"Malaikat" Bakrie yang Tak Malu-malu Lagi Muncul di Persija

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 11 Februari 2019
Dibaca Normal 4 menit
Jajaran direksi dan komisaris Persija saat ini didominasi orang-orang Bakrie.
tirto.id - Stigma sebagai tim penunggak gaji tak lagi melekat di Persija selama dua tahun terakhir. Sejak kedatangan I Gede Widiade pada 2017, Persija sukses mengatasi kesulitan keuangan laten yang biasanya dialami saban tahun. Bahkan, klaim Gede, utang terdahulu senilai Rp90 miliar lunas terbayar. Oleh Jakmania, Gede dianggap pahlawan.

Satu tahun berlalu rahasia itu terbongkar: Gede bukan pemilik Persija. Statusnya sebagai Direktur Utama Persija hanya pegawai.

Pemilik Persija sebenarnya adalah Plt. Ketua Umum PSSI Joko Driyono. Pria kelahiran Ngawi ini jadi pemilik sah Persija lewat PT Jakarta Indonesia Hebat (JIH), yang mengambil 80 persen saham PT Persija Jaya Jakarta--legal dari Persija. Di PT JIH, Jokdri memiliki 95 persen saham.


Secara de jure status Jokdri sebagai pemilik Persija tidak terbantahkan, tapi secara de facto Jokdri bukan pemilik sebenarnya. Gelontoran dana bagi Persija selama dua tahun terakhir bukan dari dompetnya.

Ia bersikukuh pengambil alihan klub hanya dilakukan dirinya sendiri. Pernyataan ini bertolak belakang dari pernyataan Gede.

Sosok yang mengontrol Bhayangkara FC ini menyebut ada pengusaha kaya di balik keuangan Persija.

"Ada malaikat turun, kasih duit," ujarnya kepada Tirto, awal 2018.

Dan pada kompetisi musim ini, "malaikat" itu tampaknya tak malu-malu lagi muncul mengelola Persija.

Dominasi Orang Bakrie Mengelola Persija

Sepekan setelah Persija menjuarai Liga 1 2018, pemilik saham PT Persija Jaya Jakarta merombak seluruh jajaran direksi dan komisaris.

Perubahan ini tertuang dalam akta perusahaan yang dirilis 27 Desember 2018. Akta ini tidak bisa diperoleh dari situs Ditjen Administrasi Badan Hukum, Kementerian Hukum dan HAM, karena ada proses yang mesti dilengkapi oleh pihak notaris. Namun, detail komposisi saham, direksi, dan komisaris tetap bisa diakses. Kami mengecek terakhir atas dokumen perusahaan Persija pada Jumat, pekan lalu (8/2/2019).

Dalam akta terbaru itu empat komisaris lama--yakni Ferry Paulus, Reva Deddy Utama, Andy Soebjakto Molanggato, dan Budiman Dalimunte--terdepak dari struktur perusahaan. Begitu juga posisi Gede Widiade, digeser dari direktur utama menjadi direktur biasa.

Dalam hierarki teranyar, dewan direktur yang dulu enam orang kini diisi sembilan orang. Lima orang berposisi direktur dan empat sebagai komisaris.

Dan, dari sembilan dewan direktur Persija saat ini, tujuh di antara punya keterikatan dengan unit bisnis keluarga Bakrie.

Hanya Gede Widiade dan Andhika Sarwendha yang bukan bagian dari Bakrie. Gede kini sudah mundur. Dhika, yang menjabat direktur pemasaran, hendak mundur meski sedang bernegosiasi lagi dengan direksi baru, ujarnya kepada Tirto.


Saat ini otomatis Persija dikuasai oleh mereka yang dekat dengan keluarga Bakrie.

Pada posisi direktur muncul nama Andre Rizki Makalam dan Fandrizal Rabain. Andre saat ini menjabat Direktur PT Bakrie Pangripta Loka. Sedangkan Fandrizal adalah Presiden Direktur PT Bakrie Pesona Rasuna.

Dua perusahaan itu anak usaha PT Bakrie Development Tbk., lini usaha keluarga Bakrie dalam bidang properti. Perusahaan tempat Fandrizal bekerja, yaitu PT Bakrie Pesona Rasuna, adalah pengelola Rasuna Office Park, tempat kantor Persija saat ini.

Fandrizal terlihat ketika rapat umum pemegang saham Yayasan Persija Muda di Hotel Century, Sabtu lalu (9/2). Ia datang memakai setelan jas hitam dan berkacamata. Kami sempat berpapasan di lift. Namun, saat hendak didatangi, ia menghilang.

Selain Fandrizal dan Andre Makalam, muncul tangan kanan Bakrie lain, di antaranya Ambono Janurianto, Bambang Irawan Hendradi, dan Marudi Surachman, yang duduk di kursi komisaris Persjia.

Ambono dan Bambang punya posisi lebih tinggi, masing-masing sebagai presiden direktur dan presiden komisaris di PT Bakrieland Development Tbk.

Posisi sama juga diduduki Marudi Surachman. Mantan direktur Bakrieland ini sekarang mengurusi PT Krakatau Lampung Tourism Development.

Awalnya, Marudi mencoba menghindari pertanyaan tentang posisinya di Persija.

"Waduh... bentar ya. Nanti lagi, deh," ucapnya lalu mematikan sambungan telepon. Saat dihubungi kali kedua, ia kembali menyanggah. "Enggak ada... [jeda empat detik]. Mana, enggak ada nama saya," jawab dia.

"Tapi kami cek di akta ada nama bapak, tercantum sebagai komisaris," kata kami.

"Salah itu. Enggak ada. Coba deh konsultasi lagi ke bagian legal. Saya enggak ada hubungan dengan Persija," ujar Marudi sambil memutus sambungan telepon.

Kami bertanya kepada Kokoh Afiat dan Ferry Paulus soal musabab kenapa banyak petinggi perusahaan Bakrie duduk di kursi komisaris dan direksi Persija. Kami menemui keduanya saat RUPS Yayasan Persija Muda di Hotel Century.

Kokoh dikenal sebagai kepanjangan tangan Nirwan Bakrie. Ketika PT Liga Indonesia masih jadi pengelola liga, Nirwan menjabat sebagai presiden komisaris, sedangkan Jokdri dan Kokoh duduk sebagai direksi.

Sama seperti Jokdri, Kokoh memiliki saham di PT Jakarta Indonesia Hebat (5 persen). Sedangkan Ferry adalah orang lama di Persija. Segala seluk beluk perubahan manajemen perusahaan diketahui olehnya.

Kokoh dan Ferry berkata proses masuknya orang-orang Bakrie ke Persija tak terlepas dari strategi klub, yang hendak melepas saham di lantai bursa alias IPO. Kokoh menampik saat ditanya apakah orang Nirwan Bakrie kini menguasai Persija.

"Bukan itu. Karena orang-orang Pak Nirwan adalah orang-orang yang expert. Proses IPO ini enggak boleh terganggu, makanya harus, harus terkontrol. Kita harus terkendali, jadi proses ini tidak terganggu," kata Kokoh.

"Iya, dong, orang-orang ini adalah pakar IPO," kata Ferry, menimpali.


Infografik HL Indepth Persija x Bakrie
Infografik Persija x Bakrie. tirto.id/Lugas

Persija Juara, Dominisi Saham Jokdri Semakin Digdaya

Sejak 2014 hingga awal 2017, Ferry Paulus mutlak menjadi penguasa Persija sebenarnya. Ia mengendalikan 80 persen saham klub. Namun, sejak kedatangan Joko Driyono lewat PT Jakarta Indonesia Hebat (JIH), posisi Ferry makin tergerus.

Kepemilikan sahamnya anjlok menjadi 30 persen, lalu tersisa 15 persen. Dan, sejak 27 Desember lalu, Ferry akhirnya melepas seluruh saham di Persija: 15 persen saham yang dia samarkan lewat PT Persija Jakarta Hebat kini diberikan kepada PT JIH.

Ferry semula enggan bicara terbuka soal jual-beli saham ini.

Pada Jumat lalu (8/2), saat berjumpa dengan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara Syarifudin yang juga ketua Dewan Pembina Persija, Ferry mengaku ke media tak ada perubahan komposisi saham apa pun.

"Belum ada [transaksi saham]. Pemegang saham masih yang kemarin. Hanya pergantian direksi," katanya tentang kondisi Persija sesudah Gede Widiade mundur sejak awal Februari 2019.

Namun pernyataan kepada media itu berbeda dengan yang dikatakannya kepada Tirto. Ferry membenarkan soal kepemilikan saham dia yang terjual.

"Memang benar. Ada aksi lepas tapi belum ada aksi beli, karena memang belum ada transaksi."

Dan, lagi-lagi, dalih IPO diutarakan Ferry soal alasannya melepas saham Persija.

Secara tersirat, ia menyebut aksi lepas saham itu sebagai tindakan sukarela demi kebaikan klub.

"Kan memang IPO membutuhkan sosok. Value yang bagus supaya menarik, supaya tatanan bagus. Mungkin kalau saham mayoritas saya yang punya, ya enggak akan ada yang beli, gitu. Tapi, kalau misalnya Donald Trump atau profil bonafide lain yang memiliki saham itu, tentu respons pembeli akan berbeda," katanya.

Ketika disodorkan apakah profil itu Nirwan Bakrie, Ferry hanya tersenyum. "Enggaklah itu," katanya.

Kehadiran Petinggi Golkar sebagai Komisaris Utama Persija

Tidak sekadar aksi lepas saham, posisi komisaris utama yang dulu diduduki Ferry Paulus kini diisi oleh Sharif Cicip Sutardjo.

Kebijakan Persija memakai jersey berwarna kuning sebagai kostum tandang pada kualifikasi Liga Champions Asia dikritik Jakmania. Sepanjang sejarah, Persija memang tak pernah memakai jersey kuning--jika pun kuning hanya dipakai sebagai jersey kiper.

Tudingan muncul bahwa warna kuning adalah bagian dari politisasi tim. Kuning melekat warna Partai Golkar. Dan Sharif adalah politikus Golkar. Ia tersohor sebagai kepanjangan tangan Aburizal Bakrie. Kedekatan ini yang mengantarnya pernah jadi Menteri Kelautan dan Perikanan (2011-2014).

Saat Golkar terbelah dua, antara kubu Aburizal Bakrie dan Agung Laksono, Sharif yang saat itu menjabat Waketum, membela Bakrie. Ketika konflik mereda dan Bakrie diberi posisi Ketua Dewan Pembina Golkar, Sharif menjabat wakil ketuanya.

Sharif agak terkejut ketika ditanya bahwa namanya muncul sebagai komisaris utama Persija. "Kenapa sih? Dari mana kamu tahu?" kata Sharif memulai percakapan.

Ketika dijelaskan duduk informasi itu, pria asal Yogyakarta ini menjawab, "Oh iya betul saya jadi presiden komisaris, tapi bukan Persija. Itu perusahaan properti, yang di mana Persija di bawah perusahaan properti itu."

"Saat dapat posisi itu, apakah ada ajakan dari spesifik Pak Nirwan atau Pak Aburizal?" tanya kami kepada Sharif.

"Iya ajakan aja. Dari..." katanya, diam selama lima detik lalu melanjutkan, "Enggak, banyak. Kan di situ pemegang sahamnya banyak, beberapa orang."

Saat ditanya relasi dia dengan Kokoh Afiat, Sharif segera menutup sambungan telepon, "Bentar ya bentar, saya baru makan ini."

Kami mencoba mengklarifikasi lagi tapi ia enggan menjawab.

Soal kehadiran Sharif, politikus Golkar dan orang dekat Bakrie, Kokoh menolak menjawab, "Kalau itu saya no comment dulu."

Baca juga artikel terkait PERSIJA JAKARTA atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan & Herdanang Ahmad Fauzan
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan
DarkLight