tirto.id - Demonstrasi massa dilakukan di Yogyakarta pada hari ini, Senin, 1 Agustus 2025. Sejak pagi hingga siang, unjuk rasa tersebut dilakukan terpusat di Bundaran UGM, Caturtunggal, Sleman, Yogyakarta.
Demonstrasi di Bundaran UGM Yogyakarta itu bertajuk "Jogja memanggil: Maklumat Rakyat". Selama jalannya demonstrasi, massa aksi berkumpul di Bundaran UGM untuk mendengarkan orasi dan tuntutan bersama terkait kekerasan aparat belakangan ini.
Agenda utama dari aksi damai tersebut ialah sebagai sarana mengungkapkan tuntutan dan orasi, juga ziarah makam Rheza Sendy Pratama, mahasiswa Universitas Amikom Yogyakarta yang meninggal dalam unjuk rasa di Polda DIY.
Berdasarkan pantauan kontributor Tirto.id di lapangan, ratusan massa mulai berdatangan dan berkumpul sejak pukul 10.00 WIB.
Ratusan massa tersebut datang dengan membawa perangkat aksi terkait kritik atas kekerasan aparat dan kebijakan DPR yang dinilai jauh dari rakyat, termasuk spanduk bertuliskan "ACAB".
Demonstrasi massa di Bundaran UGM tersebut berlangsung hingga siang, sekitar pukul 14.00 WIB. Setelah siang, massa aksi membubarkan diri secara tertib, sementara sebagian melanjutkan agenda untuk berziarah ke makam almarhum Rheza.
Apakah Ada Aksi di Malioboro dan Kantor DPRD DIY Hari Ini?
Selain di Bundaran UGM, sejumlah massa juga melaksanakan demonstrasi massa di depan Kantor DPRD DIY di kawasan Malioboro.
Berbeda dengan massa di Bundaran UGM, massa yang berunjuk rasa di depan DPRD DIY mengatasnamakan diri mereka sebagai aliansi Gejayan Memanggil.
Massa Gejayan Memanggil mendatangi area Kantor DPRD DIY pada Senin siang, sekitar pukul 12.30 WIB. Di sana, massa kemudian melakukan orasi dan meminta dipertemukan dengan anggota DPRD DIY.
Setelah ditemui Ketua DPRD DIY Nuryadi, massa kemudian menyampaikan sejumlah poin tuntutan, termasuk mendesak dilakukannya penyelidikan secara menyeluruh dan transparan atas kematian Rheza Sendy Pratama dalam demonstrasi di Polda DIY beberapa waktu lalu.
Setelah bertemu anggota DPRD DIY dan menyampaikan orasi serta tuntutan, massa kemudian membubarkan diri pada Senin sore. Aksi di DPRD kemudian berjalan damai.
Meskipun dua demonstrasi di Yogyakarta pada Senin dilakukan oleh dua kelompok massa yang berbeda, namun tuntutan keduanya serupa, yakni terkait reformasi Polri dan mendesak agar mengembalikan militer ke barak.
Sebelumnya, pasukan militer dikerahkan di Yogyakarta pada Senin, seiring rencana demonstrasi pada hari tersebut. Disebutkan Kasi Humas Polresta Jogja, Iptu Gandung Harjunadi, ada sekitar 1.100 personel gabungan Polri dan TNI yang bersiaga di sejumlah titik sekitar Jalan Malioboro.
Hingga Senin malam saat berita ini ditulis, situasi di kawasan Malioboro dan Kantor DPR DIY terpantau lenggang berdasarkan pantuan CCTV milik Pemkot Yogyakarta. Beberapa kendaraan juga tampak melintas di kawasan tersebut.
Sebelumnya, pada Senin pagi, warga di sekitaran Jalan Malioboro juga dipertontonkan dengan parade pasukan militer, lengkap dengan kendaraan taktis mereka, yang berjalan di ikon Kota Yogyakarta tersebut.
Presiden Prabowo sebeumnya memerintahkan jajaran Polisi dan TNI untuk "menindak tegas" unjuk rasa yang melibatkan "perusakan fasilitas umum, penjarahan rumah individu, dan sentra ekonomi".
Selain itu, pengerahan TNI di Yogyakarta juga dilakukan setelah beredarnya video Kapolri Jenderal Listyo Sigit memberi izin penembakan jika ada upaya menerobos asrama dan markas polisi.
Pantauan situasi di kawasan Malioboro dan Kantor DPRD DIY, dapat disimak melalui siaran live streaming CCTV milik Pemkot Yogyakarta:
Pasca-meninggalnya Affan Kurniawan karena dilindas mobil rantis satuan Brimob pada 28 Agustus lalu, eskalasi kericuhan terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.
Sejumlah demonstrasi massa yang digelar untuk merespons peristiwa tersebut berlangsung ricuh. Kericuhan demi kericuhan diikuti dengan pembakaran sejumlah gedung milik pemerintah maupun fasilitas publik, rumah sejumlah pejabat juga dijarah kelompok tak dikenal.
Belakangan, jurnalis di Jakarta menemukan temuan adanya pengerahan massa secara terorganisir dari luar daerah untuk merusuh di wilayah tersebut. Mereka diduga diarahkan untuk menjarah dan membakar sejumlah titik lokasi, tanpa benar-benar ikut jalannya demonstrasi sipil.
Analisis sentimen media sosila yang dilakukan Tirto.id juga menemukan adanya anomali dalam persebaran ajakan demonstrasi "Bubarkan DPR" pada 25 Agustus lalu. Salah satu anomali menunjukkan adanya pengerahan pendengung (buzzer) secara masif, tidak seperti protes sipil yang umumnya terjadi.
Oleh karenanya, sejumlah gerakan sipil, seperti Jogja Memanggil, menyerukan agar massa aksi di berbagai daerah untuk tidak terprovokasi oleh pihak yang tidak dikenal.
Adanya provokasi dikhawatirkan dapat mengaburkan esensi dari penyampaian aspirasi dan tuntutan masyarakat sipil mengenai kekerasan aparat dan kebijakan DPR.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id




























