tirto.id - Forum dialog terbuka yang melibatkan mahasiswa dan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi (Demul) di halaman Gedung Sate, Kota Bandung, pada Rabu (3/9/2025), dinilai tidak inklusif. Agenda tersebut jauh dari kata terbuka karena tidak melibatkan masyarakat.
Pantauan kontributor Tirto, mahasiswa dari beragam daerah hadir ke halaman Gedung Sate. Bukan hanya berasal dari Bandung Raya, melainkan juga para mahasiswa yang rela berangkat dari wilayah Priangan Timur, seperti Tasikmalaya, Garut, hingga Bogor.
Pada sekira pukul 09.00 WIB, mahasiswa sudah hadir untuk bergantian menyampaikan orasi dan aspirasi di halaman Gedung Sate. Pada pukul 11.00 WIB, para mahasiswa masuk ke dalam aula timur gedung dan melanjutkan forum.

Seorang mahasiswa, yang tidak menyebutkan nama, mencecar forum dialog yang tak melibatkan masyarakat. Bahkan menurutnya, undangan tidak disampaikan merata ke seluruh kampus.
"Forum terbuka tapi kenapa tidak melibatkan umum [masyarakat]. Ada pula yang kawan-kawan mahasiswa tidak mendapatkan undangan," sebut seorang mahasiswa.
Ia menegaskan, para mahasiswa tidak ingin diklaim sejumlah pihak. "Kami sebagai mahasiswa tidak ingin diklaim pihak mana pun," tegasnya.
Dalam forum, mahasiswa juga menyinggung terkait tunjangan anggota dewan. Mahasiswa dari Universitas Teknologi Bandung (UTB), Alya, mempertanyakan sikap pemerintah yang lebih perhatikan nasib DPR daripada masyarakat.
"Kenapa harus DPR terus yang diperhatikan. Bisa dilihat guru dan masyarakat masih susah. DPR terus DPR terus. Memangnya Indonesia isinya DPR saja? Kami semua pasti menginginkan Indonesia maju. Jadi saya rasa demo untuk menyuarakan itu semua," lontarnya.
Seorang mahasiswa lainnya, mengecam sikap anggota DPR lantaran belum serius menangani permasalahan rakyat.
"Tolong lihat pengangguran di Jabar yang naik, tentu ini bukan prestasi. Ini kemunduran. Ini tentu harus evaluasi besar-besaran. DPR representasi dari rakyat, maka saya mengecam kepada siapa pun DPR yang bermain-main dan bercanda," ujarnya.
Sementara perwakilan mahasiswa Universitas Islam Bandung (Unisba) menyampaikan keresahan. Imbas penembakan gas air mata di wilayah kampus Unisba dan Universitas Pasundan (Unpas), pada Senin (1/9/2025) malam.
"Kenapa ditembakkan kemarin gas air mata. Padahal kampus harus dilindungi dan difasilitasi. Kawan-kawan di sini jangan diam saja ketika kampus diintervensi dan diserang," ucapnya di hadapan Demul.
"Selanjutnya, aparat penegak hukum baik kepolisian, dilindungi masyarakat, harus diperjuang. Kawan-kawan ada di sini untuk terus berjuang. Besar harapan saya aksi demo selanjutnya berjalan lancar," tandasnya.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (Demul), mengatakan forum dialog digelar untuk menyediakan ruang bagi mahasiswa. Sehingga mahasiswa dapat menyampaikan kritik kepada pemerintah provinsi.
“Kami memberi ruang bagi teman-teman untuk menyampaikan kegelisahan dan kritik apa bagi kami sebagai penyelenggara negara,” kata Demul dalam kata sambutannya.
Ia mengaku, aksi yang berlangsung saat ini tidak hanya diminati mahasiswa, melainkan juga kelompok lain. Oleh sebab itu, pemerintah akan memberikan perhatian khusus. “Orang patah hati banyak,” ujar Demul.
Penulis: Amad NZ
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id
































