Jejak Diaspora Orang Arab di Amerika Latin

Komunitas imigran Arab di Tucuman, Argentina; 1932. FOTO/Biblioteca Nacional
Oleh: Akhmad Muawal Hasan - 20 November 2017
Dibaca Normal 4 menit
Amerika Latin jadi rumah terbesar kedua bagi orang keturunan Arab dengan setelah Timur Tengah. Proses akulturasinya sempat alot di gelombang diaspora pertama.
September lalu, koran An-Nahar yang berbasis di Beirut menyajikan tajuk utama “Anak imigran Lebanon Michel Temer jadi Presiden Brazil.”

Isinya tak menyinggung bagaimana pergolakan politik Brazil pecah akibat skandal korupsi presiden sebelumnya, Dilma Rousseff, atau bagaimana rakyat negara Samba terpecah secara politis antara yang mendukung Temer maupun yang menganggap pergantian rezim ini sebagai kudeta.

An-Nahar justru berfokus pada orangtua Temer, Nakhoul (Miguel) Temer dan Marcg Barbar Lulia. Keduanya adalah pasangan petani Katolik Maronite asal Desa Btaaboura, Lebanon, yang hijrah ke Brazil pada tahun 1925 bersama ribuan imigran asal Arab Levant lainnya.

Arab Levant adalah istilah untuk wilayah Mediterania Timur di Asia Barat yang dibatasi oleh Pegunungan Taurus di utara, Gurun Arab di Selatan. Laut Mediterania di Barat, dan Pegunungan Zagros di Timur. Levant modern telah berkembang jadi teritori sejumlah negara, antara lain Lebanon, Suriah, Yordania, Israel, dan Palestina.

Levant jadi satu kawasan yang kerap dibedakan dengan Jazirah Arab yang mencangkup negara-negara seperti Arab Saudi, Yaman, Qatar, Bahrain, Irak, dan lainnya sebab punya kebudayaan yang agak berbeda. Dibanding kawasan Jazirah Arab, komposisi masyarakat Arab Levant juga lebih beragam secara agama, aliran kepercayaan, plus sekte-sektenya.

Selama menjabat wakil Rousseff, darah Levant yang mengalir dalam diri Temer membuatnya dipuji-puji media Lebanon, termasuk An-Nahar. Sebuah jalan di Btaaboura dinamai “Jalan Temer”. Pada pemilihan lokal tahun 2016, Issam Tamer yang masih ada hubungan keluarga dengan Michel Temer terpilih sebagai presiden dewan kota Btaaboura. Ikatan sejarah yang kuat sampai membuat Michel Temer mengadakan kunjungan ke desa tersebut dua kali, yakni pada tahun 1997 dan 21 November 2011.

Baca juga: Siapakah yang Dimaksud Orang Arab?

Temer bukan satu-satunya pemimpin Amerika Latin berdarah Arab. Orang tua Presiden Argentina (1989-1999) Carlos Saul Menem, Saul Menem dan Mohibe Akil, adalah dua warga Suriah tepatnya dari Kota Yabroud yang bermigrasi ke Argentina pada tahun 1920-an. Ayah Presiden Kolombia Julio César Turbay (1978-1982), Antonio Amin Turbay, adalah imigran asal Tannoirine, kotamadya yang berjarak kurang lebih 75 kilometer dari ibukota Beirut, Lebanon, ke arah Utara.

Amerika Tengah juga jadi tujuan migrasi orang-orang Arab. Presiden Honduras Carlos Flores (1998-2002), misalnya. Kedua orangtuanya, Oscar Flores Midence dan Margarita Facussé de Flores, adalah pasangan imigran asal Palestina. Ayah Antonio Saca selaku Presiden El Salvador periode 2004-2009 juga berasal dari Palestina. Kakeknya, Musa Ali Saleh, adalah muslim yang pindah ke Katolik lalu menurunkan keyakinannya hingga ke Saca.

Daftar lengkapnya cukup panjang. Ditambah Ekuador, contohnya, ada Presiden Abdala Bucaram (1996-1997) dan Jamil Mahuad (1008-2000) yang keturunan imigran Lebanon. Akan lebih panjang lagi jika dimasukkan pula nama-nama politisi di berbagai lembaga negara. Brazil, misalnya, menurut laporan Gulf News memiliki 10 persen anggota parlemen yang keturunan Arab, baik keturunan langsung maupun hasil perkawinan imigran Arab dengan orang lokal.

Di dunia bisnis, ada orang terkaya di dunia tahun 2010-2013 asal Meksiko, Carlos Slim. Slim adalah anak dari Julian Slim Haddad dan Linda Helu Atta, dua penganut Katolik Maronite dari Lebanon yang bermigrasi ke Meksiko di tahun 1930-an. Sementara di ranah hiburan ada penyanyi tenar Shakira. Ayahnya, William Chadid, adalah imigran asal Lebanon. Ayah Chadid atau kakek Shakira pergi dari tanah kelahirannya ke New York sebelum akhirnya pindah ke Kolombia saat Chadid berusia lima tahun.

Baca juga: Menengok Islam di Guyana, Negara Kecil di Amerika Latin

Di akhir abad ke-19 dan awal abad 20 kawasan Arab Levant bergolak akibat Perang Dunia pertama. Kawasan yang dikuasai oleh Kekaisaran Ottoman, dinasti Islam terakhir yang kala itu merapat ke Blok Sentral, kemudian diperebutkan oleh Blok Sekutu. Ketidakstabilan kawasan mengancam nyawa orang-orang Arab Levant. Sebagian memutuskan untuk bermigrasi ke Amerika Serikat.

Sayangnya, mereka ditipu oleh agen perusahaan pelayaran yang malah mendaratkan para imigran di Rio de Janeiro atau Santos Brazil, Buenos Aires di Argentina, atau Veracruz di Meksiko. Daerah tersebut dan kota-kota dekat pantai lain di Amerika Tengah dan Latin lain pun menjadi tujuan para imigran dari Arab Levant di gelombang diaspora selanjutnya.

Dalam catatan Gulf News, gelombang pertama imigrasi orang-orang Arab ke Amerika Latin di awal abad 20 berkisar antara 250-300 ribu orang. Sejarawan spesialis Timur Tengah dari Fluminense Federal University di Rio de Janeiro, Paulo Gabriel Hilu da Rocha Pinto, menyatakan pada The National bahwa hingga tahun 2017 jumlah penduduk Amerika Latin keturunan Arab sekitar 8 juta orang.

Angka tersebut terbilang kisaran minimal. Persoalannya, banyak lembaga yang kesusahan mencatat jumlah asli sebab banyak orang keturunan Arab yang menolak garis keturunan tersebut. Mereka sudah menganggap diri mereka sebagai orang lokal secara turun-temurun.

Baca juga: Presiden Muslim Pertama di Benua Amerika

Kompilasi data situs Latin Arabia per Mei 2017 memperkirakan jumlah total yang lebih tinggi: 25-30 juta atau 5 persen dari total penduduk Amerika Latin. Lebih banyak dibanding Eropa, Amerika Utara, atau kawasan lainnya, Dengan demikian penduduk keturunan Arab di kawasan tersebut adalah yang terbanyak di luar Timur Tengah. Di Brazil bahkan jumlah orang (keturunan) Lebanon berjumlah lebih banyak dibanding total penduduk Lebanon sendiri.

Persentase di tiap negara beragam. Di Argentina bisa mencapai 9 persen dari total penduduk (3-4 juta), namun dibandingkan Uruguay, misalnya, hanya ada 2 persen (50-70 ribu). Di Brazil ada kira-kira 10-17 juta orang keturunan Arab dan jadi yang terbanyak di antara negara lain. Kolombia ada 1,5 juta, Venezuela 1,6 juta, Meksiko 1,1 juta, Cile 800 ribu, Honduras 250 ribu, dan Suriname 81 ribu.



Para imigran menggeluti berbagai bidang pekerjaan, rata-rata berbisnis toko kebutuhan sehari-hari. Ada yang bisnisnya mentereng, mulai dari San Jose di Costa Rica, di Havana-Kuba, atau di Managua-Nikaragua. Bisnis mereka kadang-kadang diganggu persoalan rasial dan kultural. Di awal kedatangan para imigran memang sempat terjadi perselisihan dengan orang asli, terutama di kota-kota imigran seperti di Brazil.

Orang Arab tak bisa digolongkan sebagai orang kulit hitam (Negro) atau kulit kuning (Tionghoa). Mereka jadi pendatang yang sangat asing secara rasial, pun kultural. Sempat timbul xenophobia di kalangan masyarakat lokal, sampai-sampai beredar rumor jika orang-orang Arab itu kanibal karena senang menyantap kibbeh mentah, makanan khas Timur Tengah yang terbuat dari daging sapi, kambing, domba, atau unta tanpa lemak yang digiling halus.

Baca juga: Bagaimana Cisarua Jadi Magnet Pelancong Arab dan Pengungsi?

Perselisihan kadang berujung pada kekerasan fisik. Salah satunya pernah terjadi dalam "perang sisir" yang meletus pada tahun 1959 di Curitiba, Brasil bagian Selatan. Awalnya ada seorang penjaga toko keturunan Arab yang menolak memberi tanda terima pembayaran kepada seorang polisi untuk sisir yang dibelinya. Argumen tersebut menjadi bibit kerusuhan yang menyebabkan penjarahan dan penghancuran 120 toko, yang sebagian besar milik imigran Arab, demikian catatan The National.

Ada faktor penting yang membuat proses akulturasi para imigran Arab di Amerika Latin lebih berhasil ketimbang di kawasan lain: rata-rata dari mereka pengikut Kristus. Namun mereka punya sekte yang berbeda, dan dalam upaya pembangunan kembali hubungan yang stabil dengan penduduk lokal, mereka bersedia untuk menanggalkan kepercayaan mengikuti Gereja Ortodoks Timur dan memeluk Katolik.

Mengapa? Sebab kalangan Katolik di Amerika Latin juga memandang Gereja Ortodoks Timur lebih bercirikan Islam ketimbang Kristen.

Upaya akulturasi lain yang tak kalah penting adalah menanggalkan pemakaian bahasa Arab, terutama di periode tahun 1930 dan1940-an. Di masa itu imigran generasi pertama untuk pertama kalinya berlatih bahasa lokal. Mereka menyadari bahwa selain perkara akulturasi, pemakaian bahasa setempat juga akan melancarkan bisnis. Para imigran Arab juga menghentikan pemakaian bahasa Arab ke anak-anak mereka.

Dalam perkembangannya, proses akulturasi ini terbilang cukup berhasil. Masyarakat keturunan Arab makin menyatu dengan warga setempat. Jelang akhir abad 20 hingga dunia bergerak ke abad 21, proses penyatuan itu kian membiaskan identitas Arab sang keturunan imigran, terutama akibat perkawinan campuran. Saking biasnya, propaganda berbasis SARA tak pernah laku untuk menjegal politisi berdarah Arab yang ingin jadi pemimpin tertinggi di sebuah negara Latin tempat ia lahir dan dibesarkan.

Baca juga artikel terkait ARAB atau tulisan menarik lainnya Akhmad Muawal Hasan
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Akhmad Muawal Hasan
Penulis: Akhmad Muawal Hasan
Editor: Windu Jusuf
DarkLight