Menuju konten utama

Waspada Nipah, Thailand Perketat Bandara Seperti Saat Covid-19

Pemerintah Thailand telah memperketat bandara seperti saat wabah Covid-19 untuk mengantisipasi wabah virus Nipah yang mulai merebak di India.

Waspada Nipah, Thailand Perketat Bandara Seperti Saat Covid-19
Ilustrasi virus nipah. (FOTO/iStockphoto)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Thailand memutuskan untuk memperketat pengawasan di bandara seperti saat pandemi Covid-19. Hal ini ditujukan sebagai tindakan antisipasi terhadap virus nipah yang mulai mewabah di India.

India mencatat 5 kasus terkonfirmasi virus nipah yang mematikan. Tak hanya itu, sekitar 100 orang harus menjalani karantina mandiri karena berinteraksi langsung dengan pasien.

Virus Nipah (Nipah virus/NiV) adalah virus berbahaya yang dapat menular dari hewan, seperti kelelawar dan babi, ke manusia (zoonosis) dan juga bisa menular antar manusia.

Penularan dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, makanan yang terkontaminasi, atau kontak dekat dengan orang yang sakit.

Thailand Perketat Pemeriksaan Bandara Seperti Saat Covid-19

Dilansir dari laman resmi Pemerintah Thailand, untuk mencegah penyebaran virus nipah di Thailand, otoritas setempat akan memperketat pengawasan di Bandara Suvarnabhumi dan Don Mueang.

Kementerian Kesehatan Thailand melalui Departemen Pengendalian Penyakit menerapkan langkah pencegahan yang sangat ketat. Salah satunya adalah skrining intensif terhadap penumpang yang datang dari wilayah berisiko, khususnya West Bengal, India, wilayah yang mendeteksi adanya pasien virus nipah.

Selain itu, para pelancong dibekali Health Beware Card, yang berisi informasi gejala dan imbauan agar segera mencari pertolongan medis bila mengalami tanda-tanda infeksi dalam waktu 21 hari setelah kedatangan.

Pemerintah Thailand juga telah menyiapkan ruang isolasi dan sistem rujukan medis untuk menangani kasus yang dicurigai.

Untuk warga lokal Thailand, Kementerian juga mengeluarkan panduan yang bepergian ke daerah terdampak. Masyarakat diminta menghindari kontak langsung dengan hewan, terutama kelelawar, babi, dan satwa liar.

Berbeda dari Covid-19, penularan virus nipah tidak melalui udara, melainkan menyebar lewat kontak langsung dengan cairan tubuh seperti air liur, darah, atau urine dari hewan atau manusia yang terinfeksi.

Oleh karena itu, langkah pencegahan yang dianjurkan meliputi memakai masker di tempat ramai, menjaga kebersihan, serta sering mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer berbahan alkohol.

Pemerintah Thailand juga mengimbau siapa pun, tak hanya warga lokal namun juga turis yang sedang berada di Thailand dan sedang mengalami demam, sakit kepala, atau gejala tidak biasa untuk segera menghubungi hotline Departemen Pengendalian Penyakit di nomor 1420.

Deteksi dini dan penanganan cepat dinilai sangat penting untuk mencegah penyebaran virus serta melindungi masyarakat secara luas.

Keputusan Pemerintah Thailand yang memperlakukan wabah virus nipah ini seperti saat pandemi Covid-19 ini dikarenakan hingga saat ini belum ada obat maupun vaksin yang dapat mencegahnya.

Tak hanya, virus nipah juga tergolong sangat berbahaya karena memiliki tingkat kematian tinggi, sekitar 40–75 persen, bahkan lebih tinggi dibandingkan Covid-19.

Gejala Virus Nipah

Berikut tingkatan gejala virus nipah dilansir dari laman resmi WHO:

Gejala Awal (Mirip Flu)

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Nyeri otot
  • Muntah
  • Sakit tenggorokan

Gejala Lanjutan

  • Pusing
  • Mengantuk berlebihan
  • Kebingungan atau perubahan kesadaran
  • Gangguan saraf, seperti sulit berpikir atau bergerak normal

Gejala Berat (Kondisi Darurat)

  • Radang otak akut (ensefalitis)
  • Kejang
  • Hilang keseimbangan
  • Koma dalam 24–48 jam
  • Pneumonia berat
  • Gagal napas akut
Masa inkubasi virus Nipah, yaitu waktu sejak seseorang terinfeksi hingga gejala muncul, umumnya berkisar antara 4 hingga 14 hari, namun dalam beberapa kasus langka bisa mencapai hingga 45 hari. Hal ini membuat pelacakan dan pencegahan penularan menjadi lebih sulit.

Bagi penderita yang berhasil selamat dari fase akut, sebagian besar dapat pulih sepenuhnya. Namun demikian, sekitar 20 persen penyintas mengalami dampak jangka panjang, seperti kejang berulang, perubahan kepribadian, atau gangguan saraf lainnya.

Dalam kasus tertentu, orang yang sempat sembuh juga bisa mengalami kekambuhan atau radang otak yang muncul kembali beberapa waktu kemudian.

Baca juga artikel terkait VIRUS NIPAH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra