Menuju konten utama

Trump Mungkin Tetap Rebut Kharg Island Meski Ada Perundingan

Presiden Donald Trump masih berambisi untuk mengambil alih Kharg Island di Iran meski saat ini ada upaya mengembalikan AS-Iran di meja perundingan.

Trump Mungkin Tetap Rebut Kharg Island Meski Ada Perundingan
Pulau Kharg di Iran/Google Maps

tirto.id - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan tetap merebut Pulau Kharg (Khardg Island) meskipun upaya perundingan tengah diupayakan. Hal ini disampaikan Trump di tengah persiapan penerjunan lebih banyak tentara Angkatan Darat AS ke kawasan Teluk.

Mengutip AP, Trump menyatakan isyarat perebutan Kharg Island itu dalam wawancaranya untuk The Financial Times. Presiden AS itu menyebut, opsi perebutan Pulau Kharg tetap berlaku sampai sekarang.

"Mungkin kita merebut Pulau Kharg, mungkin juga tidak. Kami memiliki banyak pilihan," tutur Trump pada Senin (30/3/2026).

Jika memutuskan untuk merebut Pulau Kharg, Trump menyebut bahwa prajurit AS akan ditempatkan di pulau kecil di bagian utara Selat Hormuz itu "untuk sementara waktu". Pulau Kharg selama ini dikenal sebagai salah satu terminal distribusi minyak di Teluk Persia.

Trump juga menyebut bahwa perebutan Pulau Kharg akan berlangsung "sangat mudah" karena rendahnya infrastruktur pertahanan yang ada di sana.

"Saya rasa mereka tidak memiliki pertahanan apa pun," katanya.

Sementara itu, para analis menilai bahwa pengerahan prajurit ke pulau tersebut dapat berisiko menelan korban yang besar. Untuk sampai ke sana, unit invasi AS perlu melewati Selat Hormuz dan sebagian besar Teluk Persia, membuat mereka berada dalam jangkauan artileri Teheran dari daratan.

Di sisi lain, upaya penghentian perang melalui meja perundingan dilaporkan tengah berjalan meski Trump mengisyaratkan eskalasi konflik ketimbang de-eskalasi.

Pakistan menyatakan pada Minggu (29/3/2026) bahwa mereka akan menjadi tuan rumah dialog AS-Iran. Namun, belum ada pernyataan terkait hal ini dari Teheran dan Washington. Pernyataan Pakistan juga tak menyiratkan secara eksplisit bahwa penghentian perang akan jadi agenda utama dialog tersebut.

Alih-alih menyiratkan adanya upaya de-eskalasi konflik, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menyatakan bahwa Teheran siap "membakar" unit invasi AS jika melakukan invasi ke wilayah mereka.

"Pasukan Iran menunggu kedatangan Amerika di lapangan untuk membakar mereka dan menghukum mitra regional mereka selamanya," kata Ghalibaf sebagaimana dikutip kantor berita Iran.

Meski begitu, Trump menyebut bahwa telah terjadi kesepakatan antara Washington dan Teheran terkait akses Selat Hormuz. Ia menyebut bahwa Teheran telah setuju untuk mengizinkan 20 kapal pengangkut minyak melewati Hormuz dalam beberapa hari ke depan "sebagai tanda penghormatan".

"Saya hanya akan mengatakan bahwa kami bekerja dengan baik dalam negosiasi itu, tetapi Anda tidak pernah tahu dengan Iran karena kami bernegosiasi dengan mereka kemudian kami selalu harus menghancurkan mereka," katanya tentang akses lintas Selat Hormuz.

Iran Terus Menekan Negara Teluk

Sementara ketidakpastian akan akhir perang masih berlangsung, Iran terus menekan negara-negara Teluk dan Israel lewat serangan rudal.

Dalam beberapa hari terakhir, pusat penelitian nuklir utama Israel dilaporkan jadi target serangan Teheran. Israel juga baru sama melaporkan pencegatan dua drone yang diluncurkan dari Yaman, tempat organisasi militer Houthi yang didukung Iran beroperasi.

Di negara-negara Teluk, Iran juga terus meningkatkan tekanan. Arab Saudi masih terus melaporkan adanya upaya serangan rudal dengan Provinsi Timur yang kaya minyak sebagai targetnya.

Alarm rudal juga terus meraung di Bahrain. Sementara itu, proyektil meledak di langit Dubai setelah sebuah rudal dicegat sistem pertahanan Uni Emirat Arab (UAE).

Kantor berita KUNA milik Kuwait melaporkan bahwa serangan Iran telah menghantam pembangkit listrik dan pabrik desalinasi di sana. Setidaknya 1 pekerja tewas dan 10 tentara terluka karenanya.

Serupa Iran, Israel juga masih terus menekan Iran dengan serangan, baik ke Teheran maupun Lebanon. Militer negara Zionis itu menyebut bahwa mereka baru saja menyerang "infrastruktur militer" di seluruh Teheran, meskipun media Iran melaporkan adanya serangan ke salah satu fasilitas Petrokimia Tabriz di sebelah utara Iran.

Serangan Israel juga menewaskan seorang tentara Indonesia anggota unit perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon. Hal ini terjadi ketika sebuah proyektil meledak di dekat sebuah desa di wilayah selatan negara tersebut.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut bahwa ia akan memperluas invasi dengan meningkatkan luasan "jalur keamanan yang ada" di bagian selatan dan mengklaim hal itu penting untuk melawan milisi Hizbullah.

Perkembangan situasi ini juga telah berdampak pada meningkatnya harga minyak dunia setelah sempat turun. Harga spot minyak mentah Brent berada di angka USD115.

Di tengah serangan yang terus menerus terjadi, korban terbunuh dalam Perang Iran dengan AS-Israel terus meningkat. Orang-orang yang dibunuh berasal dari berbagai negara.

Lebih dari 1.900 orang mati terbunuh di Iran. Lebih dari 1.200 orang terbunuh di Lebanon. Sebanyak 19 orang mati di Israel. AS mengonfirmasi 13 tentaranya mati. Sementara sejumlah warga sipil di wilayah Teluk juga terkonfirmasi terbunuh.

Indonesia juga mencatatkan korban terbunuh setelah tentara anggota UNIFIL terbunuh akibat artileri yang meledak di tengah serangan Israel ke Lebanon.

Baca juga artikel terkait KONFLIK AS-IRAN atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar