tirto.id - Triclosan dan triclocarban adalah bahan kimia yang umum ditemukan pada produk sabun antiseptik. Kedua senyawa ini memang ampuh untuk melawan kuman, tapi apakah triclosan dan triclocarban benar-benar bermanfaat tanpa menimbulkan efek samping?
Sabun antiseptik sering dijadikan pilihan untuk membersihkan tangan maupun tubuh dari berbagai kuman. Berbeda dengan sabun biasa, sabun antiseptik umumnya mengandung bahan tambahan yang bisa membasmi atau menekan pertumbuhan mikroorganisme berbahaya.
Dua bahan yang paling umum ditemukan dalam sabun antiseptik adalah triclosan (TCS) dan triclocarban (TCC) yang sama-sama bertindak sebagai agen antimikroba. Namun, penggunaan bahan kimia ini diatur ketat dalam regulasi yang berlaku di Indonesia.
Sementara di Amerika Serikat, TCS dan TCC sudah dilarang digunakan dalam produk perawatan yang dijual bebas. Lalu, apakah triclosan dan triclocarban pada sabun benar-benar aman bagi tubuh atau justru menimbulkan risiko tertentu?
Apa Itu Triclosan dan Triclocarban

Triclosan dan triclocarban adalah senyawa kimia yang termasuk dalam kelompok antimikroba, jadi kedua senyawa ini sama-sama mampu menghambat atau membunuh mikroorganisme. Meski memiliki cara kerja yang serupa, tetap ada sedikit perbedaan di antara keduanya.
Triclosan (TCS)
Triclosan adalah senyawa kimia yang termasuk turunan fenol dan mengandung unsur klorin. Triclosan dikenal sebagai bahan antimikroba sehingga banyak dimanfaatkan sebagai bahan pengawet sekaligus antibakteri dalam berbagai produk sehari-hari.Triclosan memiliki rumus kimia C12H7Cl3O2. Zat ini sering ditemukan dalam produk perawatan pribadi seperti sabun mandi, pasta gigi, obat kumur, deodoran, hingga hand sanitizer.
Selain itu, triclosan juga digunakan dalam produk rumah tangga, misalnya deterjen cuci piring, talenan plastik, perlengkapan olahraga, hingga sepatu. Di bidang kesehatan, triclosan dipakai dalam sabun khusus untuk cuci tangan tenaga medis dan cairan pembersih sebelum tindakan operasi.
Triclosan bekerja dengan menyerang sel bakteri, terutama di sitoplasma dan membrannya. Triclosan bersifat bakteriostatik, yakni menghambat pertumbuhan bakteri dengan cara mengganggu proses pembentukan asam lemak.
Triclosan akan mengikat enzim enoyl-acyl carrier protein reductase (ENR) dan menghambat sintesis asam lemak. Akibatnya, membran sel bakteri melemah dan bakteri dapat mati. Manusia sendiri tidak memiliki enzim ENR sehingga tidak akan terdampak oleh mekanisme kerja triclosan ini.
Triclocarban (TCC)
Triclocarban adalah senyawa kimia dengan rumus C13H9Cl3N2O yang juga dikenal sebagai bahan antibakteri. Zat ini terutama efektif melawan bakteri gram positif seperti Staphylococcus aureus.Senyawa ini diketahui banyak digunakan dalam sabun batang, sabun cair, dan produk pembersih tubuh lainnya. Dikutip dari laman Safe Cosmetics, triclocarban juga bisa ditemukan dalam produk lain seperti pakaian, karpet, mainan plastik, dan masih banyak lagi.
Zat ini pun sering disebut sebagai analog dari triclosan karena memiliki aktivitas antibakteri yang mirip. Triclocarban dapat menghambat enzim penting dalam proses pembentukan membran sel. Ketika membran sel gagal terbentuk, maka pertumbuhan bakteri pun otomatis terganggu.
Benarkah Triclosan dan Triclocarban Berbahaya bagi Kesehatan?

Pada tahun 2016, U.S. Food and Drug Administration (FDA) melarang penggunaan triclosan dan triclocarban secara bebas, terutama pada produk perawatan seperti sabun, pasta gigi, obat kumur, deodoran, pembersih wajah, detergen, hingga kosmetik.
Larangan ini bukan tanpa alasan. FDA tidak menemukan bukti kuat bahwa sabun antibakteri yang mengandung triclosan/triclocarban lebih unggul daripada sabun biasa dalam melindungi diri dari bakteri.
Hal ini juga didokumentasikan dalam The Florence Statement on Triclosan and Triclocarban yang berisi pernyataan ilmiah dari lebih 200 ilmuwan dan profesional medis. Dokumen ini menyatakan bahwa penggunaan TCC/TCS dalam produk sehari-hari tidak memiliki manfaat kesehatan yang terbukti secara signifikan.
Tak hanya itu, TCC/TCS juga terbukti berbahaya bagi kesehatan. Banyak studi yang meneliti risiko bahaya yang ditimbulkan oleh kedua zat ini, salah satunya jurnal A Holistic Review on Triclosan and Triclocarban Exposure: Epidemiological Outcomes, Antibiotic Resistance, and Health Risk Assessment.
Studi ini menyimpulkan bahwa triclosan dan triclocarban yang banyak digunakan dalam produk perawatan, tekstil, hingga plastik, berpotensi menimbulkan dampak kesehatan meski pada dosis rendah, contohnya gangguan hormon dan peningkatan risiko resistensi antibiotik.
Sementara menurut jurnal Triclosan and Its Consequences on the Reproductive, Cardiovascular and Thyroid Levels, paparan kronis terhadap triclosan dapat menimbulkan dampak negatif pada kesehatan reproduksi (misalnya gangguan hormon reproduktif atau perkembangan janin).
Zat ini juga berpotensi memengaruhi fungsi jantung dan pembuluh darah, serta mengganggu keseimbangan hormon tiroid. Di sisi lain, mekanisme dan tingkat risikonya masih belum sepenuhnya pasti dan masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut.
Tak hanya sampai di situ, dalam studi lain berjudul Triclosan and Triclocarban as Potential Risk Factors of Colitis and Colon Cancer: Roles of Gut Microbiota Involved, kedua zat ini diketahui dapat memperparah kolitis dan meningkatkan risiko pembentukan tumor usus besar.
Dampak Negatif Triclosan dan Triclocarban pada Lingkungan

Tak hanya membahayakan kesehatan manusia secara langsung, triclosan dan triclocarban juga memiliki dampak negatif tersendiri pada lingkungan. Parahnya lagi, kedua zat ini tergolong presisten atau bertahan lama di berbagai media lingkungan sebelum akhirnya terurai.
Dalam jurnal Meta-Analysis of Biosolid Effects on Persistence of Triclosan and Triclocarban in Soil, terungkap bahwa biosolid (material untuk pupuk pertanian) yang mengandung triclosan dan triclocarban dapat mengubah sifat fisik dan kimia tanah.
Meski menyuburkan tanah, penggunaan biosolid yang terkontaminasi TCC/TCS meningkatkan persistensi triclosan dan triclocarban di lingkungan. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi lanjutan, misalnya penyerapan oleh tanaman atau masuk ke rantai makanan.
Sementara itu, dampak buruk triclosan juga disorot dalam jurnal bertajuk Toxic Effects of Triclosan in Aquatic Organisms: A Review Focusing on Single and Combined Exposure of Environmental Conditions and Pollutants.
Jurnal ini menyimpulkan bahwa triclosan sebenarnya adalah zat yang bersifat racun. Jika zat ini masuk ke lingkungan, triclosan diketahui memiliki efek toksik pada berbagai organisme air.
Aturan Triclosan dan Triclocarban dalam Sabun

Triclosan dan triclocarban terbukti memiliki dampak negatif tersendiri, baik pada kesehatan manusia maupun pada lingkungan. Namun, penggunaan kedua zat ini tidak benar-benar dilarang sepenuhnya dan ada aturan tersendiri terkait dosisnya meskipun berbeda di tiap negara.
Pada tahun 2016, FDA diketahui telah mengeluarkan aturan final yang melarang 19 bahan aktif dalam sabun antiseptik nonresep atau yang dijual bebas, dua di antara zat tersebut adalah triclosan dan triclocarban.
Larangan ini berlaku untuk sabun cair, sabun batang, sabun busa, dan body wash yang digunakan dengan air. Keputusan tersebut diambil karena produsen tidak dapat memberikan bukti bahwa bahan tersebut aman digunakan setiap hari dalam jangka panjang serta lebih efektif dari sabun biasa.
Sementara menurut dokumen Scientific Committee on Consumer Safety (SCCS) yang dikeluarkan oleh European Commission, TCS dan TCC masih boleh digunakan dalam beberapa produk dengan aturan ketat.
Khusus untuk sabun (termasuk produk rinse-off), triclocarban bisa digunakan maksimal 1,5%, sementara triclosan diizinkan dalam hand soap, body soap, hingga shower gel pada kadar maksimum 0,3%.
Di Indonesia, triclocarban dan triclosan juga masih diizinkan untuk dipakai selama kadarnya sesuai dengan Peraturan BPOM Nomor 25 Tahun 2025 tentang Persyaratan Teknis Bahan Kosmetik.
Dalam aturan tersebut, triclosan boleh digunakan dengan kadar maksimum 0,3% untuk sabun cuci tangan, sabun mandi, dan sabun cair. Triclocarban juga diizinkan dipakai dengan kadar maksimum 1,5% untuk sediaan bilas, termasuk sabun.
Demikian penjelasan terkait triclosan dan triclocarban, dampaknya pada kesehatan dan lingkungan, serta aturan kadar penggunaannya dalam produk sabun. Dengan memahami informasi ini, kita sebagai konsumen diharapkan dapat lebih bijak dalam memilih produk perawatan yang aman, sekaligus meminimalkan risiko bagi kesehatan dan lingkungan.
Butuh informasi lain seputar sabun maupun perawatan kulit? Temukan rekomendasi produk hingga tips-tips bermanfaat melalui kumpulan artikel Tirto di tautan ini:
Penulis: Erika Erilia
Editor: Erika Erilia & Yulaika Ramadhani
Masuk tirto.id































