tirto.id - Di tengah memanasnya dinamika global mulai dari krisis ekonomi hingga perubahan iklim, penguatan kepemimpinan perempuan ditegaskan sebagai strategi kunci dalam membangun resiliensi nasional yang inklusif.
Hal tersebut mengemuka dalam Dialog Nasional bertema “Pemberdayaan Masyarakat, Peningkatan Kemandirian, dan Resiliensi Nasional dalam Memperkuat Kepemimpinan Perempuan yang Strategis dan Inklusif” di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Forum ini menyoroti bahwa perempuan bukan hanya kelompok yang paling rentan terdampak krisis, tetapi juga aktor paling efektif dalam mendorong pemulihan ekonomi dan sosial.
Wakil Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Wakil Kepala Bappenas, Febrian Alphyanto Ruddyard, menyoroti adanya ketimpangan struktural dalam pembangunan. Menurutnya, perempuan kerap menjadi penopang saat krisis, namun belum menjadi pusat dalam pengambilan keputusan strategis.
“Resiliensi bangsa ini berakar dari keluarga dan ketahanan keluarga hampir selalu bertumpu pada perempuan. Namun, jika kebijakan dibuat tanpa perspektif perempuan, maka kebijakan itu kehilangan separuh realitas,” tegasnya.
Febrian menambahkan, dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029, pemerintah telah menempatkan kepemimpinan perempuan sebagai bagian dari transformasi pembangunan menuju Indonesia Emas 2045.
Sementara itu, Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, menekankan pentingnya perubahan posisi perempuan dari sekadar penerima manfaat menjadi aktor utama dalam penguatan ekonomi.
Menurut Veronica, Kementerian PPPA tengah mengembangkan program kebun pangan lokal perempuan berbasis komunitas yang terintegrasi dari sektor pertanian hingga perikanan.
“Kami ingin membangun ekosistem terintegrasi mulai dari pertanian hingga perikanan secara zero waste. Jika ekonomi keluarga kuat, kita bisa memutus masalah dari hulu, termasuk menekan angka kekerasan terhadap perempuan dan pernikahan usia anak yang sering kali dipicu oleh tekanan ekonomi,” jelasnya.
Dari perspektif global, Wakil Duta Besar Australia untuk Indonesia, Gita Kamath, menegaskan pentingnya investasi pada kepemimpinan perempuan untuk menghadapi krisis yang semakin kompleks, khususnya di kawasan Indo-Pasifik yang rentan terhadap bencana dan kenaikan permukaan laut.
“Dampak krisis tidak dirasakan secara merata, perempuan dan anak perempuan cenderung lebih rentan. Karena itu, keterlibatan perempuan dalam kepemimpinan sangat krusial. Berinvestasi dalam kepemimpinan perempuan adalah cara paling efektif untuk memastikan pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Gita menambahkan, melalui Program “SIAP SIAGA”, Australia terus memperkuat kemitraan dengan Indonesia dalam mendorong kebijakan afirmatif serta pengelolaan risiko bencana yang inklusif.
Pemerintah menegaskan bahwa penguatan kepemimpinan perempuan menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan nasional yang berkelanjutan, melalui kolaborasi lintas sektor serta pemberdayaan ekonomi yang dimulai dari tingkat keluarga dan komunitas.
Penulis: Intern tirto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id

































