Menuju konten utama

Tradisi Nyadran Jelang Bulan Suci Ramadhan

Nyadran merupakan tradisi turun temurun di Jawa yang diadakan setiap tahun

Tradisi Nyadran Jelang Bulan Suci Ramadhan
Sejumlah warga berjalan beriringan membawa tenong berisi berbagai jenis makanan saat acara tradisi Merti Dusun di kawasan lereng Gunung Sumbing Desa Tanggulangin, Selopampang, Temanggung, Jawa Tengah, Rabu (4/2/2026). Tradisi turun temurun tersebut dilaksanakan masyarakat setempat untuk mendoakan arwah leluhur sekaligus merupakan wujud kerukunan dan ajang silaturahmi warga pedesaan. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/foc.
2026/02/09/antarafoto-tradisi-nyadran-perdamaian-di-temanggung-1770614941_9760.jpg
Warga menyantap makanan bersama saat tradisi Nyadran Perdamaian di dusun toleransi Krecek, Getas, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (16/1/2026). Tradisi nyadran atau merti dusun yang diikuti umat Islam, Buddha, Katolik dan ajaran Sapta Dharma dengan tema "Merawat Alam Menjaga Bumi" tersebut merupakan tradisi turun temurun sebagai bentuk toleransi dan kerukunan warga lintas agama sekaligus sebagai bentuk pelestarian alam melalui budaya. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/bar
2026/02/09/antarafoto-tradisi-sadranan-sendang-pucung-gede-di-semarang-1770614916_9763.jpg
Sejumlah warga bergotong royong menguras sendang (mata air) saat mengikuti tradisi kirab budaya dan Sadranan Sendang Gede Pucung di Pudak Payung, Semarang, Jawa Tengah, Jumat (30/1/2026). Tradisi yang diadakan secara turun temurun dengan penyembelihan sebanyak 150 ekor ayam, menguras, dan membersihkan sendang itu dilakukan setiap tahun pada Jumat Pahing berdasarkan penanggalan Jawa sebagai simbol pembersihan diri sebelum menyambut bulan Ramadhan sekaligus melestarikan serta mengenalkan budaya leluhur kepada generasi muda. ANTARA FOTO/Makna Zaezar/foc.
2026/02/09/antarafoto-tradisi-nyadran-kramat-di-temanggung-1770614933_9756.jpg
Sejumlah warga menggiring kambing untuk disembelih saat tradisi Nyadran Kramat di Dusun Pete, Kembangsari, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (23/1/2026). Warga menyembelih sebanyak 94 ekor kambing pada tradisi Nyadran Kramat yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada bulan Ruwah tersebut sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME atas kemakmuran dan kesejahteraan. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/rwa.
2026/02/09/antarafoto-tradisi-nyadran-kramat-di-temanggung-1770614922_9755.jpg
Sejumlah warga mengusung gunungan Argo Boga saat tradisi Nyadran Kramat di Dusun Pete, Kembangsari, Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (23/1/2026). Warga menyembelih sebanyak 94 ekor kambing pada tradisi Nyadran Kramat yang dilaksanakan setiap dua tahun sekali pada bulan Ruwah tersebut sebagai wujud syukur kepada Tuhan YME atas kemakmuran dan kesejahteraan. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/rwa.
2026/02/09/antarafoto-tradisi-nyadran-perdamaian-di-temanggung-1770614936_9759.jpg
Warga memikul tenong berisi makanan saat tradisi Nyadran Perdamaian di dusun toleransi Krecek, Getas, Kaloran, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (16/1/2026). Tradisi nyadran atau merti dusun yang diikuti umat Islam, Buddha, Katolik dan ajaran Sapta Dharma dengan tema "Merawat Alam Menjaga Bumi" tersebut merupakan tradisi turun temurun sebagai bentuk toleransi dan kerukunan warga lintas agama sekaligus sebagai bentuk pelestarian alam melalui budaya. ANTARA FOTO/Anis Efizudin/bar
2026/02/09/antarafoto-kebersamaan-umat-dalam-tradisi-sadranan-di-merbabu-1770614971_9754.jpg
Warga membuka tenong berisi makanan saat Tradisi Sadranan di lereng Gunung Merbabu, Sidorejo, Genting, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026). Tradisi Sadranan yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat setempat pada bulan Ruwah penanggalan Jawa itu diikuti berbagai keyakinan masyarakat untuk bersama-sama mendoakan para leluhur sekaligus sebagai wujud kebersamaan dan persaudaraan antarmasyarakat. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/rwa.
2026/02/09/antarafoto-kebersamaan-umat-dalam-tradisi-sadranan-di-merbabu-1770614966_9753.jpg
Warga mengikuti Tradisi Sadranan di lereng Gunung Merbabu, Sidorejo, Genting, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026). Tradisi Sadranan yang turun temurun dilakukan oleh masyarakat setempat pada bulan Ruwah penanggalan Jawa itu diikuti berbagai keyakinan masyarakat untuk bersama-sama mendoakan para leluhur sekaligus sebagai wujud kebersamaan dan persaudaraan antarmasyarakat. ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/rwa.
2026/01/22/antarafoto-tradisi-nyadran-ngijo-jelang-ramadhan-1769067907_9030.jpg
Sejumlah warga berdoa saat berziarah di makam keluarganya dalam tradisi Nyadran di kompleks Pemakaman Umum Sentono, Kelurahan Ngijo, Gunungpati, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (22/1/2026). ANTARA FOTO/Aji Styawan/rwa.
2026/01/02/antarafoto-tradisi-nyadran-rejeban-plabengan-1767333765_8353.jpg
Sejumlah penari mementaskan tari Kuda Lumping saat tradisi Nyadran Rejeban Plabengan di kawasan lereng Gunung Sumbing Dusun Cepit, Pagergunung, Bulu, Temanggung, Jawa Tengah, Jumat (2/1/2026).ANTARA FOTO/Anis Efizudin/YU
2026/02/06/antarafoto-kebersamaan-umat-dalam-tradisi-sadranan-di-merbabu-1770368690.jpg
Warga membawa tenong berisi sajian makanan saat Tradisi Sadranan di lereng Gunung Merbabu, Sidorejo, Genting, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/2/2026). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/rwa.

tirto.id - Nyadran merupakan tradisi turun temurun di Jawa yang diadakan setiap tahun. Nyadran sangat kental dengan kebudayaan Jawa, Tradisi nyadran berasal dari daerah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur. Tradisi ini dipercaya sudah berlangsung selama ratusan tahun dan dilestarikan secara turun temurun.

Nyadran di beberapa wilayah di Indonesia dikenal dengan nama yang beragam. Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Kulon Progo tradisi nyadran dikenal sebagai kenduri massal yang bermanfaat untuk mempererat tali persaudaraan.

Di wilayah Jawa Tengah, seperti di Boyolali tradisi nyadran juga dikenal dengan sebutan sadranan. Sementara, wilayah Jawa Timur seperti Bojonegoro tradisi nyadran juga sering disebut dengan manganan atau sedekah bumi.

Tradisi nyadran rutin diadakan masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadan atau bulan Ruwah dalam kalender Jawa, tepatnya pada tanggal 15, 20, dan 23, 25 Ruwah. Namun ada juga yang menggunakan acuan hari dan pasaran tertentu dalam menentukan hari nyadran.

Nyadran merupakan bentuk syukur karena telah diberikan kesempatan oleh Allah SWT, untuk kembali menemui bulan Ramadan. Dalam rasa syukur itu, orang Jawa tidak pernah diajarkan untuk lupa kepada leluhur yang telah memberikan kasih sayang.

Oleh sebab itu, salah satu bentuk berbakti, masyarakat Jawa datang ke makam para leluhur untuk membersihkan sekaligus mendoakan arwah mereka yang sering juga disebut ziarah kubur. selain itu sekaligus merupakan wujud kerukunan dan ajang silaturahmi warga pedesaan.

Baca juga artikel terkait VISUAL atau tulisan lainnya dari Qurrota Ayun

Oleh: Qurrota Ayun
Editor: Agung DH