tirto.id - Sebuah unggahan beredar di media sosial Threads mengklaim bahwa Gunung Lawu di Karanganyar, Jawa Tengah akan mengalami erupsi besar akibat adanya tekanan lempeng dari jalur Bojonegoro yang dipicu gempa di Palu, Sulawesi Tengah pada Selasa (16/6/2026).
Unggahan tersebut dibagikan oleh akun Threads @hsuliz2021 (arsip) pada Selasa (16/06/2026). Dalam unggahan dituliskan bahwa Gunung Lawu terindikasi lava naik karena chamber yang ada mulai penuh dan jalur Bojonegoro mendapat tekanan dan akan mengakibatkan erupsi yang sangat besar.
“Gunung no 7 yg akan erupsi besar adalah gn Lawu, saat ini ada indikasi lava naik, (chamber ada yg mulai penuh ) ada tekanan dari jalur Bojonegoro (maka bojonegoro salah satu kota yg tinggi tekanan lempeng, erupsi dipetkirakan sangat besar, ya waspada sekitar gn lawu.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.
Kemudian, unggahan tersebut menyebar ke media sosial Facebook pada akun “FadilLa Virgiawan” yang diunggah pada grup “Anda Bertanya Sains Menjawab.” Menurut pengunggah, aktivitas lempeng di Bojonegoro dipicu akibat gempa berkekuatan 6,7 magnitude yang mengguncang Palu.
“Bagaimana caranya mengetahui tanda2 yang alami bahwa gunung berapi yang "tertidur" tiba2 mau erupsi skala besar? Lagi viral di thread dan prediksi beliau tepat semua, di prediksi 5-6 jam yang lalu ada gempa susulan dan ya benar ada lebih gempa susulan di wilayah Sulawesi. Baru2 ini beliau menginformasikan bahwa Gunung Lawu akan seperti Gunung Krakatau yang sebelumnya juga gunung api yang tidur…” Begitu narasi dituliskan dalam unggahan.
Sampai artikel ini ditulis pada Senin (22/06/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 2,5 ribu likes, 682 komentar, 213 kali diunggah ulang, dan 758 kali dibagikan.
Salah satu komentar mengirimkan tangkapan layar berbahasa Inggris terkait keadaan tanah di Bojonegoro tidak akan mampu lagi bertahan dalam 5 hari sampai dengan 21 Juni 2026.
“Based on the soil type in Bojonegoro which is SOFT, MUDDY, AND WATER-SATURATED, plus the pressure already reaching 1,330 Bar, here is the maximum limit of its strength: MAXIMUM STRENGTH LIMIT OF BOJONEGORO GROUND: ABSOLUTE LIMIT: MAXIMUM ONLY 5 DAYS (120 HOURS). MEANING: If it passes 5 DAYS (by June 21, 2026), THE GROUND WILL NO LONGER BE ABLE TO HOLD ON. It will break, collapse, or change its form completely.” Begitu narasi yang dituliskan dalam salah satu komentar.
Lantas, benarkah Gunung Lawu akan mengalami erupsi besar karena dipicu gempa Palu yang menekan jalur Bojonegoro?

Penelusuran Fakta
Untuk memverifikasi klaim tersebut, pertama-tama Tirto mengetikkan kata kunci “Gunung Lawu akan erupsi besar karena gempa Palu,” pada mesin pencarian Google. Hasilnya, tidak ada informasi yang mengkonfirmasi atau menyangkal klaim teknis spesifik mengenai prediksi erupsi Gunung lawu karena gempa di Palu dan kondisi batas kekuatan tanah atau tekanan 1.330 Bar di Bojonegoro seperti yang disebutkan.
Melansir akun Instagram @badan.geologi, Badan Geologi menegaskan bahwa informasi yang beredar yang mengklaim Gunungapi Lawu akan mengalami erupsi besar adalah tidak benar (hoaks).
Hasil pemantauan dan penyelidikan menunjukkan tidak ada indikasi kenaikan lava, perubahan signifikan aktivitas magmatik, maupun bukti yang mendukung narasi yang beredar. Kondisi Gunungapi Lawu saat ini masih dalam kondisi normal berdasarkan data pengamatan. Penyelidikan geokimia tahun 2021 dan 2023 menunjukkan suhu kawah berkisar 90,8-92°C yang menunjukkan tidak ada indikasi kenaikan lava ke permukaan.
Data Badan Geologi menunjukkan, Gunung Lawu termasuk gunung api dengan tipe B. Artinya, gunung tersebut tidak memiliki catatan erupsi magmatik setelah 1600. Meskipun, Gunung Lawu memang masih menunjukkan aktivitas vulkanik, yakni berupa gas solfatara di Kawah Candradimuka. Namun, tidak terdapat pula catatan sejarah yang menunjukkan erupsi Gunung Lawu.
Melansir laman Kompas, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Geologi, Lana Saria menegaskan bahwa narasi yang menyebut adanya kenaikan lava, pengisian chamber magma, hingga tekanan lempeng Bojonegoro sehingga memicu erupsi Gunung Lawu adalah tidak benar. Hasil pemantauan dan penelitian Badan Geologi tidak menunjukkan adanya tanda-tanda seperti yang diklaim pengguna Threads.
Berdasarkan penelitian geokimia tim Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi Kementerian ESDM, gas yang muncul di Kawah Candradimuka di Gunung Lawu terdiri dari komposisi berikut ini: Uap air (H2O) Karbon dioksida (CO2) Hidrogen sulfida (H2S) Sulfur dioksida (SO2) Amonia (NH3) Nitrogen (N2) Hidrogen (H2). Menurut Badan Geologi, komposisi tersebut lazim ditemukan di gunung api aktif, seperti Gunung Lawu.
Kemudian, hasil analisis gas dan air panas yang dilakukan di sekitar Gunung Lawu memang menunjukkan bahwa sistem magmatis masih aktif. Akan tetapi, tidak ada perubahan signifikan pada komposisi gas dan air panas. Begitu juga dengan indikasi fluida magmatik ke permukaan.
“Hasil analisis dan beberapa frekuensi pengambilan sampel menunjukan bahwa tidak terjadi perubahan komposisi kimia air dan gas vulkanik yang signifikan, yang mengindikasikan tidak adanya kenaikan fluida (campuran gas, cairan, dan padatan batuan) ke permukaan Gunung Api Lawu sebagaimana ditulis dalam narasi hoaks di atas,” begitu keterangan Lana, Jumat (19/06/2026).
Dikutip Detik.com, peneliti senior Pusat Penelitian Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (Puslit MKPI) ITS, Dr Ir Amien Widodo menjelaskan bahwa jarak Palu dengan Bojonegoro di Jawa sangat jauh dan tidak sesuai dengan pergeseran patahannya.
Menurut Amien, lokasi gempa Palu berada di Kawasan Sesar Palu-Koro yang bergerak ke arah barat laut sehingga menjauhi Jawa. Adapun aktivitas sesar di Jawa, termasuk Sesar Kendeng lebih mungkin dipengaruhi oleh zona megathrust di selatan Jawa.
“(Palu) posisinya itu jauh sekali kan, di atas Jawa itu kan Kalimantan, terus Sulawesi sana ya. Nah, Sulawesi itu baru di atas Madura lah kiranya begitu. Nah, terus pergeseran sesarnya, pergeseran patahannya itu ke arah barat laut, jadi ke arah atas begitu, jadi miring terhadap Jawa itu miring. Jadi, enggak lurus langsung,” begitu keterangan Amien dikutip detikJatim, Jumat (19/6/2026).
Dengan demikian, tidak ada bukti yang mendukung klaim dalam narasi bahwa Gunung Lawu akan mengalami erupsi yang sangat besar dipicu gempa Palu yang menekan jalur Bojonegoro.
Masyarakat diimbau untuk tetap tenang, tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta selalu mengacu pada informasi resmi melalui MAGMA Indonesia, situs Badan Geologi, dan media sosial resmi Badan Geologi.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelusuran fakta, klaim yang menyebutkan bahwa Gunung Lawu akan mengalami erupsi sangat besar dipicu gempa Palu yang menekan jalur Bojonegoro adalah salah dan menyesatkan (false and misleading).
Badan Geologi Kementerian ESDM membantah klaim tersebut dan menyatakan aktivitas lava di Gunung Lawu dari hasil analisis gas serta air panas di sekitarnya tidak menunjukkan adanya erupsi besar ataupun pergerakan magma ke permukaan.
Adapun jarak Palu dengan Bojonegoro di Jawa sangat jauh dan tidak sesuai dengan pergeseran patahannya. Kondisi Gunung Lawu menunjukkan tidak ada perubahan signifikan pada komposisi gas dan air panas, serta tidak ada indikasi fluida magmatik naik ke permukaan.
==
Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.
Editor: Tim Riset Tirto
Masuk tirto.id





























