









tirto.id - Pukul 04.11 WIB, alunan musik etnik Dayak Bidayuh masih menggema dari Rumah Adat Baluk di Dusun Sebujit Baru, Desa Hli Buei, Kecamatan Siding, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Musik tradisional yang dimainkan warga setempat itu telah mengalun sejak malam sebelumnya dan terus ditabuh hingga menjelang fajar.
Di tengah suasana subuh yang masih hening, bunyi alat musik tersebut menjadi penanda dimulainya rangkaian ritual sekaligus panggilan bagi masyarakat untuk berkumpul di Rumah Adat Baluk, pusat kehidupan budaya Dayak Bidayuh di kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia.
Ketua Panitia Nyobeng 2026 Gregorius Gunawan menjelaskan bahwa bagi masyarakat Dayak Bidayuh, Rumah Baluk bukan sekadar bangunan adat, melainkan ruang spiritual tempat doa-doa adat dipanjatkan, leluhur dihadirkan, serta hubungan antara manusia, alam, dan dunia tak kasat mata dijaga agar tetap seimbang.
Tak lama kemudian, Kepala Adat Desa Hli Buei Amin anak Dot tiba di Rumah Adat Baluk dengan dituntun oleh anaknya, Gunawan untuk memimpin ritual paduapm, yakni prosesi memanggil arwah leluhur agar hadir dan memberkati jalannya perayaan. Dalam ritual yang berlangsung khidmat itu, Amin mengenakan ikat kepala dari kain putih sebagai simbol kesucian.
Prosesi sakral itu kemudian ditutup dengan tabuhan alat musik tradisional, mengakhiri rangkaian ritual yang telah menjadi bagian dari pelaksanaan Gawai Nyobeng secara turun-temurun.
Menjelang berakhirnya ritual, Amin anak Dot duduk di tepi jendela Rumah Adat Baluk yang terbuka sambil menyerukan ajakan kepada warga untuk berkumpul. Seruan tersebut menjadi panggilan bagi masyarakat Sebujit untuk menyambut tamu serta para leluhur yang dipercaya hadir dalam perayaan Gawai Nyobeng. Masyarakat setempat meyakini panggilan tersebut bergema dari gunung ke gunung dan dari lembah ke lembah, menjangkau para leluhur hingga ke wilayah Sarawak, Malaysia, tempat komunitas Dayak Bidayuh juga bermukim.
Ketika matahari mulai meninggi, suasana kampung berubah semakin ramai. Ucapan "Selamat Gawai" terdengar bersahut-sahutan setiap kali warga berpapasan. Senyum dan jabat tangan hangat mengiringi langkah masyarakat yang berdatangan ke Rumah Adat Baluk untuk mengikuti puncak perayaan Gawai Nyobeng atau Nibakng 2026, sebuah tradisi yang menjadi ungkapan syukur atas hasil panen sekaligus penanda dimulainya masa bercocok tanam.
Bagi masyarakat Dayak Bidayuh, Nyobeng bukan sekadar perayaan adat. Tradisi ini menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan, menjaga identitas budaya, serta menghormati warisan leluhur yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Kemudahan akses menuju Dusun Sebujit Kecil turut mengubah wajah kampung yang berada di kawasan perbatasan tersebut.
Warga Dusun Sebujit Kecil Yohanes mengenang masa ketika perjalanan menuju Sebujit masih mengandalkan kapal motor melalui jalur sungai. Setelah itu, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar dua jam melewati jalan setapak sebelum akhirnya tiba di kampung.
"Dulu kalau ada tamu dari luar biasanya datang lewat sungai, kemudian jalan kaki lagi cukup jauh. Sekarang jalan sudah bagus sehingga lebih mudah dijangkau kendaraan," kata Yohanes.
Letak Sebujit yang berada di kawasan perbatasan Kalimantan Barat dan Sarawak menjadikan Gawai Nyobeng tidak hanya dihadiri masyarakat setempat, tetapi juga menarik kunjungan warga dari Sarawak, Malaysia. Kehadiran mereka bukan sekadar sebagai tamu, melainkan bagian dari ikatan budaya dan kekerabatan yang telah terjalin jauh sebelum batas negara membelah Pulau Borneo.
Masyarakat Dayak Bidayuh di Bengkayang dan Sarawak berasal dari rumpun yang sama, memiliki kesamaan bahasa, adat istiadat, serta tradisi yang masih terjaga hingga kini sehingga perayaan tersebut menjadi ajang pertemuan masyarakat serumpun di kedua wilayah.
Bupati Bengkayang Sebastianus Darwis yang hadir dalam perayaan tersebut menilai Nyobeng memiliki peran penting dalam menjaga nilai-nilai budaya masyarakat perbatasan.
"Tradisi Nyobeng mengandung nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur, seperti gotong royong, persaudaraan, penghormatan terhadap adat dan budaya, serta semangat hidup rukun dalam keberagaman," ujarnya.
Suasana perayaan semakin semarak dengan tarian adat Dayak Bidayuh yang diiringi alunan musik tradisional. Beragam prosesi budaya mewarnai kawasan Rumah Adat Baluk yang menjadi simbol identitas masyarakat Sebujit.
Di antara berbagai kegiatan yang digelar, panjat bambu terbalik menjadi salah satu atraksi yang paling dinantikan. Sorak-sorai penonton pecah ketika para peserta berusaha menaklukkan batang bambu yang menjulang tinggi. Kemeriahan itu menjadi pelengkap suasana kebersamaan yang mewarnai perayaan sepanjang hari.
Bagi masyarakat Dayak Bidayuh, Gawai Nyobeng tidak hanya menjadi momentum perayaan hasil panen, tetapi juga wadah memperkuat hubungan antarsesama. Tradisi ini menjadi ruang perjumpaan masyarakat serumpun dari Indonesia dan Malaysia yang dipersatukan oleh akar budaya yang sama.
Di tengah arus modernisasi, Gawai Nyobeng terus bertahan sebagai penanda identitas masyarakat Dayak Bidayuh di kawasan perbatasan. Dari Sebujit, denyut persaudaraan itu terus hidup, melintasi batas negara dan menghubungkan kembali masyarakat yang tumbuh dari tanah Borneo yang sama.
Foto dan Teks: ANTARA FOTO/Jessica Wuysang
Masuk tirto.id

































