Menuju konten utama

3 Jurnalis Tewas dalam Serangan Israel Terhadap Lebanon

Militer Israel mengakui serangan yang menewaskan para jurnalis tersebut, dengan menuduh bahwa Ali Shuaib bukan sekadar jurnalis, tapi bagian dari Hizbullah.

3 Jurnalis Tewas dalam Serangan Israel Terhadap Lebanon
Israel vs Lebanon. FOTO/iStockphoto

tirto.id - Tiga jurnalis tewas dalam serangan udara Israel yang menghantam sebuah mobil pers di Lebanon selatan, Sabtu (29/3/2026) waktu setempat. Peristiwa tersebut terjadi di tengah meningkatnya eskalasi konflik regional yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran.

Serangan tersebut menewaskan Fatima Ftouni bersama saudara sekaligus rekannya, yakni Mohammed dari jaringan Al Mayadeen, serta Ali Shuaib dari Al-Manar. Saat serangan terjadi, ketiganya berada di dalam kendaraan pers yang tengah berada di Jalan Jezzine.

Melansir Aljazeera, Minggu (29/3/2026), Al Mayadeen melaporkan bahwa empat rudal presisi menghantam kendaraan tersebut. Selain itu, sejumlah jurnalis lain dilaporkan mengalami luka-luka. Serangan juga disebut menyasar ambulans sehingga menyebabkan satu paramedis tewas.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa delapan paramedis lainnya juga tewas pada hari yang sama, sementara tujuh orang lainnya terluka dalam lima serangan terpisah terhadap fasilitas kesehatan di Lebanon selatan.

Militer Israel mengakui serangan yang menewaskan para jurnalis tersebut, dengan menuduh bahwa Ali Shuaib bukan sekadar jurnalis, tapi bagian dari, atau bekerja sama dengan unit intelijen Hizbullah. Menurut Israel, Ali mengumpulkan informasi tentang lokasi pasukan Israel, yang bisa dipakai untuk kepentingan militer.

Israel juga menuduh bahwa liputan atau pekerjaannya digunakan untuk menyebarkan narasi yang mendukung Hizbullah. Dalam hal ini, Israel mencoba membingkai bahwa korban bukan murni sipil/jurnalis, melainkan punya peran militer atau afiliasi dengan kelompok bersenjata, sehingga Israel menilai ketiga jurnalis itu merupakan target sah mereka.

“Ali Shuaib tertanam dalam unit intelijen Hizbullah dan telah melacak posisi pasukan Israel di Lebanon selatan,” ujar pihak militer Israel.

Namun, Al-Manar sebagai media tempat Ali Shuaib bekerja menyebut Ali sebagai salah satu koresponden perang paling terkemuka yang selama puluhan tahun meliput serangan Israel di Lebanon. Baik Al-Manar maupun Al Mayadeen menolak tuduhan yang disampaikan Israel.

Presiden Lebanon, Joseph Aoun, mengecam serangan tersebut dan menyatakan bahwa Israel kembali melanggar aturan paling mendasar dalam hukum internasional dengan menargetkan warga sipil yang tengah menjalankan tugas profesional mereka.

“Kejahatan terang-terangan yang melanggar semua norma dan perjanjian yang memberikan perlindungan internasional kepada jurnalis selama konflik bersenjata,” kata Joseph Aoun.

Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, juga mengutuk serangan itu sebagai pelanggaran mencolok terhadap hukum humaniter internasional.

Baca juga artikel terkait KONFLIK ISRAEL atau tulisan lainnya dari Nabila Ramadhanty

tirto.id - Flash News
Reporter: Nabila Ramadhanty
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Andrian Pratama Taher