tirto.id - Transisi kekuasaan di New York City biasanya berlangsung di tangga Balai Kota yang dingin atau ruang pengadilan berpanel kayu. Tetapi Zohran Mamdani, Walikota ke-112, mengucapkan sumpah justru di bawah trotoar Lower Manhattan, di Stasiun Old City Hall yang sudah lama ditutup.
Jelang malam pergantian tahun, tepat pukul 23.56, suara kereta jalur 6 membawa Mamdani, keluarga, dan stafnya masuk ke stasiun usang itu. Saat pintu terbuka, ia melangkah ke peron melengkung yang selama delapan dekade tak lagi melayani penumpang.
Sasiun yang pernah disebut "permata mahkota" sistem Interborough Rapid Transit (IRT) itu menjadi panggung dramatis. Kubah ubin Guastavino berdebu namun masih memancarkan cahaya hangat, diterangi lampu portabel.
Di bawah lengkungan bersejarah itu, Mamdani meletakkan tangan di atas Al-Qur'an yang dipegang istrinya, Rama Duwaji. Jaksa Agung New York, Letitia James, memimpin sumpah di bekas stasiun berlatar dinding ubin berusia seabad.
"Selamat tahun baru bagi warga New York, baik di dalam terowongan ini maupun di atasnya," ujar Mamdani.
Pelantikan tengah malam itu juga menegaskan prioritas Mamdani untuk menghidupkan kembali Metropolitan Transportation Authority (MTA) dan menjadikan transportasi publik sebagai sumber kebanggaan warga.
Arsitek Politik
Zohran Mamdani, seorang sosialis demokratis dan mantan konselor perumahan, masuk politik mewakili Astoria, Queens, di Majelis Negara Bagian. Identitas politiknya lahir dari advokasi penyewa dan perjuangan menghapus utang pengemudi taksi.
Kampanye walikotanya bertumpu pada satu gagasan "Free the MTA", berupa layanan bus gratis bagi warga. Mamdani menilai transportasi umum harus menjadi hak dasar, setara dengan pendidikan atau perpustakaan. Ia menyerukan penghapusan tarif bus dan kereta bawah tanah, langkah yang menurutnya akan meringankan beban kelas pekerja dan meningkatkan jumlah penumpang.
Para kritikus menyebut rencana itu mustahil secara fiskal, menunjuk defisit MTA, tetapi pesannya menyentuh warga yang lelah dengan biaya hidup dan layanan yang menurun. Pilihan Stasiun Old City Hall menjadi perwujudan fisik platform tersebut. Stasiun ini merepresentasikan masa ketika kota berinvestasi dalam transit publik dengan visi keindahan dan kemegahan.
Bagi Mamdani, negara harus menyediakan ruang komunal yang indah dan bisa diakses semua orang. Stasiun Old City Hall, dengan lampu gantung dan ubin rumit, dirancang sebagai istana rakyat. Dengan turun ke bawah tanah, Mamdani menegaskan pemerintahannya berpijak pada sejarah perburuhan kota.
Kereta bawah tanah adalah nadi ekonomi New York, menggerakkan kelas pekerja yang menjaga kota tetap hidup. Pelantikannya menjadi penghormatan bagi jutaan penglaju yang setiap hari menghadapi penundaan dan infrastruktur rapuh.
Dengan meresmikan jabatannya di ruang yang dulu indah namun ditinggalkan karena dianggap tidak efisien, Mamdani mengkritik logika pembangunan New York selama puluhan tahun. Pesannya jelas, dengan membuka kembali stasiun, meski hanya simbolis, menghidupkan kembali gagasan bahwa kota harus membangun sesuatu yang besar untuk warganya.
Segera setelah sumpah, Mamdani langsung menerjemahkan simbolisme ke kebijakan. Dari peron ia mengumumkan Mike Flynn, perencana kota berpengalaman sebagai komisaris Departemen Transportasi baru.
Permata di Mahkota Bawah Tanah
Selama beberapa dekade, kota New York bergantung pada campuran trem yang ditarik kuda dan kereta layang bertenaga uap. Elevated trains (Els) memang efektif, namun berisik, kotor, dan menggelapkan jalan di bawahnya. Badai salju tahun 1888 yang melumpuhkan kota dan menjebak ribuan orang di jalur layang, menjadi pendorong dibangunnya kereta bawah tanah.
Konsep kereta bawah tanah bukan hal baru. London telah membuka jalurnya pada 1863, tetapi kondisi geologis dan politik New York menghadirkan tantangan tersendiri. Baru lewat Undang-Undang Transit Cepat tahun 1894, kerangka hukum dan keuangan ditetapkan. Kota akan memiliki sistem tersebut, tetapi perusahaan swasta yang membangun dan mengoperasikannya.
Kontrak jalur pertama dikenal sebagai Contract One, diberikan kepada Interborough Rapid Transit Company (IRT) yang didukung pemodal August Belmont Jr. Rutenya membentang dari City Hall ke utara menuju Grand Central, melintasi Times Square, lalu naik ke West Side menuju Harlem.
"Interborough Rapid Transit Company membangun sistem ini dalam empat tahun tujuh bulan dengan biaya $35 juta — mendekati $1,2 miliar saat ini," tulis Jeffery C. Mays dari The New York Times.
Saat itu, gerakan City Beautiful tengah mewarnai perencanaan kota di Amerika. Para pendukung gerakan percaya arsitektur monumental dan ruang publik indah dapat menanamkan kebajikan sipil dan ketertiban moral pada massa industri yang kacau.
Direktur IRT menginginkan stasiun yang mengesankan dunia dan membuktikan bahwa perjalanan bawah tanah bisa bermartabat, bahkan elegan. Mereka lantas menunjuk firma arsitektur Heins & LaFarge, yang dikenal lewat karya di Katedral St. John the Divine.
Desain City Hall berbeda dari stasiun lain. Kebanyakan stasiun berbentuk kotak persegi panjang dengan ubin sederhana, sementara City Hall dirancang melengkung, sebuah putaran yang memungkinkan kereta berbalik arah kembali tanpa manuver rel tambahan.

Fitur paling menonjol dari Stasiun Old City Hall adalah langit-langitnya. Alih-alih balok baja datar seperti di stasiun lain, arsitek memanfaatkan Rafael Guastavino, pembangun asal Spanyol yang berimigrasi ke Amerika pada 1881. Ia mematenkan metode Sistem Lengkung Ubin berbasis teknik Catalan, dengan lapisan ubin terakota tipis dalam pola tulang ikan yang diikat semen Portland. Hasilnya ringan, tahan api, dan mampu membentang luas tanpa penyangga baja.
Di City Hall, Guastavino menciptakan lima belas lengkungan berkubah yang menyatu dengan dinding melengkung. Ubin putih, hijau, dan cokelat membentuk pola rumit yang menarik pandangan ke atas. Efeknya menyerupai katedral, basilika bawah tanah yang memuja kemajuan.
Untuk melawan kegelapan, arsitek menambahkan tiga jendela langit-langit (skylight) besar dengan kaca bertimbal, membiarkan cahaya alami masuk dari City Hall Park. Pada malam atau hari mendung, lampu gantung kuningan dengan detail logam rumit menerangi ruang.
Loket tiket dibuat dari kayu ek, sementara akustiknya menghadirkan efek galeri berbisik seperti di Grand Central Terminal, proyek Guastavino lainnya. Kurva peron membuat ruang tanpa garis lurus, cair, dan organik. Sejarawan Clifton Hood dalam 722 Miles: The Building of the Subways and How They Transformed New York (1993) menyebutnya "permata" yang kontras dengan stasiun-stasiun lainnya.
"Akhirnya, pukul 19.00, IRT membuka pintunya untuk umum. Pria dan wanita yang telah menunggu sepanjang sore untuk momen ini berbondong-bondong menuruni tangga dan masuk ke dalam gerbong. Era baru telah dimulai dalam sejarah Kota New York," sambung Clifton.
Saat dibuka pada 27 Oktober 1904, Walikota George B. McClellan Jr. mengemudikan kereta pertama dengan pengontrol perak, membawa pejabat ke utara. Publik yang semula ragu turun ke bawah tanah terpesona oleh keindahannya.
Tahun-Tahun Sunyi
Namun, keindahan arsitektur Stasiun City Hall segera berubah menjadi masalah operasional. Stasiun ini dibangun di atas putaran ketat dengan radius sekitar 147 kaki, cukup untuk kereta pendek lima gerbong dengan pintu di ujung. Pada awalnya stasiun berfungsi baik, melayani pekerja Civic Center dan Distrik Keuangan.
Keberhasilan sistem justru mempercepat kejatuhannya. Jumlah penumpang melonjak jauh di atas proyeksi IRT. Untuk mengatasi kerumunan, kereta diperpanjang menjadi tujuh, delapan, hingga sepuluh gerbong. City Hall, terimpit kurva tajam dan fondasi gedung di atasnya, tak bisa diperluas. Kereta yang berhenti hanya bisa membuka pintu beberapa gerbong pertama, menimbulkan kebingungan dan penundaan.
Desain gerbong baru dengan pintu tengah menambah risiko. Kurva tajam menciptakan celah lebar antara badan kereta dan peron melengkung, cukup berbahaya bagi penumpang. Untuk mengatasinya, dipasang pengisi celah mekanis yang meluncur keluar saat kereta tiba. Meski efektif, perangkat ini lambat dan menambah waktu berhenti, membuat City Hall jadi hambatan dalam sistem yang menuntut kecepatan.
Kedekatan dengan stasiun Brooklyn Bridge menjadi pukulan terakhir. Hanya berjarak 600 kaki, Brooklyn Bridge menawarkan transfer ke jalur lain dan lebih nyaman bagi penumpang. Sebagian besar memilih berjalan ke sana daripada menunggu kereta lokal berputar ke City Hall.
Pada 1940-an, City Hall berubah menjadi stasiun hantu. Brooklyn Bridge melayani jutaan penumpang, sementara City Hall hanya mencatat sekitar 600 entri per hari pada 1945. Indah tapi usang, stasiun itu akhirnya ditutup pada malam tahun baru, 31 Desember 1945, tanpa upacara, hanya sebuah penghentian sunyi di malam pergantian tahun.
Selama delapan puluh tahun berikutnya, Stasiun Old City Hall terbenam dalam kesunyian. Skylight dicat aspal saat Perang Dunia II untuk memenuhi aturan pemadaman, menjerumuskannya ke dalam gelap.
Loket tiket kayu ek dihapus, pintu masuk ditutup beton. Di atas tanah, satu-satunya tanda keberadaannya hanyalah jeruji besi di City Hall Park yang kadang mengembuskan napas logam dari terowongan di bawah.
Meski ditutup, jalur itu tetap vital sebagai putaran balik kereta 6. Kereta yang berakhir di Brooklyn Bridge menurunkan penumpang, masuk ke putaran, lalu kembali ke pusat kota. Selama bertahun-tahun, penjelajah kota dan penggemar kereta tahu jika tetap di kereta setelah pengumuman "pemberhentian terakhir". Saat penumpang lain turun, mereka masuk, lalu bisa menjelajah stasiun hantu itu.
"...kereta kami berubah menjadi pesawat ulang-alik khusus hingga seratus tahun yang lalu. Hanya dalam beberapa saat, kami telah berhenti di peron Balai Kota," tutur Caitlin Van Dusen, anggota Museum Transit New York.
Dalam kilatan lampu depan kereta, stasiun tampak mistis. Ubin Guastavino yang berdebu masih berkilau, menjadikannya semacam cawan suci bagi penggemar transit dan sejarawan.
"Stasiun ini pernah disebut sebagai 'kapel di sekelilingnya,' mungkin karena arsitek dan pengrajin yang bekerja di stasiun dan katedral," sambungnya.
Pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21, Museum Transit New York mulai merestorasi warisan stasiun. Mereka menggelar tur eksklusif untuk anggota, tiketnya selalu habis dalam hitungan menit.
Sesekali muncul wacana membuka kembali stasiun sebagai cabang museum atau restoran, tetapi protokol keamanan di sekitar City Hall, terutama pasca 11 September 2001, membuat akses publik sulit.
Pelantikan wali kota terpilih dengan kereta layanan reguler masa lalu seperti menghidupkan kembali ikatan dengan kehidupan awal kota New York. Saat Mamdani turun, ia seakan memasuki kapsul waktu.
Wali Kota New York ke-112 itu telah mengambil posnya. Kereta telah meninggalkan stasiun.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Irfan Teguh Pribadi
Masuk tirto.id
































