Menuju konten utama

Tubaba Art Festival #9 Digelar, Usung Tema "Machine of Memory"

Tubaba Art Festival 2025 berlangsung pada 31 Oktober-1 November 2025 di Kota Budaya Ulluan Nughik, Tulang Bawang Barat, Lampung.

Tubaba Art Festival #9 Digelar, Usung Tema
Kegiatan Festival Seni Tubaba 2025 di Tulang Bawang Barat, Lampung, dimulai hari ini, Jumat (31/10/2025). Foto/Dok. Istimewa.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Setelah digelar rutin saban tahun sejak 2016, Tubaba Art Festival (TAF) 2025 hadir mengusung tema "Machine of Memory". Pembukaan acara akan dilaksanakan hari ini, Jumat (31/10) pukul 16.00 WIB di di Kota Budaya Ulluan Nughik, Tulang Bawang Barat, Lampung.

Direktur TAF, Semi Anggara, menjelaskan “Machine of Memory” merupakan metafora tentang bagaimana ingatan dan imajinasi masa depan bekerja dalam lapis-lapis kebudayaan.

"Kita sering memahami ingatan sebagai sesuatu yang bersifat personal: kenangan masa kecil, cerita keluarga, pengalaman emosional yang membekas. Namun, di balik itu, ingatan juga merupakan konstruksi sosial," ungkap Semi melalui pesan tertulis yang diterima redaksi Tirto.id, Jumat (31/10/2025).

Semi menerangkan, sebagai konstruksi sosial, ingatan dijaga oleh bahasa, dipelihara oleh ritual, diturunkan lewat cerita, serta ditanamkan dalam simbol-simbol kolektif. Ingatan bekerja seperti mesin yang merangkai individu ke dalam komunitas, lalu menghubungkan komunitas itu dengan sejarah panjangnya.

"Dan seperti semua mesin, ingatan tidak pernah bekerja netral. Ada bagian yang disorot, ada yang dipinggirkan, bahkan ada yang disembunyikan," sambung Semi.

Dalam TAF 2025, sejarah, ingatan, dan arsip dihidupkan kembali melalui seni, sehingga menjadi pengetahuan baru yang menghubungkan masa kini dengan masa lalu sekaligus membaca kemungkinan masa depan.

Bertolak dari kerangka berpikir semacam itulah TAF 2025 bergerak. Sastra tutur masyarakat Tiyuh Toho di Tulang Bawang Barat, misalnya, yang para penuturnya kini sangat terbatas, dihidupkan kembali sebagai pengetahuan baru lewat pertunjukan teater musikal anak.

Sementara dalam pertunjukan tari, salah satu mata acara TAF 2025, tapis Megou Pak dengan ragam motifnya tidak hanya berhenti sebagai pakaian wanita, tetapi juga dipertemukan dengan ingatan tubuh para pemakainya. "Dalam konteks inilah gerak dan identitas tubuh terhubung dengan sesuatu yang membungkusnya," ungkap Semi.

Selain itu, ada juga pemeran arsip penyelenggaraan pendidikan karakter khas Tulang Bawang Barat, nenemo (nemen/kerja keras, nedes/konsisten, nerimo/ ikhlas) di sekolah se–Tulang Bawang Barat oleh Tubaba Cerdas. Arsip-arsip keluarga dan yang personal dari warga Tubaba juga dilihat ulang, dibaca, dan dituliskan sebagai pengetahuan baru lewat pameran seni rupa Sekolah Seni Tubaba, serta ragam re-aktivasi arsip lainnya.

Dimulai dengan Pesta Sastra Tubaba

Semi menyebut gelaran TAF kali ini terasa lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya, karena sebelum seremoni pembukaan, tepat pada hari yang sama, Sekolah Seni Tubaba menggelar Pesta Sastra Tubaba. Acara ini didukung oleh oleh Kementrian Kebudayaan Republik Indonesia melalui program Penguatan Komunitas Sastra.

Lepas dari kegiatan Pesta Sastra Tubaba, Semi menyebut Sekolah Seni Tubaba juga menjanjikan satu gelaran sastra yang inklusif.

"Bayangkan kegiatan ini dibuka dengan pembacaan puisi mantra ikan, dan penyair yang membacakan puisi mengajak semua warga untuk mancing bersama di sungai kawasan Ulluan Nughik," kata Semi.

Selain itu, acara lain yang tak kalah menarik adalah kompetisi baca puisi berhadiah ayam jago.

Adapun dua buku penting yang menjadi materi Pesta Sastra Tubaba adalah “Rahasia Kesaktian Raja Tua” karya Zen Hae dan “Empedu Tanah” karya Inggit Putria Marga. Arman Az (sejarawan Lampung) dan Hilmi Paiq (Redaktur Budaya Kompas) ambil bagian dalam diskusi kedua buku tersebut.

Kelompok musik Trio Berdua (Bandung) dan Orkes Bada Isya ( Bandar Lampung) turut memeriahkan acara ini. Panitia juga membagikan ratusan buku sastra secara gratis.

Festival Seni Tubaba 2025

Beberapa buku sastra yang didiskusikan dan dipamerkan di Festival Seni Tubaba 2025. Dokumentasi: Foto/Dok. Istimewa

Tentang Tubaba Art Festival

Tubaba Art Festival merupakan festival seni berbasis kreativitas warga yang mengapungkan nilai atau falsafah hidup Tubaba, yaitu nemen/kerja keras, nedes/konsisten, nerimo/ikhlas, setara, sederhana, dan lestari (Nenemo SSL).

Mulanya, kegiatan ini digelar sebagai presentasi akhir dari proses belajar seni untuk warga pada Kelas Kesenian Tubaba (kini Sekolah Seni Tubaba) pada tahun 2016. Seiring waktu, presentasi ini tumbuh menjadi ruang pertemuan/pertukaran antara warga dan seniman lintas disiplin, baik skala nasional maupun internasional.

"Festival ini juga sering kali disebut festival kesadaran," pungkas Semi.

Terselengara berkat kerjasama Pemerintah Daerah Tulang Bawang Barat melalui Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata dengan berbagai lembaga kebudayaan intedependen, di antaranya Sekolah Seni Tubaba. Sejak tahun 2023, TAF didukung oleh Kementrian Pariwisata Republik Indonesia melalui platform Karisma Event Nusantara (KEN).

TAF ke-9 digelar pada 31 Oktober–1 November 2025 di Kota Budaya Ulluan Nughik Tubaba. Kelompok musik Banda Neira dijadwalkan menjadi salah satu pengisi acara.

Narahubung: 0819 9625 0889 ( Ikra)

Baca juga artikel terkait FESTIVAL SENI

tirto.id - Aktual dan Tren
Sumber: Siaran Pers
Editor: Zulkifli Songyanan