









tirto.id - Nyadran merupakan tradisi turun temurun di Jawa yang diadakan setiap tahun. Nyadran sangat kental dengan kebudayaan Jawa, Tradisi nyadran berasal dari daerah Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur. Tradisi ini dipercaya sudah berlangsung selama ratusan tahun dan dilestarikan secara turun temurun.
Nyadran di beberapa wilayah di Indonesia dikenal dengan nama yang beragam. Di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Kabupaten Kulon Progo tradisi nyadran dikenal sebagai kenduri massal yang bermanfaat untuk mempererat tali persaudaraan.
Di wilayah Jawa Tengah, seperti di Boyolali tradisi nyadran juga dikenal dengan sebutan sadranan. Sementara, wilayah Jawa Timur seperti Bojonegoro tradisi nyadran juga sering disebut dengan manganan atau sedekah bumi.
Tradisi nyadran rutin diadakan masyarakat Jawa menjelang bulan Ramadan atau bulan Ruwah dalam kalender Jawa, tepatnya pada tanggal 15, 20, dan 23, 25 Ruwah. Namun ada juga yang menggunakan acuan hari dan pasaran tertentu dalam menentukan hari nyadran.
Nyadran merupakan bentuk syukur karena telah diberikan kesempatan oleh Allah SWT, untuk kembali menemui bulan Ramadan. Dalam rasa syukur itu, orang Jawa tidak pernah diajarkan untuk lupa kepada leluhur yang telah memberikan kasih sayang.
Oleh sebab itu, salah satu bentuk berbakti, masyarakat Jawa datang ke makam para leluhur untuk membersihkan sekaligus mendoakan arwah mereka yang sering juga disebut ziarah kubur. selain itu sekaligus merupakan wujud kerukunan dan ajang silaturahmi warga pedesaan.
Editor: Agung DH
Masuk tirto.id
































