Ujung Selatan Brazil, Tempat Berburu Calon Super-Model Dunia

Gisele Bundchen, supermodel asal Brazil yang direkrut oleh agen modelling ketika berusia 13 tahun di Rio Grande Do Sul. REUTERS/Mario Anzuoni.
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 20 April 2018
Dibaca Normal 4 menit
Super-model Victoria's Secret, Gisele Bundchen dan Alessandra Ambrosio, dulunya gadis "ndeso" di pelosok Brazil dekat perbatasan dengan Uruguay. Konon inilah kampungnya para model papan atas dunia.
tirto.id - Allison Chornak buru-buru menghampiri Elsen, 13 tahun, yang sedang berjalan bersama temannya di trotoar kota wilayah Rio Grande do Sul. Chornak bertanya apakah di Elsen mau jadi model. Elsen menolak.

Chornak bertanya mengapa, serta berusaha meyakinkannya dengan cara memuji paras imut Elsen. Namun, Elsen tetap menolak, dengan sopan. Chornak menyerah, lalu mencari target lain.

Rio Grande do Sul berada di ujung selatan Brazil, berbatasan langsung dengan Uruguay, Argentina, dan Samudera Atlantik. Populasinya mencapai 10 juta orang lebih sedikit. Mayoritas bentang alamnya masih berupa hutan dan dimanfaatkan warga beserta pemerintah untuk mengembangkan sektor agrikultur.

Sebagaimana dilaporkan Alexei Barrionuevo untuk New York Times, Chornak hanyalah satu dari lusinan agen modeling yang datang ke daerah tersebut untuk mencari talenta muda sejak 1990-an.


Mereka pergi ke sekolah, gym, dan salon kecantikan, dan pusat-pusat keramaian tengah kota. Pihak sekolah pun mengaku tak masalah dan membiarkan pencarian bakat berlangsung saat jam istirahat atau pulang sekolah.

Jika kebetulan ada yang tertarik, Chornak selalu membawa kamera untuk kemudian mengadakan sekelumit sesi foto. Calon model diminta bergaya. Ada yang masih kaku, ada yang mulai paham gesture seorang model profesional.

Gadis-gadis ini mesti memenuhi standar minimal model baik dari segi kulit, rambut, berat maupun tinggi badan. Paras cantik, sudah pasti. Namun, yang lebih penting, yang bersangkutan memang punya keinginan terjun ke bidang modeling.

Michele Muerer berusia 16 tahun saat Chornak menemukannya. Usai dilatih selama beberapa bulan, Muerer dikirim ke Sau Paulo—salah satu pusat perkotaan Brazil. Pelatihan akan berlanjut sembari agen mencarikan kesempatan untuk Muerer berlenggok di berbagai ajang pementasan busana.


“Wajar kalau awalnya takut, seperti 'aduh, apa sih yang sedang kulakukan', tapi lama-lama kamu terbiasa kok, terbiasa dengan segala hal. Aku ingin jadi pribadi yang benar-benar baru dari semua segi. Aku ingin jadi Michele yang baru,” katanya.

Muerer tumbuh bersama keluarga miskin penumbuh tembakau yang berbagi satu buah telepon. Mereka belum pernah melihat pantai. Bukan dari latar belakang berpendidikan bagus. Dunia modeling diharapkan mampu mengangkat derajat ekonomi keluarga. Oleh sebab itu ayah-ibu Muerer amat mendukung si buah hati.

“Aku ingin memberikan keluargaku kehidupan yang lebih baik karena mereka selalu berjuang keras,” Muerer terisak.

Kampung Model Bernama Brazil

Selatan Brazil memang memproduksi banyak super-model yang melesat kariernya di level internasional. Salah satunya, yang jadi idola Muerer, adalah Gisele Bundchen. Kampung halaman Budchen juga di Rio Grande do Sul, lebih tepatnya lahir dan besar di Kotamadya Horizontina pada 20 Juli 1980.

Menurut catatan Vanity Fair, atas dukungan sang ibu, Bundchen bergabung dengan kursus permodelan bareng kedua saudara perempuannya pada 1993. Tahun berikutnya, saat sedang tamasya sekolah, ia ditemukan oleh agen modeling Elite Look di sebuah pusat perbelanjaan di Sao Paulo. Pucuk dicinta, ulam pun tiba.

Elite Look melatih dan menyediakan kesempatan pertama Bundchen untuk ikut berbagai kontes tingkat nasional. Ia sering dapat juara dua. Di lomba tingkat internasional di Ibiza, Spanyol, ia menduduki posisi keempat. Di usia 14 tahun ia memutuskan pindah ke Sao Paulo secara permanen untuk memantapkan karier, dan berhasil sebab pada 1996 ia berhasil tampil di Fashion Week New York.


Sejak saat itu tawaran kerja makin banyak mendekati Bundchen. Kariernya moncer pada dekade 2000-an, dan dilanjutkan ke masa 2010-an. Selain keliling dunia serta menjadi brand ambassador banyak merek terkenal, juga menjajaki dunia film dan musik.

Bundchen melejit dari gadis “ndeso” yang polos menjadi seorang super-model berlimpah harta. Sejak 2004 ia menjadi salah satu model dengan bayaran termahal di dunia. Pada 2007 masuk urutan ke-16 dalam daftar perempuan terkaya di dunia versi Forbes. Dalam daftar yang khusus berisi para model, pada 2012 ia menduduki posisi pertama.

Pada akhir 1990-an Bundchen menjajaki gelombang pertama kesuksesan model Brazil di tingkat internasional. Ia pernah menjadi model untuk merek pakaian dalam kenamaan Victoria's Secret selama tujuh tahun. Ia bahkan memelopori "horse walk", gerakan kaki legendaris saat model mengangkat lututnya tinggi dan menendang kakinya di depan.


Bundchen bukan satu-satunya. Di antara barisan model asal Rio Grande do Soul lain, yang telah menapaki kesuksesan cemerlang seperti Bundchen adalah Alessandra Ambrosio. Model kelahiran Kotamadya Erechim itu menapaki karier sejak usia 12 tahun. Pada usia 14 tahun, ia masuk sebagai salah satu dari 20 finalis Elite Model Look 1995, kompetisi nasional bergengsi di Brazil.

Kariernya mentereng bersama Gucci, Dolce & Gabbana, Calvin Klein, Christian Dior, Giorgio Armani, Guess, Emporio Armani, Hugo Boss, Ralph Lauren, dan lainnya. Kerja yang paling dikenal orang adalah saat dirinya berada di Victoria's Secret dari 2000-2017.

Ras Campuran Warisan Eropa

Chornak dan agen modeling tidak asal memilih kawasan berburu. Mereka paham bahwa Rio Grande do Soul dan wilayah selatan Brazil lain memang dulunya menjadi tempat tinggal para pendatang dari Eropa, seperti dari Portugis, Jerman, dan Italia. Pendatang lain datang dari Austria, Luxemburg, Polandia, Ukraina, Spanyol, Belanda, dan Rusia.

Warisan genetisnya yang berasimilasi dan bercampur pun menghasilkan para perempuan dengan postur tinggi, rambut lurus (banyak yang pirang alami), serta mata dan kulit yang terang.

Menurut data Penelitian Nasional untuk Sampel Domisili (PNAD) tahun 2014, di Rio Grande do Soul terdapat 8.776.000 orang kulit putih (81 persen), 1.495.000 orang kulit cokelat atau multiras (14 persen), 529.000 orang kulit hitam (5 persen), 43.000 orang Amerindian (0,4 persen), dan 11.000 orang Asia (0,1 persen).


Mengutip sebuah studi genetika yang digagas Fernanda Saloum de Neves Manta dkk dan diunggah ke Journal PLOS One pada 2013, warga Brazil di Rio Grande do Sul memiliki rata-rata 73 persen gen orang Eropa. Sisa 14 persennya dari Afrika dan 13 persen lain keturunan suku-suku asli.

Bundchen adalah generasi keenam keturunan Jerman. Moyangnya menginjakkan kaki di Brazil pada 1825 dan datang ke Rio Grande do Sul pada tahun 1870-an. Jumlah imigran Jerman terus bertambah akibat kedatangan maupun kelahiran dari keluarga-keluarga petani yang membangun kehidupan baru. Hingga 1950-an orang Jerman berjumlah sekitar 20 persen dari total populasi.

Keturunan Jerman benar-benar bersinar di industri hiburan yang mengandalkan kecantikan ala Eropa di Brazil. Mereka diuntungkan dengan standar kerupawanan kulit terang, tidak seperti warga asli Brazil yang berkulit gelap (meski sejak satu dekade terakhir tren bangga berkulit gelap mulai naik, demikian catat Guardian).


Selain modeling, warga keturunan Jerman setidaknya telah 11 kali memenangi kontes kecantikan Miss Brazil sejak 1969. Kala itu Vera Fischer berjaya, dan terakhir di 2015 Marthina Brandt keluar sebagai juara. Nama-nama juara keturunan Jerman lain di antaranya Carina Beduschi (2005), Rafaela Zanella (2006), dan Gabriela Markus (2012).



Ambrosio adalah perempuan keturunan Italia dan Polandia. Ibunya bernama Lucilda dan ayahnya bernama Luiz Ambrosio. Nenek dari pihak ayah, Joana Eugênia Groch, adalah seorang imigran dari Polandia, yang tiba di Brazil pada 1929. Ia meninggal pada 2017 di usia 93 tahun.


Pendatang dari Italia ke Brazil mulai tahun 1875. Namun, ledakannya terjadi sepanjang 1880 hingga 1900 dengan kurang lebih satu juta imigran asal Italia memulai hidup baru di beberapa wilayah di Brazil. Koloni pendatang dari Italia di pelosok selatan pertama kali di Rio Grande do Soul, lalu meluas hingga ke area Tenggara.

Dalam catatan sejumlah sosiolog, termasuk May E. Bletz di bukunya Immigration and Acculturation in Brazil and Argentina: 1890-1929 (2010), proses asimilasi imigran Italia dengan warga asli termasuk cepat dan damai. Pernikahan antar kedua golongan masyarakat berlangsung sangat umum, apalagi jika para imigran tidak melakukan segregasi dengan mendirikan koloni sendiri.

Selain berpengaruh di dunia modeling, orang-orang keturunan Italia di Brazil juga berkontribusi terhadap pembangunan kota-kota seperti São Paulo, Porto Alegre, Curitiba dan Belo Horizonte. Mereka bergerak di bidang industri, jadi investor, bankir, hingga mendirikan klub sepakbola lokal.

Baca juga artikel terkait MODEL atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight