Tak Hanya Jokdri, Manajer Keuangan PSSI juga Punya Saham di Persija

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 11 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Selain Joko Driyono, Persija kini dimiliki oleh mantan pegawai PT LIB dan manajer keuangan PSSI.
tirto.id - Tak sekadar mengubah direksi dan komisaris, komposisi kepemilikan saham Persija juga berubah, sepekan setelah klub berjuluk Macan Kemayoran ini juara.

Selain ada aksi lepas saham milik Ferry Paulus sehingga kini PT Jakarta Indonesia Hebat menguasai 95 persen saham, Yayasan Persija Muda juga tidak lagi memiliki saham di Persija.

Lima persen saham Yayasan Persija Muda kini berpindah tangan ke PT Nusantara Data Berjaya.

Pertanyaannya: bagaimana mungkin perusahaan yang mendaku bergerak dalam bidang pengembang perangkat lunak dan konsultan teknologi informasi menanamkan sahamnya pada Persija?

Penelusuran dokumen yang kami lakukan, dalam akta profil PT Nusantara ternyata telah menambahkan "jasa pengelolaan olahraga sepakbola" sebagai bagian dari lini bisnisnya sejak 29 Oktober 2018.

Temuan kami: notaris pembuat akta terbaru PT Nusantara ternyata sama dengan notaris yang mengurusi PT Jakarta Indonesia Hebat, yakni Emmy Yatmini, seorang notaris berdomisili di Depok, Jawa Barat.

Kenapa bisa pegawai PT LIB dan PSSI memiliki saham di Persija?

Ketika membedah struktur kepemilikan PT Nusantara, hanya muncul dua nama pemilik saham: Mohammad Subekti (90 persen) yang menjabat sebagai komisaris; dan Aria Yudistira (10 persen) yang menjabat sebagai direktur.

Bagi mereka yang selalu berurusan dengan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia dan PT Liga Indonesia dalam satu dasawarsa terakhir, Subekti dan Aria bukanlah nama yang asing.

Subekti saat ini bekerja sebagai staf keuangan Persija. Ia baru bergabung dengan Persija sejak Oktober 2018. Sebelum di Persija, Subekti adalah pegawai keuangan di PT Liga Indonesia Baru.

Hal itu dibenarkan Hanif Murjani, Media Officer PT LIB, kepada Tirto. "Betul, tapi ia sudah keluar dari PT LIB, dua bulan sebelum kompetisi berakhir. Sekarang di Persija," ucapnya pada Minggu kemarin.

Salah seorang sumber di kepolisian menyebut kantor Persija di Rasuna Office Park, yang sempat digeledah oleh Satgas Anti Mafia Sepak Bola, adalah kantor tempat Subekti sering bekerja.

Kami mengonfirmasi Subekti tapi nomor telepon yang biasa dia gunakan tidak aktif.

Sementara Aria Yudistira pernah dipanggil Satgas Anti Mafia Bola pada akhir Januari 2019. Ia datang bersama Ketua PSSI Joko Driyono dan Sekjen PSSI Ratu Tisha. Saat ini Aria menjabat sebagai manajer keuangan di PSSI.

Aria mengelak saat ditanya perihal kehadirannya di PT Nusantara Data Berjaya. "Nama saya? Mungkin Anda salah sambung dan salah orang. Coba deh dicari dulu yang bener," katanya.

Meski begitu Aria tak menampik saat ditanya apakah betul ia bekerja di PSSI. "Saya memang di PSSI," ucapnya.

Selang usai berbincang lewat telepon, kami mengirimkan dokumen perusahaan PT Nusantara yang mencantumkan namanya. Sampai tulisan ini turun, Aria tak merespons pertanyaan kami.

Subekti dan Aria dikenal sebagai pegawai Kokoh Afiat, Direktur Utama Persija sekaligus pemilik 5 persen saham di PT Jakarta Indonesia Hebat.

Aria mulai bekerja bersama Kokoh sejak era Badan Liga Indonesia tahun 2006. Sedangkan Subekti bergabung pada 2009 saat PT Liga Indonesia sudah terbentuk. Keduanya bekerja sebagai staf keuangan di PT Liga.

Kokoh Afiat terkejut ketika ditanya soal posisi Subekti dan Aria, yang secara faktual memiliki saham di Persija. Berbeda dengan Aria yang membantah, Kokoh membenarkan posisi kedua orang itu.

"Mereka memang benar bekas anak buah saya, mereka profesional, lalu kenapa?" ucapnya usai acara Rapat Umum Pemegang Saham Yayasan Persija Muda di Hotel Century, Sabtu lalu (9/2).

Ketika ditanya posisi Aria yang saat ini masih aktif bekerja di PSSI tapi merangkap sebagai pemilik saham Persija dapat menimbulkan konflik kepentingan, Kokoh hanya menjawab singkat, "Enggaklah itu."


Infografik HL Indepth Persija x Bakrie
Infografik Saham Yayasan Persija Muda menghilang. tirto.id/Lugas

Mewaspadai Ada Upaya Menyingkirkan Akar Sejarah Klub Persija

Topik yang mesti disorot dari masuknya PT Nusantara Data Berjaya tak semata kehadiran bekas pegawai PT LIB dan manajer keuangan PSSI, yang kini duduk sebagai pemegang saham Persija.

Kami menilai Subekti dan Aria Yudistira cuma pion, dan untuk mendepaknya dari struktur saham tidak begitu sukar. Ada isu lebih besar dari itu: upaya menggerus akar sejarah klub oleh pemilik saham Persija sekarang.

Persija dan Persebaya adalah contoh ideal peralihan klub perserikatan ke perseroan. Tindakannya terhadap klub internal lebih adil ketimbang Persib Bandung.

Persib selalu mengaku sebagai tim paling profesional di Indonesia, tapi faktanya beberapa pemilik saham Persib malah dengan "cerdik" mengambil hak saham yang sebenarnya juga dimiliki oleh pihak-pihak lain.


Di Persija tidak demikian. Ketika PT Persija Jaya Jakarta terbentuk, pemilik klub selalu memberikan saham kosong secara cuma-cuma kepada Yayasan Persija Muda, yang menaungi 30 klub internal.

Namun, tradisi itu perlahan mulai tergerus. Puncaknya terjadi pada 27 Desember 2018 saat nama Yayasan Persija Muda terdepak dari komposisi pemegang saham.

Gaduh-gaduh mundurnya I Gede Widiade serta pergantian direksi dan komisaris membuat 30 klub internal gusar. Untuk itulah mereka dikumpulkan dalam acara rapat dadakan yang digelar di Hotel Century, Jakarta Pusat.

Dalam rapat itu, Kokoh menenangkan bahwa pergantian direksi dan komisaris tak memengaruhi posisi yayasan sebagai pemilik 5 persen saham Persija.

"Enggak ada yang berubah, kok. Yayasan masih tetap dapat lima persen," kata pengurus PS Mahasiswa, Elbiner Tobing, kepada Tirto.

Namun, ada hal yang ditutupi Kokoh dan tak diungkap ke-30 klub internal. Kokoh sama sekali tak menyinggung bahwa lima persen saham yayasan kini sudah dialihkan kepada PT Nusantara.

"Ke[pada] kami enggak ada informasi [saham] yayasan dipindah ke PT. Semua tetap kayak dulu," ucap Tobing dengan ekspresi terkejut, yang kemudian terlihat kebingungan saat disodorkan komposisi saham PT Persija Jaya Jakarta yang terbaru.

Kami mencoba mengklarifikasi saham Yayasan Persija Muda yang menghilang kepada Ferry Paulus dan Kokoh Afiat. Kami menjumpainya dua kali: sesudah konferensi pers dan saat mereka hendak meninggalkan hotel.

"Ada. Masih ada, kok," kata Ferry.

"Tetap ada," kata Kokoh, menimpali.

Meski begitu, keduanya membenarkan dalam akta perusahaan Persjia, nama yayasan sudah dicabut.


Ferry berkata musabab nama yayasan dicabut sebagai pemegang saham karena hal itu akan mempersulit Persija saat nanti hendak menjual saham di lantai bursa.

"Kemarin itu memang ditarik karena kaitannya IPO, bahwa kalau bisa perusahaan nirlaba (berbentuk yayasan) dilarang dulu," ucap Ferry.

"Akta yang kalian lihat itu adalah langkah tahap awal. Kan takutnya pada saat itu ada [sesuatu], yayasan, kan, orangnya banyak, kalau itu tidak terkendali, gimana?" kata Ferry.

"Saat ini, harusnya fase yayasan enggak boleh mengganggu proses IPO itu," kata Kokoh.

Jika benar yayasan tetap memiliki saham di Persija, maka penting menanyakan apakah PT Nusantara Data Berjaya merepresentasikan yayasan, tapi mengapa tidak ada orang yayasan di PT Nusantara?

Ferry dan Kokoh tidak menjawab secara jelas. Ferry hanya menjawab bahwa posisi yayasan sebagai pemilik saham akan tetap sebagai yayasan, tidak akan dikamuflase menjadi perusahaan.

"Ini semua itu masih proses, setelah proses ini selesai, cobalah nanti kamu intip-intip di Kemenkumham seminggu lagi, pasti sudah berubah lagi, atau sebulan lagi kamu lihat, pasti berubah lagi," ucap Ferry.

Janji Ferry dan Kokoh untuk mengembalikan saham yayasan pantas ditunggu seluruh elemen pencinta sepakbola di Jakarta, khususnya pengurus klub internal dan Jakmania. Beberapa waktu ke depan ("seminggu atau sebulan lagi," kata Ferry) akan tampak secara legal formal apakah Persija akan seperti Persib (mencampakkan klub-klub internal yang sudah membesarkan klub selama puluhan tahun) atau tidak.

Baca juga artikel terkait PERSIJA JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight