tirto.id - Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Laut (AL) berhasil melakukan tangkapan komoditas timah dan logam tanah jarang (LTJ) senilai Rp173,6 miliar dari operasi keamanan laut sepanjang 2025 hingga 2026.
Hasil tangkapan itu disampaikan saat Latihan Anti Akses dan Anti Amfibi di wilayah perairan Bangka Belitung, Minggu (15/2/2026) yang turut disaksikan Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani.
Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Muhammad Ali meninjau barang bukti hasil Operasi Keamanan Laut (Opskamla) TNI AL yang bersinergi dengan Satgas Tri Cakti.
Barang bukti berupa 496,892 ton timah balok dan pasir timah serta 10.762,117 ton logam tanah jarang seperti zircon, ilmenite, dan monazite. Total estimasi nilai komoditas yang diamankan mencapai Rp173.644.528.000 atau sekitar Rp173,6 miliar.
Menurut Kasal, upaya pencegahan penyelundupan timah merupakan perintah langsung Presiden RI, Prabowo Subianto, dalam rangka memberantas praktik pertambangan ilegal dan penyelundupan sumber daya alam yang merugikan negara serta merusak lingkungan.
“TNI AL menegaskan komitmennya untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan tempur sekaligus memperkuat pengamanan sumber daya alam nasional di wilayah perairan Indonesia,” ujar Kasal dalam keterangannya, Minggu (15/2/2026).
Sebagai informasi, dalam latihan tersebut sejumlah unsur kapal perang dikerahkan, di antaranya KRI Raden Eddy Martadinata-331, KRI Brawijaya-320, KRI John Lie-358, KRI Cut Nyak Dien-375, KRI Tjiptadi-381, KRI Halasan-630, KRI Surik-645, KRI Semarang-594, dan KRI Pulau Fani-731.
Selain unsur laut, TNI AL juga melibatkan Satgas Udara berupa pesawat patroli maritim CN-235 MPA, pesawat Cassa untuk penerjunan tempur, dua helikopter Panther, Camcopter Puspenerbal, drone kamikaze, pasukan pendarat Korps Marinir, serta sistem roket Multi Launcher Rocket System (MLRS).
Latihan diwarnai penembakan meriam 76 mm dari KRI Raden Eddy Martadinata-331 serta aksi Visit Board Search and Seizure (VBSS) oleh prajurit KRI Brawijaya-320. MLRS Korps Marinir juga melaksanakan penembakan roket sebagai bagian dari skenario pertahanan pantai, disusul pendaratan amfibi oleh pasukan Marinir.
Kasal Muhammad Ali menyatakan latihan ini merupakan yang pertama kali digelar dengan melibatkan teknologi terbaru, termasuk drone surveillance, drone kamikaze, dan Mobile Command Center.
“Latihan Anti Akses dan Anti Amfibi ini baru pertama kali dilatihkan. Kita berupaya melibatkan seluruh teknologi yang baru kita terima,” pungkasnya.
Penulis: Nabila Ramadhanty
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id





























