Menuju konten utama

Upaya Memengaruhi Opini Publik dalam Aksi "Indonesia Gelap"

Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia menganalisis bagaimana pemerintah berupaya memengaruhi protes publik di X terkait #IndonesiaGelap.

Upaya Memengaruhi Opini Publik dalam Aksi
Header Perspektif Indonesia Terang vs Indonesia Gelap. tirto.id/Parkodi

tirto.id - Sejak 17 Februari 2025, demonstrasi mahasiswa digelar di berbagai daerah. Ajakan untuk melakukan unjuk rasa ini beredar di media sosial setelah publik ramai mengkritisi berbagai kebijakan yang diterapkan oleh Presiden Prabowo Subianto dalam 100 pemerintahannya, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), efisiensi anggaran, dan rencana proyek investasi negara melalui Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Pemotongan anggaran yang ditargetkan mencapai Rp750 triliun semula disebut demi mendanai program MBG. Namun kemudian, muncul pernyataan bahwa sebagian anggaran hasi pemangkasan tersebut akan diinvestasikan di Danantara yang bakal mengelola dana dan aset negara sebesar US$900 miliar atau Rp14.715 triliun. Rumor sejumlah tokoh yang akan memimpin Danantara pun jadi sorotan publik, seperti nama terpidana kasus korupsi aliran dana Bank Indonesia, Burhanuddin Abdullah, yang merupakan Ketua Tim Pakar Danantara.

Berbagai ekspresi kritik dan protes disampaikan di media sosial X. Tagar #KaburAjaDulu dan #IndonesiaGelap memenuhi percakapan daring. Kemudian muncul narasi tandingan dalam tagar #PergiMigranPulangJuragan dan #IndonesiaTerang.

Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia menganalisis bagaimana pemerintah berupaya memengaruhi protes publik di X selama dua minggu terakhir (9-22 Februari 2025). Kami mengumpulkan percakapan di X dengan kata kunci: #IndonesiaGelap, #IndonesiaGelap2025, “Indonesia Gelap”, #IndonesiaTerang, “Indonesia Terang” dengan menggunakan tools Brandwatch.

Berdasarkan pantauan yang kami lakukan, percakapan dengan tagar #IndonesiaTerang ini tidak signifikan hanya sekitar 2.209 cuitan atau atau 0,0007 persen jika dibandingkan dengan percakapan ‘Indonesia Gelap’ yang jumlahnya mencapai 3 juta cuitan.

Jumlah pengguna (unique authors) yang terlibat dalam percakapan #IndonesiaTerang hanya sebanyak 1.978 akun, sementara ‘Indonesia Gelap’ melibatkan sekitar 104.000 akun. Akan tetapi, narasi #IndonesiaTerang ini seolah besar karena disampaikan langsung oleh pemengaruh opini seperti pejabat publik dan politisi. Kami juga mengumpulkan kata kunci berupa frasa ‘Indonesia Terang’, namun ternyata jumlahnya juga kecil, yakni 8.196 kata dengan jumlah pengguna yang terlibat sebanyak 7.705 akun.

Akan tetapi, saat kami cek pada konten yang ditulis oleh akun-akun pemengaruh, isinya malah didominasi kritik terhadap pemerintah dan sindiran terhadap optimisme yang dibangun pemerintah, serta artikel opini di media massa. Jumlah cuitan yang menggunakan frase ini hanya sekitar 0,0027 persen dibandingkan total percakapan dengan tagar #IndonesiaGelap.

Dalam dinamika hubungan publik dan negara, aksi protes di media sosial merupakan upaya publik dalam menyampaikan pendapat dan turut membentuk kebijakan publik yang mereka nilai serampangan dan implementasinya jauh panggang dari api. Idealnya, pembuatan kebijakan meninjau ulang program dan kebijakan mereka berdasarkan aspirasi publik. Dengan demikian, tercipta kebijakan yang partisipatif dan responsif terhadap kepentingan publik. Proses mempertimbangkan masukan publik ini penting mengingat kebijakan yang diprotes, misalnya MBG, tergolong program yang impulsif, yang diimplementasikan dengan tergesa-gesa tanpa mempertimbangkan berbagai tantangan dalam implementasinya.

Massa Aksi Indonesia Gelap

Massa Aksi Indonesia Gelap mulai memenuhi kawasan Patung Kuda Jaya Wiwaha, Jakarta Pusat, Jumat (21/2/2025) siang. Tirto.id/Muhammad Naufal

Alih-alih menggunakan kritik publik sebagai masukan yang berharga, pemerintah justru menangkis kritik tersebut dengan membangun narasi tandingan dengan tagar #IndonesiaTerang. Upaya mengecilkan opini publik juga dilakukan pada percakapan dengan tagar #KaburAjaDulu yang merupakan ungkapan kekecewaan atas memburuknya kualitas kehidupan yang dirasakan saat ini.

Ketimbang merespons dengan empati, beberapa pejabat publik bahkan menanggapi sinis ungkapan keresahan publik. Raffi Ahmad, Utusan Khusus Presiden Bidang Generasi Muda dan Pekerja Seni, bahkan mengusulkan mengganti percakapan dengan tagar #PergiMigranPulangJuragan, seakan mengganti persepsi semudah mengganti tagar.

Pemengaruh dan Narasinya

Mensesneg temui mahasiswa Aksi Indonesia Gelap

Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi (kedua kiri) didampingi Wamensesneg Juri Ardiantoro (kedua kanan) berdialog dengan mahasiswa yang melakukan unjuk rasa di Jakarta, Kamis (20/2/2025). ANTARA FOTO/Putra M. Akbar/YU

Berdasarkan pantauan kami, pemengaruh utama dalam percakapan ‘Indonesia Terang’ adalah Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni (@RajaJuliAntoni) yang mencuit dua kali dengan tagar tersebut pada 21 Februari 2025. Pada cuitan pertama ia menuliskan “Terlalu banyak alasan yang bisa dibuat-buat untuk memantik pesimisme. Cukup satu alasan saja untuk memicu optimisme Indonesia akan semakin baik. #GenerasiOptimis #IndonesiaTerang @psi_id @Gerindra”.

Cuitan tersebut sebenarnya cuma dibagikan oleh 106 orang, namun menjangkau (reach) sekitar 274 ribu pengguna. Raja Juli, yang juga politisi dari Partai Solidaritas Indonesia ini, kembali mencuit gambar halaman depan sebuah media yang berita utamanya tentang pernyataan presiden bahwa kepala daerah adalah pelayan rakyat. Dalam cuitannya itu, Raja Juli menuliskan “Kepala daerah kalian pelayan rakyat atau pelayan partai? #IndonesiaTerang #GenerasiOptimis”. Cuitan ini dibagikan kembali sekitar 1.000 kali dan dilihat oleh 1,6 juta pengguna.

Selain Raja Juli, pemengaruh lain dari pemerintah adalah Juru Bicara Kantor Kepresidenan Hariqo Wibawa Satria (@hariqosatria) yang menuliskan empat cuitan pada 17, 18, dan 20 Februari, terkait ‘Indonesia Terang. Tidak semua cuitannya mendapatkan engagement aktif yang berarti, berupa share atau comment, namun dapat menjangkau banyak pengguna.

Pada 18 Februari, ia membagikan dua video dirinya saat memberikan pernyataan di televisi tentang penghematan anggaran. Pada video yang pertama dia menuliskan, "Penghematan anggaran sudah terbukti berhasil. Stop wisata berkedok perjalanan dinas. #indonesiasemakinterang". Sedang pada video yang kedua, ia menulis, "Retreat Kepala Daerah atau Pembekalan Kepala Daerah terpilih di Magelang merupakan salah satu contoh nyata dari penghematan anggaran. #IndonesiaTerang #pelantikankepaladaerah".

Meski video kedua ini hanya dibagikan dua kali, namun dapat menjangkau (reach) hingga 6,500 pengguna. Selain pejabat pemerintah, ada juga akun-akun politisi dari PSI, seperti Sigit Widodo (@sigitwid) dan Andy Budiman (@Andy_Budiman_). Sigit mencuit foto judul artikel sebuah media yang memberitakan tentang pujian Menteri Kehutanan Norwegia ke Menteri Kehutanan dalam menjaga hutan Indonesia (reach sebesar 5.399). Sementara itu, Andy membagikan cuitan Raja Juli sebelumnya soal pelantikan kepala daerah (reach 5.355).

Selain itu, percakapan ‘Indonesia Terang’ diramaikan oleh akun-akun buzzer politik yang isinya sebagian besar hanya membagikan kembali (retweet) cuitan-cuitan isu politik. Akun-akun ini umumnya memiliki pengikut sekitar 1.000-2.000 dengan lama waktu pembuatan akun cukup beragam, ada yang baru dibuat tahun 2023 namun ada juga sejak 2015. Adapun cuitan-cuitan aku ini berkisar tentang penjelasan soal efisiensi, tudingan bahwa mahasiswa yang berdemo adalah pendukung Hasto Kristiyanto Sekjen PDIP yang saat ini menjadi tersangka di KPK, dan protes mahasiswa sebagai gerakan kebencian.

Berdasarkan top words atau kata-kata dengan frekuensi tertinggi, percakapan tentang ‘Indonesia Gelap’ didominasi oleh seruan untuk turun ke jalan atau melakukan aksi/demonstrasi ke depan patung kuda. Kata-kata yang berkonotasi negatif dan frekuensinya di percakapan ini misalnya #IndonesiaGelap (2.511.884), IndonesiaGelap2025 (283.457), ‘Ndasmu’ (127.679), melawan (111.958), dan #AdiliJokowi (87.279).

Indonesia Gelap

Kata-kata dalam percakapan #IndonesiaGelap. (Sumber: DDRH Monash University Indonesia)

Pada Gambar 1 juga terlihat emosi yang paling banyak digunakan adalah “fire” (api yang berkobar) dan “raised fist” (kepalan tangan).

Sementara itu, top words untuk percakapan ‘Indonesia Terang’ didominasi oleh kata kata berkonotasi positif seperti #IndonesiaTerang (2.239), Kesejahteraan (701), Bergizi (686), Emas (686), dan #generasioptimis (373). Emoji yang terbanyak muncul di percakapan ini adalah “rolling on the floor laughing” (tertawa terpingkal-pingkal) sebanyak 74 kali.

Indonesia Terang

Kata-kata dalam percakapan #IndonesiaTerang. (Sumber: DDRH Monash University Indonesia)

Berdasarkan top words yang muncul, kedua percakapan ini memang bertolak belakang. #IndonesiaGelap bertujuan untuk menyerukan aksi protes dan perlawanan terhadap kebijakan serampangan pemerintah, sedangkan

#IndonesiaTerang bertujuan untuk menyebarkan pesan-pesan dengan bingkai positif tentang program pemerintah.

Bukan yang Pertama

Upaya memengaruhi opini publik di platform X sebenarnya pernah juga kami temui dalam aksi protes #PeringatanDarurat Agustus tahun lalu. Kala itu, konten tandingan dengan tagar #indonesiabaikbaiksaja dan #RUUperampasanaset untuk menandingi tagar #peringatandarurat. Serta ada juga tagar #terimakasihjokowi untuk menandingi emosi negatif yang meluap terhadap Jokowi di minggu-minggu sebelum pelantikan Prabowo sebagai presiden RI yang baru.

Strategi memengaruhi opini publik biasanya dengan menggunakan tagar tandingan atau tagar lain yang sama sekali tidak berhubungan namun berpotensi viral karena menarik perhatian. Upaya memengaruhi opini publik di aksi kali ini tidak seintensif yang pernah ditemui di X saat aksi protes #KawalPutusanMK di mana saat itu tagar pengalihan isu seperti "pilih damai bareng prabowo” dan “lebih sejuk lebih nyaman” di X platform jumlahnya bisa mencapai 28 ribu cuitan.

Di #IndonesiaTerang jumlah cuitannya cuma mencapai dua ribuan, tapi pemengaruh utamanya adalah pejabat-pejabat pemerintah dan politisi-politisi koalisi pemerintah. Akibatnya, meski kecil namun ini sebenarnya merupakan upaya meremehkan ekspresi publik dan dapat menggerus kepercayaan publik terhadap pemerintah.

***

Tulisan ini merupakan hasil analisis dari Data & Democracy Research Hub Monash University Indonesia.

*) Isi artikel ini menjadi tanggung jawab penulis sepenuhnya.