tirto.id - Sejak pagi, saat matahari mulai merangkak naik dari ufuk timur, bantaran Sungai Krueng Beukah di Desa Lhung Asan, Kecamatan Blang Pidie, Aceh Barat Daya (Abdya), telah dipadati ribuan warga.
Hari itu bukan sekadar hari biasa, ini menjadi momentum bersejarah bagi daerah yang dijuluki "Bumi Breuh Sigupai". Breuh Sigupai merupakan jenis beras dari Abdya yang terkenal harum dan pulen dan membuat Abdya yang memiliki potensi pertanian padi yang melimpah dijuluki nama tersebut.
Dari berbagai penjuru Abdya, masyarakat datang berbondong-bondong menuju titik yang telah ditentukan panitia. Tangan-tangan mereka menggenggam bilah-bilah bambu yang telah dipersiapkan sejak sehari sebelumnya. Bilah bambu itu jadi penanda partisipasi warga dalam sebuah tradisi besar: Teut Leumang.
Teut Leumang atau bakar leumang merupakan tradisi memasak beras ketan dan santan yang dimasukkan ke dalam bambu muda lalu dibakar. Tradisi ini telah turun temurun dilakukan untuk merayakan momen-momen istimewa seperti Maulid Nabi, meugang (menyambut Ramadhan/Idul Fitri), maupun perayaan budaya.

Hari itu, ratusan bambu telah diisi beras ketan yang dicampur santan dan dilapisi daun pisang. Selanjutnya, bambu akan dipanggang perlahan di atas bara api, sebuah teknik memasak tradisional yang membutuhkan kesabaran sekaligus ketelitian.
Tak lama, asap putih mulai mengepul, membentang mengikuti deretan bambu sepanjang kurang lebih satu kilometer. Bambu-bambu tersebut disandarkan di dekat api yang telah lebih dulu dinyalakan.
Setiap desa membawa sekitar 50 bilah bambu, disusun rapi dan dijaga bersama, menciptakan lanskap yang sarat makna kebersamaan.
Di tengah kesibukan itu, tawa anak-anak terdengar bersahut-sahutan, berpadu dengan canda warga yang saling membantu. Kehangatan suasana tak hanya datang dari bara api, tetapi juga dari kuatnya ikatan sosial yang terjalin.
Tradisi "Teut Leumang" telah mengakar dalam kehidupan masyarakat Abdya. Ia bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan warisan budaya yang terus dijaga lintas generasi.
Leumang pun bukan kudapan biasa. Ia hadir dalam momen-momen istimewa, mulai dari cara menyambut tamu kehormatan hingga hari besar keagamaan.
Di Abdya, Teut Leumang menjadi tradisi yang dilaksanakan saat menjelang bulan puasa (meugang Ramadhan), menjelang Idul Fitri dan Idul Adha, Rabu terakhir di bulan Safar sebagai tolak bala.
Tokoh masyarakat Abdya, Syabirin, menceritakan betapa sedih hati warga Abdya jika tak bisa pulang kampung di masa meugang.
"Istilah bahasanya 'uroe get buleun get, leumang Mak peuget meuteume rasa' (hari baik, bulan baik, leumang yang dibuatkan oleh ibu, bisa di nikmati)," katanya kepada kontributor tirto.id, Minggu (26/4/2026).
Warga Alur Sungai Pinang, Muzahar, bercerita bahwa Leumang juga biasanya disajikan jika ada tamu jauh yang datang.
"leumang biasanya dibuat di hari Meugang. leumang ini juga disajikan untuk keluarga yang pulang merantau ataupun ada tamu-tamu jauh yang bersilaturahmi ke rumah," kata Muzahar pada Sabtu (25/4) saat mengikuti acara tersebut.

Bagi masyarakat setempat, Teut Leumang juga membawa dampak yang lebih luas. Selain mempererat hubungan sosial, tradisi ini turut menggerakkan roda ekonomi warga.
Teut leumang yang dilaksanakan ini bukan semata menjalankan tradisi tapi mendorong pertumbuhan ekonomi yang langsung di rasakan oleh masyarakat.
Betapa tidak, ribuan batang bilah bambu dan lipat daun pisang yang digunakan dalam Teut Leumang kali ini menghabiskan hampir 8 ton beras ketan. Kegiatan ini juga meningkatkan perputaran uang di masyarakat dan pelaku UMKM yang berjualan di area Teut Leumang.
Bakar leumang juga menjadi sarana edukasi tradisi, adat budaya yang diturunkan dari generasi ke generasi.
"Karena bangsa yang baik dan beradab adalah yang tidak lupa sejarah dan tradisi, adat, dan budaya pendahulunya," tambah Syabirin.
Proses Membakar Leumang
Di balik kesederhanaannya, membuat leumang bukan perkara mudah. Prosesnya menuntut ketelatenan dan kesabaran.
Penggunaan kayu sebagai bahan bakar membuat besar kecilnya api sulit dikontrol. Karena itu, warga harus terus mengawasi dan menyesuaikan volume api selama hampir tiga jam.
“Durasi pembakaran leumang ini tergantung situasi angin dan api, kalau bagus apinya maksimal itu 2 jam sudah matang,” ujar Ruhamah sambil mendorong kayu bakar di lokasi pembakaran leumang.
Leumang dimasak dengan memanfaatkan panas dari bara api yang merambat ke dalam bambu. Sedikit saja lengah, leumang bisa hangus, bahkan api dapat membakar bambu yang berjejer rapi.

Dari Tradisi ke Rekor Dunia
Semangat gotong royong yang terus dijaga itu akhirnya melahirkan pencapaian membanggakan. Melalui acara “Meuseuraya Thoet Leumang 15.000”, Kabupaten Abdya sukses mencatatkan namanya dalam Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI).
Berdasarkan hasil verifikasi, sebanyak 15.178 batang leumang bambu dan sekitar 27.000 tape berhasil disajikan secara bersamaan.
Capaian tersebut melampaui rekor sebelumnya yang dipegang Provinsi Lampung dengan 12.484 nasi bambu pada tahun 2018.
“Dengan ini kami menganugerahkan penghargaan sajian leumang terbanyak dan sajian tape terbanyak di dunia,” kata Customer Relation Manager MURI, Lutfi Syah Pradana.
Lebih dari sekadar rekor, Teut Leumang menjadi ruang kebersamaan yang menyatukan berbagai elemen masyarakat. Tradisi ini tidak hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga menjadi sarana edukasi budaya bagi generasi muda agar tetap mengenal akar warisan leluhur mereka.
“Anak muda jangan pernah meninggalkan ini, karena leumang adalah tradisi peninggalan nenek moyang kita,” tutup Ruhamah.
Penulis: Firhan Farabi
Editor: Rina Nurjanah
Masuk tirto.id































