tirto.id - Demonstrasi dilakukan di Solo hari ini, Senin, 1 September 2025. Unjuk rasa ini dilakukan di Kantor DPRD Solo, menolak kekerasan aparat menjadi salah satu tuntutannya.
Sebelumnya, pada 29 Agustus, demonstrasi massa di Solo berlangsung ricuh. Unjuk rasa ini merupakan respons atas meninggalnya pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan karena ditabrak dan dilindas mobil rantis Brimob di Jakarta pada 28 Agustus.
Sehari setelah peristiwa pelindasan itu, massa yang didominasi atribut ojol di Solo melakukan unjuk rasa ke Markas Brimob Batalyon C Pelopor.
Setelah polisi dan massa aksi menjalankan salat gaib bersama, kericuhan pecah pada sore hari. Pagar Markas Brimob dirusak massa, water barrier juga dilalap api. Sementara polisi mengerahkan water cannon dan berusaha memukul mundur massa.
Berdasarkan pantauan lapangan reporter Tirto di lapangan, eskalasi kericuhan pada unjuk rasa tersebut meningkat setelah ribuan orang tak beratribut ojol merangsek masuk ke kerumunan massa.
Massa kemudian bergerak, melakukan konvoi, dari Gladag hingga Balai Kota. Pada dini hari, sekira pukul 01.15 WIB, gedung DPRD Solo terbakar. Api menyebar cepat dan tepat ke material bangunan yang mudah terbakar, membuat api menjalar ke atap.
Sabtu siang, 30 Agustus, sehari setelah kebakaran gedung DPRD Solo, ratusan mahasiswa giliran melakukan demonstrasi massa secara damai. Mereka melakukan long-march dari parkiran Benteng Vastenberg Solo menuju Bundaran Gladag.
Info Terkini Demo di Solo Hari Ini, Lokasi, Jam Mulai, dan Tuntutan
Pada Senin, 1 September 2025, mahasiswa di Solo kembali menggelar demonstrasi massa. Unjuk rasa ini diberi tajuk "Solo Raya Menggugat".
Demonstrasi dilakukan di DPRD Solo pada Senin siang. Dalam pengumuman melalui akun Instagram Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Solo Raya, unjuk rasa dijadwalkan digelar mulai pukul 13.00 WIB.
Sementara itu, berdasar pantauan di area sekitar Solo, massa mulai bergerak pada pukul 14.00 WIB. Dalam aksi ini, massa menuntut enam tuntutan sebagai berikut:
- Bebaskan seluruh massa aksi yang masih ditahan,
- Menuntut Presiden Prabowo bertanggung jawab secara penuh atas tindakan perenggutan hak asasi manusia dan bertanggung jawab memulihkan hak dari pada aktivis, demonstran, dan setiap yang berjuan untuk menyampaikan kebenaran dan perbaikan bangsa.
- Menuntut Presiden Prabowo Subianto memastikan untuk menindak dengan tegas dan sesuai undang-undang para pihak yang melakukan tindakan represif serta memastikan untuk menghapus iklim represif dalam berbangsa dan bernegara.
- Menuntut untuk memberikan hukuman tegas kepada aparat yang menginzinkan penggunaan sentara, kendaraan takatis, an gas air mata sebagai bagian dari tindakan pengamanan terhadap berjalannya aksi dan penyampaian aspirasi masyarakat.
- Menuntut adanya evaluasi dan reformasi lembaga kepolisian.
- Menuntut DPR untuk membatalkan perumusan aturan yang bermasalah dan berpotensi mengancam hak warga negara Indonesia dalam berdemokrasi, seperti RUU Polri, RUU penyiaran, dan RUU KUHAP.
Dalam keterangannya, aksi massa pada Senin siang tersebut dilakukan secara damai, sebagai bentuk solidaritas dan belasungkawa "kondisi dan dinamika bangsa".
Hingga Senin sore ini, massa beratribut almamater, sudah terpantau memadati area Kantor DPRD Solo. Belum diketahui, sampai kapan aksi tersebut akan berlangsung.
Sebagai pengingat, risiko keamanan di sejumlah wilayah di Indonesia meningkat pasca-peristiwa dilindasnya Affan Kurniawan oleh mobil rantis Brimob pada 28 Agustus 2025.
Tak hanya kericuhan, belakangan para jurnalis di Jakarta menemukan adanya pengerahan massa secara terorganisir dari luar wilayah untuk menjarah rumah pejabat dan membakar sejumlah fasilitas publik.
Sejumlah gerakan sipil meminta peserta unjuk rasa untuk berhati-hati dengan provokasi yang mengerahkan massa melakukan tindakan-tindakan berbahaya seperti penjarahan, pembakaran, dan pembenturan sentimen rasial serta gender.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Dicky Setyawan
Masuk tirto.id





























