Video Assistant Referee, Jurus Penegak Keadilan di Piala Dunia 2018

Oleh: Husein Abdulsalam - 7 Juni 2018
Dibaca Normal 2 menit
Video Assistant Referee (VAR) akhirnya bakal diterapkan pada Piala Dunia 2018. Bagaimana cara kerjanya?
tirto.id - Pada Maret lalu, Dewan Asosiasi Sepakbola Internasional (IFAB) menyetujui penggunaan Video Assistant Referees (VAR) untuk seluruh pertandingan Piala Dunia 2018. Seperti namanya, VAR merupakan pembantu wasit. Tetapi, mereka tidak turun ke lapangan. Mereka akan memantau pertandingan melalui video.

Federasi Asosiasi Sepakbola Internasional (FIFA) menyebutkan 33 kamera yang terpasang di 12 stadion di Rusia, negara penyelenggara Piala Dunia 2018, siap memantau gerak-gerik pemain serta pergerakan bola. Sebanyak 8 di antaranya adalah kamera tipe super-slow motion, sementara 4 lainnya adalah kamera tipe ultra-show motion.


Apa Saja Tugas VAR?

IFAB, lembaga internasional yang berwenang membuat aturan dalam pertandingan sepakbola, menyebutkan video pertandingan yang dipantau VAR tidak dimaksudkan agar wasit mengambil semua keputusan dalam suatu pertandingan berdasarkan saran VAR. Namun, VAR hanya akan membantu wasit mengambil keputusan yang menyangkut momen penting pengubah jalannya pertandingan, yakni gol, penalti, kartu merah langsung (bukan akumulasi 2 kartu kuning), dan kekeliruan identitas pemain yang diberi sanksi wasit.


Untuk meminta bantuan VAR, wasit akan memperagakan isyarat peninjauan VAR, yakni dengan menggerakkan kedua lengannya membentuk gestur persegi panjang laiknya bentuk layar monitor besar.

Jika wasit memperagakan isyarat itu, pertandingan dihentikan. Kemudian, si wasit bakal pergi ke tepi lapangan, menuju sebuah monitor yang menampilkan rekaman video yang dikirim VAR. Setelah melihat itu, wasit bisa meninjau bahkan mengubah keputusan yang telah dia ambil.


Selain memberikan saran apabila diminta wasit, VAR juga diperbolehkan memohon kepada wasit untuk meminta mereka meninjau kejanggalan yang mereka temukan selama pertandingan.

FIFA sendiri juga telah mengembangkan sistem informasi VAR untuk stasiun televisi, komentator, dan media massa guna memastikan semua penonton di stadion dan pemirsa televisi mendapat informasi dengan baik selama peninjauan tersebut. Saat keputusan wasit berdasarkan saran VAR dibuat, petugas FIFA akan menginformasikan alasan dan hasil peninjauan VAR melalui sebuah tablet elektronik yang kemudian terhubung dengan sistem komunikasi audio wasit dan rekaman video yang ditinjau VAR.

FIFA telah memilih 13 wasit yang secara khusus akan menjadi VAR di Piala Dunia 2018. Satu orang VAR didampingi tiga asisten VAR akan menyertai setiap pertandingan di Piala Dunia 2018. Keempat orang itu akan bekerja di sebuah ruang yang disebut video operation room (VOR) yang berlokasi di International Broadcast Centre (IBC), Moskow.


infografik video assistant referee

Mencegah Kekeliruan Supaya Adil

Wasit juga manusia. Banyak bukti menunjukkan bahwa tak semua keputusan yang dia buat nihil kekeliruan dan kapasitas fisiknya sebagai manusia juga punya keterbatasan dalam memimpin sebuah pertandingan 2x45 menit di atas lapangan berukuran 100 m x 110 m tersebut.

Eks wasit asal Italia, Pierluigi Collina, mengakui tafsiran wasit atas suatu insiden—misalnya, gol dan pelanggaran kontroversial—amatlah penting. Menurut laki-laki yang kini menjabat kepada wasit UEFA tersebut, akan selalu ada insiden dalam pertandingan sepakbola dan wasit harus mengambil keputusan saat itu meskipun kelak menimbulkan polemik.

Salah satu gol paling legendaris yang pernah dicetak sepanjang sejarah Piala Dunia menunjukkan bahwa keterbatasan wasit memang nyata adanya: gol tangan tuhan Diego Armando Maradona, pemain Argentina, ke gawang Inggris pada perempat final Piala Dunia 1986.

"Aku menunggu teman satu timku memelukku, tapi tidak ada satu orang pun datang. Lalu, aku berkata kepada mereka 'Datang peluk aku, atau wasit tidak akan mengesahkan (gol) tersebut,'" ujar Maradona, seperti dilansir ESPNFC.


Sebelum Maradona mencetak skor, kedudukan skor Argentina-Inggris imbang 0-0. Saat Maradona menyundul bola dengan tangannya, wasit Ali Bin Nasser tidak melihatnya, dan tentu saja tidak menganulir gol.

Kontroversi pun muncul saat wasit Kim Young Joo memberikan kartu merah kepada Hakan Unsal, pemain Turki, saat melawan Brazil pada penyisihan Piala Dunia 2002. Pangkal keputusan itu ialah Unsal ingin memberikan bola kepada Rivaldo yang akan mengambil tendangan pojok. Unsal menendang bola itu dan mengenai lutut Rivaldo. Lalu, Rivaldo tersungkur sambil menutup matanya, seolah merasakan sakit yang amat parah di kepalanya. Belakangan, Rivaldo mengakui bahwa rasa sakitnya itu tipu-tipu belaka.

“Tidak, bola tidak mengenai wajah saya, tetapi pemain Turki itu seharusnya tidak melakukan itu. Jadi, bola menyentuh kakiku dan bukan kepalaku," ujar Rivaldo

Sepanjang sejarah Piala Dunia, VAR baru akan digunakan pertama kali pada 2018 ini. Presiden FIFA Gianni Infantino mengatakan kepada CNN bahwa penerapan VAR akan membawa lebih banyak keadilan.

"Topik (VAR) ini dibicarakan dan diperdebatkan berpuluh-puluh tahun. VAR baik bagi sepakbola, baik bagi wasit, membawa lebih banyak keadilan dalam pertandingan dan karena itulah kami memutuskan untuk menerapkan VAR," ujar Infantino.

Sebelumnya, VAR telah digunakan berbagai liga, seperti Serie A Italia, Bundesliga Jerman, Major League Soccer Amerika Serikat, Primera Liga Portugal, K League Korea Selatan, dan A-League Australia.

Selain VAR, Piala Dunia 2018 juga menerapkan goal-line technology (GLT) yang pertama kali diterapkan pada Piala Dunia 2014. Salah satu pemicu diterapkannya GLT adalah insiden pada pertandingan perempat final Piala Dunia 2010 ketika wasit dan asistennya gagal melihat bahwa tendangan Frank Lampard, pemain Inggris, terhitung sebagai gol di gawang Jerman.

Panitia Piala Dunia 2018 menggandeng perusahaan teknologi olahraga Hawk-Eye Innovations untuk mengerjakan GLT. Sedangkan VAR dikerjakan Crescent Comms (audio) dan Hawk-Eye Innovations (video).

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight