Hari Raya Idulfitri 2022

Tradisi Menukar Uang Baru Jelang Lebaran: Praktis tapi Bisa Bahaya

Reporter: Alfian Putra Abdi - 29 Apr 2022 03:00 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Perilaku masyarakat yang gemar menggunakan jasa penukaran uang baru non-bank jelang lebaran didorong oleh kemudahan aksesibilitas.
tirto.id - Menuju pintu masuk Stasiun Jakarta Kota, kaki Lutfi (31) langgeng melangkah. Tepat di dekat tangga loket stasiun, seorang penyedia jasa uang baru memanggilnya. Lutfi ditawarkan pecahan uang beragam nominal, dari Rp2 ribu hingga Rp50 ribu.

Ia berpikir sejenak: Hari Raya Idul Fitri kian dekat. Ia belum punya uang recehan. Tentu famili, terutama para bocah menantikan hal tersebut.

Lutfi menjumput uang Rp200 ribu dan Rp20 ribu dari dalam kopek. Ia mau tukar dengan pecahan Rp10 ribu, sebanyak 20 lembar. Kelebihan Rp20 ribu adalah untung bagi si penjual.

Sebelum akad jual-beli sah, Lutfi menghitung nominalnya. Uang baru itu terbungkus plastik. Macam tempe. Jumlahnya sesuai. Lutfi pulang.

Namun, hati kecil Lutfi sebenarnya masih bertanya-tanya: ini uang palsu atau asli. Ia tak sempat menanyai penjual. Ia lihat lagi uang dalam plastik itu, gepokan yang mirip tempe.

“Ada logo BI diiketannya. Duitnya masih pada lempeng,” ujar Lutfi mengingat kejadian tiga tahun lalu. Ia kisahkan ulang kepada saya pada Senin (18/4/2022) malam. “Wangi duit dah.”

Ia berusaha yakin itu uang asli.

Bagi orang yang butuh pecahan uang baru dengan cepat, kehadiran penukar uang memang menguntungkan. Meski rugi Rp20 ribu. Bagi Lutfi itu setimpal ketimbang harus ke bank.

“Males kalau antre. Yang praktis aja,” tukas pegawai swasta ini.

Namun, lebaran tahun ini, ia berencana menukar uang kembali. Tidak ke Stasiun Jakarta Kota. Tidak kepada penukar uang baru di wilayah mana pun. Lutfi akan menukarnya di bank.

Ia sudah punya tips agar terhindar dari antrean.

“Biasanya nyokap gua nawarin, dari temannya. Enggak ada biaya lebih juga. Langsung dari bank,” ujarnya.



Untuk Ramadan dan Lebaran 2022, Bank Indonesia menyiapkan uang tunai layak edar sebanyak Rp175,26 triliun. Menurut Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S Budiman, jumlah tersebut naik 13,42 persen dari tahun sebelumnya.

“Hal itu dilakukan untuk memastikan kelancaran sistem pembayaran nasional. Terutama memfasilitasi kegiatan perekonomian dan kebutuhan masyarakat,” ujar Aida dalam keterangan resmi pada 4 April 2022.

BI juga mengaktifkan kembali pelayanan penukaran uang atau kas keliling. Terdapat 5.013 titik penukaran uang di 262 bank di seluruh Indonesia sejak 4 April 2022 hingga 29 April 2022. Jumlah titik tersebut meningkat delapan persen dari Idulfitri 2021.

Titik penukaran uang dari Bank Indonesia bisa dicek di sini.

Untuk memudahkan transaksi dalam situasi COVID-19, BI juga menyiapkan mekanisme khusus melalui aplikasi PINTAR BI di pintar.bi.go.id. Masyarakat bisa mendaftar terlebih dahulu sebelum mendatangi layanan mobil kas keliling.

“Guna menghindari kerumunan, masyarakat diharapkan memesan penukaran terlebih dahulu melalui aplikasi PINTAR (https://pintar.bi.go.id) sebelum hadir ke lokasi kas keliling. Lebih lanjut mekanisme pemesanan melalui aplikasi PINTAR dapat dilihat,” tandas Aida.

Ada Bahaya di Balik Kepraktisan

Kemunculan bisnis jasa penukaran uang baru, tidak hanya dipengaruhi tradisi memberikan amplop saat hari raya Idulfitri. Melainkan karena permintaan uang baru meningkat, sementara kemampuan Bank Indonesia mencetak uang baru terbatas.

“BI tidak mungkin cetak uang baru tanpa batas. Bisa inflasi nanti,” ujar Perencana Keuangan Finansia Consulting, Eko Endarto kepada reporter Tirto, Senin (18/4/2022).

Menurut Eko, perilaku masyarakat yang gemar menggunakan jasa penukaran uang baru non-bank didorong oleh kemudahan aksesibilitas. Baik dari segi lokasi dan waktu. Masyarakat pun tak mesti mengantre saat transaksi.

“Ke Kas Keliling, kan, harus antre. Terus ada jam dan lokasi yang enggak semua bisa jangkau. Ke bank juga bisa, tapi bank punya prioritas untuk nasabah,” ujarnya.



Eko mengimbau masyarakat berhati-hati saat menukarkan uang baru di jalanan. Bagaimana pun transaksi di ruang terbuka berpotensi mendatangkan kriminalitas.

Ia menyarankan melakukan transaksi secara bertahap dan tidak dalam jumlah banyak. Sebisa mungkin mencari tempat penukaran yang sudah berlangganan atau jaminan terpercaya.

Saat bertransaksi, masyarakat bisa membuat dokumentasi. Jaga-jaga jika setelah transaksi muncul masalah dan membutuhkan bukti kuat.

“Terakhir kalau memungkinkan pakai penukaran keliling BI. Karena pasti aman dari uang palsu dan kejahatan, karena ada pengamannya,” tukas Eko.

Transaksi uang, apalagi dalam jumlah besar di area terbuka mengandung sejumlah potensi kriminalitas. Kriminolog Australian National University, Leopold Sudayyono menilai, baik penyedia jasa dan pengguna jasa, sama-sama terbuka menjadi korban.

“Ada kesempatan terjadinya kejahatan akibat kesenjangan antara yang mampu atau pelaku transaksi dan yang tidak mampu atau calon pelaku,” ujar Leo kepada reporter Tirto.

Selain potensi ancaman dari pihak ketiga, transaksi uang baru di jalan memiliki potensi meningkatnya peredaran uang palsu. Lantaran transaksi dilakukan secara singkat dan bersifat putus.

Begitu juga dengan risiko penipuan lain, seperti penipuan nominal tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Sebagai bentuk antisipasi kejahatan, menurut Leo, Bank Indonesia mesti mendorong industri perbankan memperbanyak tempat penukaran uang baru. Sehingga masyarakat tidak beralih ke jasa penukaran uang di jalan.

“Karenanya yang dilakukan adalah menurunkan opportunity dengan cara mewajibkan pertukaran uang dilakukan di tempat resmi,” ujarnya.


Baca juga artikel terkait LEBARAN 2022 atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Abdul Aziz

DarkLight