










tirto.id - Bumi Kamojang membuktikan bahwa energi terbarukan tidak melulu soal megawatt yang dialirkan ke jaringan listrik nasional, melainkan tentang bagaimana kehangatan dari dalam bumi bisa langsung menyentuh, merawat, dan menghidupkan ekonomi masyarakat di atasnya.
Salah satu berkah terbesar yang lahir dari tanah tinggi ini adalah kopi Arabika Kamojang, sebuah komoditas spesial unggulan yang tumbuh subur berkat iklim dan ekosistem yang terjaga.
Di daerah pegunungan yang kerap diguyur hujan dan diselimuti kelembapan tinggi, proses pascapanen khususnya pengeringan biji kopi sering kali menjadi pertaruhan yang melelahkan, jika terlalu lama basah berisiko ditumbuhi jamur, menurunkan kualitas, dan otomatis menjatuhkan harga jual di pasaran.
Menjawab kegelisahan tersebut, sebuah inovasi Geothermal Dry House dengan memanfaatkan steam trap atau jebakan uap panas bumi sebagai sumber panas alternatif yang dialirkan ke dalam ruang-ruang pengeringan untuk mempercepat pengeringan kopi hasil kolaborasi para pelaku usaha kopi lokal dengan PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) Tbk yang merupakan Perusahaan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pertama dan tertua di Indonesia.
"Dulu sebelum ada ruang pemanas ini kita lama di proses penjemurannya, kadang sebulan kadang lebih. Kalau hujan kan repot," kata Aldin Gymnastiars, seorang petani kopi di Kamojang.
Melalui teknologi ini, ketergantungan penuh pada sinar matahari berhasil dipangkas.
Proses pengeringan yang dulunya memakan waktu hingga 45 hari di musim hujan, kini hanya tiga sampai sepuluh hari saja. Sebuah lompatan operasional yang meningkatkan efisiensi hingga 300 persen.
Bagi Aldin dan ratusan petani lainnya, berkah panas bumi ini seperti sebuah keajaiban yang dihadirkan langsung dari alam. Proses yang higienis dan suhu yang terkontrol di dalam Dry House menghasilkan biji kopi dengan tingkat kematangan yang konsisten dan mutu yang terjaga.
Nilai tambah inilah yang menaikkan kelas kopi Kamojang di mata para penikmat kopi dunia.
Keberadaan Geothermal Dry House kini telah mengikat rasa kebersamaan yang kuat di Kamojang. Kerja keras yang berpadu dengan inovasi teknologi hijau itu akhirnya membuahkan hasil yang manis. Kopi Arabika Kamojang tidak lagi sekedar dinikmati di kedai-kedai lokal, melainkan telah mendunia, menembus pasar internasional ke kawasan Benua Asia hingga Eropa dengan volume ekspor mencapai 20 ton per tahun.
Seratus tahun perjalanan panas bumi di Indonesia menorehkan sebuah catatan penting, bahwa energi terbaik adalah energi yang berkelanjutan, yang berasal dari potensi asli bumi pertiwi, dan mampu bertumbuh selaras dengan kesejahteraan manusianya.
Di balik kabut Kamojang, secangkir kopi yang mendunia tidak sekadar menyajikan cita rasa, tetapi juga menyampaikan pesan bahwa kemajuan industri dapat berjalan selaras dengan pelestarian alam demi masa depan yang lebih hijau.
Foto & Teks : ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja
Masuk tirto.id































