tirto.id - Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyebut jika Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat akan menggelar pertemuan pada 23-24 Januari 2026 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab.
Ini adalah rapat pertama yang digelar ketiga negara dengan tujuan untuk menyudahi perang antara Rusia dan Ukraina yang telah berlangsung selama hampir empat tahun.
Zelenskyy menyampaikan, setelah bertemu Presiden AS Donald Trump di Davos, sejumlah hal penting sudah hampir disepakati, termasuk jaminan keamanan untuk Ukraina dan strategi pemulihan ekonomi pasca perang.
Tujuan Pertemuan Ukraina, Rusia, dan AS
Zelenskyy menyebut dokumen kesepakatan perdamaian kini sudah lebih siap, meski Trump menilai proses perdamaian masih akan berjalan dan belum selesai.
Perundingan di Abu Dhabi ini berlangsung di tengah dorongan diplomatik yang semakin intensif, sehari setelah Trump bertemu Zelenskyy di Davos dan beberapa jam setelah utusan AS Steve Witkoff mengadakan pembicaraan langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Kremlin.
Menjelang pertemuan bersejarah tersebut, baik Rusia maupun Ukraina belum menemukan kesepakatan terkait Donbas. Zelenskyy bahkan menyebut Donbas sebagai masalah wilayah menjadi isu paling krusial dan akan menjadi agenda utama dalam perundingan tersebut.
Rusia secara terbuka menyatakan Ukraina harus sepenuhnya menarik pasukan dari Donbas, sebuah syarat yang oleh Kyiv dianggap tidak dapat diterima.
Kremlin menegaskan, penarikan itu adalah “kondisi yang sangat penting”, sedangkan Ukraina menilai menyerahkan wilayah hanya akan mendorong Rusia melakukan agresi lanjutan di masa depan.
Seperti diberitakan CNA, saat ini, pasukan Rusia menguasai sekitar 20 persen wilayah Ukraina.
Meskipun mengakui jika pertemuan pertama antara Rusia dan Ukraina ini adalah sebuah langkah penting, namun Zelenskyy masih ragu untuk menilai jika pertemuan ini nantinya akan berujung pada pengakhiran perang.
Delegasi Ukraina dipimpin oleh pejabat keamanan dan militer senior, sedangkan Rusia mengirim delegasi yang sepenuhnya berasal dari kalangan militer. Amerika Serikat diwakili oleh Steve Witkoff, dengan Jared Kushner, menantu Trump, turut terlibat dalam pembicaraan.
Tak hanya belum sepakat mengenai Donbas, Zelenskyy juga mengatakan jika Ukraina dan Rusia belum menemukan titik tengah terkait dana miliaran dolar AS Rusia yang dibekukan di Eropa setelah negara tersebut menginvasi Ukraina secara penuh sejak 2022 lalu.
Kremlin, seperti diberitakan Al Jazeera, ingin menggunakan aset negara Rusia yang dibekukan di Eropa itu untuk membangun wilayah Rusia sendiri. Namun, Kyiv menilai jika dana tersebut seharusnya digunakan sepenuhnya untuk membangun kembali Ukraina yang hancur akibat perang.
Zelenskyy menegaskan Ukraina akan terus memperjuangkan agar seluruh aset tersebut dialihkan untuk rekonstruksi negaranya.
Invasi Rusia ke Ukraina didahului bertahun-tahun ketegangan antara kedua negara dan meningkat ketika Ukraina semakin mendekat ke negara-negara Barat, seperti Uni Eropa dan NATO. Langkah tersebut dianggap Putin sebagai ancaman terhadap pengaruh Rusia di kawasan.
Pada 21 Februari 2022, Putin mengakui wilayah separatis Donetsk dan Luhansk di Ukraina timur sebagai negara merdeka dan mengirim pasukan Rusia ke sana dengan dalih sebagai “penjaga perdamaian”.
Tiga hari kemudian, pada 24 Februari 2022, Rusia melancarkan invasi besar-besaran ke Ukraina, yang oleh Putin disebut sebagai “operasi militer khusus”.
Salah satu alasan yang ia kemukakan adalah klaim bahwa Ukraina melakukan genosida terhadap warga berbahasa Rusia di Donbas, namun klaim ini tidak terbukti dan ditolak oleh komunitas internasional.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































