motor 2 tak terbaik? Cek daftar motor 2 tak jadul dan legendaris dengan performa mumpuni, cocok digunakan sehari-hari maupun koleksi.

10 Rekomendasi Motor 2 Tak, Masih Kuat, & Andal di Jalanan
Ilustrasi Motor 2 Tak. (Instagram/@rc100terror)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Masih cukup banyak rekomendasi motor 2 tak yang beredar di pasaran hingga saat ini. Meski terkesan ketinggalan zaman, motor 2 tak jadul masih layak dipertimbangkan untuk dimiliki, baik digunakan untuk sehari-hari maupun sekadar koleksi bagi pencinta otomotif klasik.

Motor 2 tak sempat berjaya di sekitar era tahun 1980 hingga 1990-an. Berbagai perusahaan otomotif seperti Yamaha, Honda, Suzuki, hingga Kawasaki berlomba-lomba meluncurkan motor 2 tak dengan kelebihannya masing-masing.

Namun, saat ini motor 2 tak sudah tidak sepopuler dulu dan mulai ditinggalkan. Teknologi mesinnya diketahui menghasilkan emisi gas buang yang tinggi sehingga tidak memenuhi standar regulasi lingkungan yang semakin ketat di berbagai negara.

Selain itu, sistem pembakaran 2 tak juga cenderung kurang efisien. Hal ini justri membuat penggunaan bensin lebih boros serta menimbulkan polusi udara dan asap.

Karena alasan-alasan inilah konsumen kini lebih memilih motor yang lebih irit dan ramah lingkungan. Hal ini pula yang akhirnya membuat para produsen beralih ke motor 4 tak yang lebih sesuai dengan kebutuhan pasar.

Meski popularitasnya sudah tidak seramai dulu, motor 2 tak tetap memiliki penggemar tersendiri. Beberapa model motor 2 tak bahkan dikenal cukup ‘bandel’, irit perawatan, dan memiliki nilai jual tinggi di kalangan penghobi.

Apa Itu Motor 2 Tak?

Ilustrasi Knalpot Racing

Ilustrasi Motor 2 Tak. Getty Images/iStockphoto

Motor 2 tak adalah motor dengan jenis mesin 2 tak atau 2 langkah. Mesin jenis ini memiliki sistem pembakaran dalam yang hanya membutuhkan dua langkah/gerakan piston untuk menghasilkan tenaga, yaitu gerakan naik (hisap) dan turun (buang).

Cara kerja mesin 2 tak berlangsung melalui dua langkah saja. Saat piston bergerak ke atas, campuran udara, bensin, dan oli dikompresi hingga busi memantik api dan memulai pembakaran.

Pembakaran ini mendorong piston ke bawah sambil membuka jalur buang untuk mengeluarkan gas sisa dan memasukkan campuran baru. Pembakaran oli yang bercampur dengan bahan bakar menyebabkan pelumasan dan pembakaran terjadi bersamaan.

Mekanisme ini membuat proses pembakaran terjadi lebih cepat dibandingkan mesin 4 tak yang membutuhkan empat langkah. Hal ini juga membuat mesin bekerja lebih sederhana, tapi sayangnya menghasilkan lebih banyak asap dan lebih sering membutuhkan oli ketimbang mesin 4 tak.

Kekurangan dan Kelebihan Motor 2 Tak

Motor RX King

Motor RX King. foto/IStockphoto

Sebelum mengetahui rekomendasi motor 2 tak, ketahui dulu kelebihan dan kekurangan motor jenis ini. Motor 2 tak memang memiliki beberapa kekurangan sehingga ditinggalkan banyak penggemar otomotif, tapi motor ini juga memiliki sederet kelebihan, berikut di antaranya:

Kekurangan Mesin 2 Tak

  • Konsumsi Bahan Bakar Cenderung Boros

Frekuensi pembakaran yang terjadi setiap satu putaran membuat mesin butuh bahan bakar dalam jumlah lebih banyak. Selain itu, sebagian campuran bahan bakar dan oli tidak terbakar sempurna lalu terbuang bersama gas sisa.

Hal ini membuat efisiensinya rendah. Akibatnya, pengguna perlu lebih sering mengisi bensin dibanding motor 4 tak dengan kapasitas mesin yang sama.

  • Menghasilkan Emisi dan Polusi Lebih Tinggi

Mesin 2 tak membutuhkan oli samping untuk melumasi piston, dan oli tersebut ikut dibakar bersamaan dengan bensin. Kondisi ini menghasilkan asap pekat dan gas buang yang mengandung polutan lebih tinggi.

Karena sulit memenuhi standar emisi modern, penggunaan mesin 2 tak mulai dibatasi dan produksinya berangsur dihentikan di berbagai negara demi menjaga lingkungan.

  • Suara Mesin Lebih Bising

Karakter mesin 2 tak yang bekerja cepat dengan pembakaran terus-menerus membuat suara yang dihasilkan lebih nyaring dan kasar dibandingkan mesin 4 tak. Bagi sebagian orang, ini mengurangi kenyamanan berkendara, terutama di area pemukiman atau lalu lintas padat.

Kelebihan Mesin 2 Tak

  • Output Tenaga yang Besar

Karena proses pembakaran terjadi secara cepat dalam setiap satu putaran engkol, tenaga yang dihasilkan mesin 2 tak terasa lebih besar dan spontan.

  • Akselerasi Lebih Cepat dan Responsif

Kombinasi bobot mesin yang ringan dan keluaran tenaga yang besar menciptakan rasio power-to-weight yang sangat ideal. Mesin 2 tak hanya cepat dalam meraih kecepatan tinggi, tapi juga responsif saat akselerasi awal.

  • Konstruksi Mekanis Lebih Sederhana

Mesin 2 tak tidak menggunakan komponen tambahan seperti klep dan noken as sehingga lebih sederhana. Hal ini membuat produksi mesin menjadi lebih murah dan perawatannya lebih mudah ketimbang motor 4 tak.

  • Lebih Ringan dan Lincah

Dengan komponen internal lebih sedikit dan konstruksi yang tidak terlalu kompleks, mesin 2 tak membutuhkan material lebih sedikit sehingga bobot total kendaraan menjadi lebih ringan.

Kondisi ini memberi keuntungan dari sisi handling karena motor lebih mudah dikendalikan saat bermanuver. Untuk penggunaan harian atau di medan menantang seperti tanjakan dan jalan tanah, motor 2 tak terasa lebih gesit dan responsif.

Apakah Motor 2 Tak Masih Diproduksi?

Ilustrasi motor ngebul

Ilustrasi Motor 2 Tak. (FOTO/iStockphoto)

Motor 2 tak pada dasarnya sudah berhenti diproduksi untuk kebutuhan kendaraan umum, terutama sejak tahun 2000-an ke atas. Salah satu alasannya karena tidak mampu memenuhi peningkatan standar emisi gas buang.

Di Indonesia, produsen besar seperti Honda, Yamaha, hingga Suzuki telah lebih dulu menghentikan produksi mesin 2 tak, sementara Kawasaki menjadi pabrikan terakhir yang menutup lini produksi motor 2 tak mereka pada sekitar tahun 2015 melalui Kawasaki Ninja 150.

Secara teknis, mesin 2 tak masih bisa dipertahankan dengan bantuan teknologi tambahan seperti catalytic converter dan sistem baru untuk mengurangi kadar gas buang.

Namun, proses riset dan penerapan teknologi tersebut membutuhkan biaya sangat besar dan akan membuat harga motor menjadi jauh lebih tinggi. Di sisi lain, pasar semakin merosot karena minat masyarakat berubah ke motor yang lebih irit bahan bakar, senyap, dan ramah lingkungan.

Ditambah lagi, kebijakan emisi seperti Euro 4 menjadikan produksi motor 2 tak untuk penggunaan harian di jalan raya semakin sulit dilanjutkan.

Meski demikian, mesin 2 tak belum benar-benar hilang dari peredaran. Beberapa produsen masih memproduksinya untuk kebutuhan khusus seperti enduro dan motocross, misalnya KTM, Husqvarna, hingga Ronax 500 yang diluncurkan sebagai motor balap edisi terbatas.

Rekomendasi Motor 2 Tak yang Masih Andal di Jalanan

Yamaha Fiz R

Motor 2-tak F1Z, RX King dan Champ. (ANTARA/HO)

Meskipun produksinya telah berkurang dan banyak pabrikan beralih ke mesin 4 tak, tidak berarti motor 2 tak kehilangan penggemar. Motor 2 tak bekas masih cukup mudah ditemui di pasar otomotif. Berikut beberapa rekomendasi motor 2 tak yang masih tangguh:

1. Suzuki Satria 120

Suzuki Satria 120 dikenal sebagai salah satu raja motor bebek era 90-an. Motor ini sangat digemari berkat performa mesin 2 tak 120 cc-nya yang bertenaga. Motor ini unggul dalam kecepatan dan handling karena dilengkapi teknologi canggih pada masanya.

Misalnya penggunaan sasis SCAF (Suzuki Computer Analyzed Frame) yang ringan dan stabil, serta suspensi tunggal (monoshock). Satria 120 juga dianggap memiliki ketahanan mesin yang relatif baik atau "bandel".

Tergantung kondisi, harga Suzuki Satria 120 bekas berkisar antara Rp8-Rp20 jutaan. Namun, ada pula beberapa tipe Satria 120, seperti Satria 120 R atau Satria Lumba, kemungkinan dibanderol dengan harga lebih tinggi karena sudah termasuk barang koleksi.

2. Yamaha 125ZR

Rekomendasi motor 2 tak berikutnya adalah Yamaha 125ZR adalah varian motor bebek sport 2 tak premium yang diposisikan lebih agresif dan unggul secara performa dibandingkan model lain seperti 125Z.

Secara tampilan, 125ZR menonjolkan desain yang lebih sporty dengan detail modern seperti penggunaan velg racing. Yamaha 125ZR juga dibekali spesifikasi teknis yang lebih tinggi, termasuk suspensi monoshock yang lebih tinggi.

Kualitas dan performa superior ini, ditambah statusnya yang langka karena hanya diproduksi dalam waktu terbatas di Indonesia, menjadikan Yamaha 125ZR sebagai motor koleksi yang memiliki harga jual tinggi, bahkan yang berstatus new old stock (NOS) bisa mencapai ratusan juta.

3. Suzuki Tornado

Suzuki Tornado pernah menjadi motor 2 tak legendaris di Indonesia di era tahun 1990-an. Suzuki Tornado juga dikenal sebagai salah satu motor bebek 2 tak yang tangguh dan responsif.

Dengan karakteristik mesin 2 tak dan bobotnya yang ringan, Tornado cocok bagi pengendara yang menginginkan akselerasi cepat dan kesan sporty. Meskipun sekarang sudah jarang terlihat di jalan, motor ini masih diminati.

Tergantung varian, kondisi, dan tahun produksi, motor ini versi bekasnya dapat dibeli dengan harga sekitar Rp5–Rp7 jutaan.

4. Yamaha F1ZR

Yamaha F1ZR
Yamaha F1ZR. FOTO/iStockphoto

Yamaha F1ZR termasuk salah satu motor 2 tak legendaris yang dulu populer di Indonesia dan mulai diproduksi sekitar tahun 1994. Yamaha F1ZR merupakan motor bebek Yamaha pertama yang mengusung sistem pendingin YPCS berbasis kipas.

Motor ini sempat mengalami perkembangan, tapi pada akhirnya produksi Yamaha F1ZR dihentikan pada 2004, digantikan oleh Yamaha Vega R yang hadir dengan mesin 4 tak. Harga Yamaha F1ZR bekas diperkirakan berkisar antara Rp7–Rp20 juta, tergantung kondisi mesin dan tahun produksi.

5. Kawasaki Ninja 150

Kawasaki Ninja 150 dulu sempat menjadi salah satu motor sport paling digemari di Indonesia pada masanya karena kombinasinya antara tenaga mesin 2 tak dan bodi sport yang agresif.

Dengan mesin 150 cc, Ninja menawarkan performa yang cukup “galak” di kelasnya, terutama untuk penggunaan jalan raya dan balap ringan. Motor ini juga sempat hadir dalam beberapa varian, misalnya Kawasaki Ninja 150 RR dan Ninja 150 RR/SS.

Harganya pun cukup tinggi walau motor ini sudah berhenti diproduksi, yakni sekitar Rp20–60 juta, tergantung kondisi, tipe, dan tahun produksinya.

6. Suzuki RGR 150

Suzuki RGR 150 hadir di awal tahun 1990-an dan langsung menarik perhatian para pecinta motor sport, terutama melalui generasi pertamanya, RGR 150 Spinter. Motor ini tampil menonjol dengan desain setengah fairing, under cowl, serta suspensi monoshock sehingga terlihat modern.

Selain tampilan sporty, RGR 150 Spinter dibekali mesin 150 cc dan teknologi yang lebih canggih pada masanya. Suzuki kemudian sempat meluncurkan beberapa generasi baru seperti RGR 150 Crystal dan RGR 150 Tornado.

Meski kini tidak lagi diproduksi, lini Suzuki RGR 150 tetap dikenang sebagai salah satu motor sport tak legendaris. Harga bekasnya diperkirakan berada di kisaran Rp18–30 jutaan.

7. Honda NSR 150

Honda NSR 150 merupakan salah satu motor sport 2 tak yang paling “wah” pada zamannya. Full-fairing, chassis sport, serta mesin 150 cc, motor ini menjanjikan performa tinggi.

Dengan desain sporty khas motor sport era 90-an, NSR 150 dianggap mewakili era keemasan motor sport 2 tak di Indonesia. Motor ini hadir dalam beberapa varian seperti NSR 150 R, NSR 150 RR atau RR Astra, NSR 150 New RR, hingga NSR 150 SP.

Sebagai salah satu motor sport 2 tak legendaris, harga Honda NSR 150 masih sangat tinggi. Harga bekasnya mulai dari Rp30 jutaan untuk NSR 150 R, sementara untuk varian NSR 150 SP bisa mencapai Rp100 jutaan jika kondisinya bagus.

8. Yamaha RX King

Yamaha RX King
Yamaha RX King. wikimedia/Yollablue

Rekomendasi motor 2 tak yang juga sangat ikonik adalah Yamaha RX King, bahkan dikenal luas sebagai “raja jalanan” karena tenaga besar dan suara khas 2 tak-nya. Dengan mesin 135 cc, performanya sangat memadai untuk berbagai kondisi jalan.

Meski sudah lama berhenti diproduksi, Yamaha RX King masih sangat populer dan digemari oleh para pencinta motor. Bahkan, harganya juga masih cukup tinggi.

Harga RX King bekas berkisar antara Rp30–Rp70 jutaan, harganya bahkan bisa lebih tinggi lagi jika motornya keluaran tahun lama dan masih dalam kondisi prima.

9. Yamaha RX Z

Yamaha RX Z hadir di Indonesia di tahun 80-an sebagai motor sport 2 tak half fairing berdesain agresif. Sebagai “saudara” RX King, RX Z juga ditenagai mesin 135 cc. Motor ini juga dibekali transmisi 5 percepatan yang kemudian ditingkatkan menjadi 6 percepatan pada facelift.

Yamaha RX-Z sebenarnya memiliki teknologi dan performa menjanjikan, tapi harganya popularitasnya masih kalah dari RX King hingga produksinya di Indonesia dihentikan di sekitar tahun 1990-an. Harga bekasnya masih sangat bervariasi, berkisar antara Rp16–60 jutaan.

10. Yamaha TZM 150

Yamaha TZM 150 hadir pada pertengahan tahun 1990-an sebagai motor sport 2 tak full fairing. Motor ini langsung mencuri perhatian karena performa dan teknologinya yang sangat maju di kelas 150 cc pada masa itu.

Motor ini diproduksi untuk menyaingi Suzuki RGR 150, Kawasaki Ninja 150, hingga Honda NSR 150 R, tapi harga yang jauh lebih tinggi membuat minat pasar terhadap motor ini rendah. Apalagi, tak lama setelah TZM 150 rilis, Indonesia dihantam krisis moneter di tahun 1998.

Saat ini, TZM 150 menjadi buruan kolektor dan penggemar motor sport 2 tak klasik. Harga bekasnya sekarang sekitar Rp50–Rp60 jutaan.

Itulah beberapa rekomendasi motor 2 tak dan perkiraan harganya. Meski sudah tidak diproduksi lagi, performa mesin, suara khas, serta kesan nostalgia membuat motor-motor ini tetap memiliki tempat tersendiri di hati para penggemarnya.

Bagi yang tertarik membeli, pastikan untuk mengecek kondisi mesin, kelistrikan, dan ketersediaan spare part agar tidak salah pilih. Jika dirawat dengan baik, motor 2 tak bisa menjadi alat transportasi sekaligus aset hobi yang membanggakan dan bernilai tinggi.

Tertarik dengan motor bekas? Temukan ragam informasi seputar motor-motor bekas pilihan, info harga, serta berbagai tips yang bermanfaat melalui tautan di bawah ini:

Kumpulan Artikel tentang Motor Bekas

Baca juga artikel terkait MOTOR atau tulisan lainnya dari Erika Erilia

tirto.id - Gearbox
Kontributor: Erika Erilia
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani