Nirwan atau Glenn Sugita di Belakang Jokdri Menguasai Persija?

Oleh: Aqwam Fiazmi Hanifan - 7 Maret 2018
Dibaca Normal 6 menit
Joko Driyono, pelaksana tugas ketua umum PSSI, tidak bermain sendiri di belakang pengambilalihan Persija. Ia hanyalah pion.
tirto.id - Kedatangan investor baru pada 2017 mendorong restrukturisasi Persija Jakarta. Media menyambut setelahnya bahwa kehadiran investor ini juga (diklaim) telah mengatasi persoalan utang yang melilit Persija—disebut media sebesar Rp90 miliar.

Beban utang masa lampau memang bikin Persija kesulitan mencari pemodal. Wacana takeover pemerintah provinsi DKI Jakarta lewat Badan Usaha Milik Daerah bernama PT Jakarta Propertindo (Jakpro) pada 2015 gagal akibat beban utang ini. Gubernur Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama, enggan ambil risiko.

”Persija itu utangnya sudah mencapai Rp76 miliar. Itu namanya sudah bangkrut. Makanya mereka kasih kami 20 persen," kata Ahok, dikutip dari Jawa Pos.

Utang itu diklaim lunas saat Gede Widiade datang. Presiden Direktur Persija, Ferry Paulus, pada 14 Maret 2017 menyebut proses restrukturisasi membutuhkan waktu panjang. "Saat ini ada proses pembayaran utang, tapi [dengan mekanisme] rekapitalisasi menjadi modal," katanya.

"Rekapitalisasi modal" yang diungkap Ferry adalah berusaha menyelesaikan utang Persija tidak ditempuh lewat pembayaran. Gede Widiade, yang berposisi sebagai Dirut Persija, menyebut pelunasan utang ini dalam pengertian secara perdata.

"Lunas, kan, tak mesti dibayar. Tapi bisa diobrolkan secara baik-baik," ucapnya. Gede enggan merinci maksud diselesaikan "secara baik-baik" itu.

Namun, yang pasti, Gede menyebut utang Persija diselesaikan PT Jakarta Indonesia Hebat (JIH). Di dalam perusahaan ini muncul nama Pelaksana Tugas Ketua Umum PSSI saat ini, Joko Driyono alias Jokdri.

Nama Jokdri tercantum sebagai pemilik 95 persen saham PT JIH. Saat ditemui pertengahan Februari lalu, Jokdri membenarkan bahwa PT JIH "menggaransi" semua utang Persija.

Beberapa orang di internal manajemen Persija menyebut proses lobi penyelesaian utang berujung pada konversi saham PT JIH. Jokdri membenarkannya dengan merumuskan mekanisme pelunasan utang itu sebagai "barter."

"(Untuk penyelesaian utang), kami tak mengucurkan dana besar. Kami bicara ke pemilik utang. Utangmu dikonversi jadi saham. Semua proses ini dilakukan dalam pembicaraan," kata Jokdri.

Meski begitu, para pemilik itu alias para pemilik piutang tak muncul dalam akta kepemilikan PT Jakarta Indonesia Hebat. Jokdri menyebut bahwa pelunasan utang akan dilakukan setelah Persija mencapai nilai yang diinginkan lalu dijual ke investor baru.

"Semua punya komitmen dengan para debitor. Pada saat nanti, ketika Persija punya value dan dibeli investor lain, misalnya, ya sudah, kami bayar utang-utang itu," Jokdri menambahkan.

Proses seperti ini tak akan terjadi jika menjual nama Jokdri semata. Gede Widiade mengatakan kepada kami bahwa "Joko hanya pribadi individual yang dimajukan".

Ketika kami minta Gede menyebut nama pengusaha, ia memilih bungkam. Ia menyebut investor ini adalah "sosok yang sangat cinta sepakbola Indonesia".

Saat ditanya mengapa "sosok-yang-sangat-cinta-sepakbola-Indonesia" itu enggan muncul, Gede menjawabnya dengan analogi seperti ini: "Karena dia enggak suka. Saya kadang ke anak yatim-piatu, kan, enggak mau muncul. Dia hanya ingin menolong Persija."

Saya bertanya kenapa Gede dan Jokdri yang dimajukan oleh si pengusaha. Gede menjawab: "Ya tanya ke dia, dong."

"Saya, kan, enggak tahu namanya. Mau tanya ke siapa?"

"Dia lagi di luar negeri," timpal Gede. "Ada seorang dermawan ingin menyelamatkan Persija, tapi dengan catatan harus saya Dirutnya."

"Kenapa saat mereka menawari saya dan saya ambil? Karena tujuannya mulia untuk kembalikan kebesaran Persija, mereka bukan cari untung," ucap Gede.

Siapa "dermawan" yang datang ke Persija dengan "tujuan mulia" sudi menyelamatkan klub berjuluk Macan Kemayoran tersebut seperti dikatakan Gede Widiade?

Tagline Koalisi Pro-Jokowi di Balik Konsorsium Pemilik Mayoritas Persija

Ada tagline politis "Indonesia Hebat" pada nama PT Jakarta Indonesia Hebat. Tagline "Indonesia Hebat" merupakan slogan PDI Perjuangan pada Pemilu 2014.

Saat mengusung Joko Widodo dan Jusuf Kalla, PDIP, PKB, Hanura, PKPI, dan NasDem berkoalisi dan menamakan diri sebagai "Koalisi Indonesia Hebat". Sampai sekarang nama ini dilekatkan sebagai koalisi pengusung pemerintahan Jokowi.

Beberapa kali ditanya kenapa label JIH ini menyerupai nama koalisi partai pengusung pemerintah, Jokdri memberi jawaban tak membantah maupun tak membenarkan.

"Semua silakan berspekulasi," ucapnya.

Jawaban sama juga dikatakan Tigor Shalom Boboy, direktur PT JIH. Sama seperti Jokdri yang juga Pelaksana Tugas Ketum PSSI, Tigor rangkap jabatan sebagai Direktur Operasional PT Liga Indonesia Baru, operator penyelenggara Liga 1.

Saat disodorkan pertanyaan apakah ada Istana di balik PT JIH, Tigor menjawab: "Kalau orang mau berpikiran seperti itu, ya, silakan," katanya.

Selain faktor kemiripan nama, bau-bau politik terasa dengan masuknya Andy Soebjakto Molanggato di jajaran komisaris Persija.

Andy masuk Persija berbarengan restrukturisasi yang dilakukan oleh PT JIH pada 2017. Andy seorang politikus. Saat ini ia tengah bertarung di Pilkada Mojokerto sebagai calon walikota yang diusung PKB, PPP, dan Demokrat.

Ia sempat jadi Wakil Ketua DPW PKB DKI Jakarta, kemudian bergabung dengan Demokrat pada 2010. Setelah Anas Urbaningrum terdepak, Andy ikut mundur dari Demokrat. Saat ini ia bergabung jadi pengurus di DPP Hanura, jabatannya sebagai Ketua Bidang Hubungan Antar-Lembaga DPP Partai Hanura.

Saat dikonfirmasi kehadirannya di Persija, Andy menjawab "tidak ada kaitan dengan parpol". Ia menyebut keterlibatannya diajak Gede Widiade. "Saya sudah kenal lama dengan beliau. Ini personal saja," kata Andy, pagi ini.

Gede Widiade menyebut peran Andy hanya komisaris independen. "Tidak ada kaitan politis apa pun," bantahnya.

Relasi antara JIH, Koalisi Indonesia Hebat, dan Jokowi tak bisa lepas dari Pilpres 2014. Salah seorang petinggi Jakmania yang minta namanya anonim mengatakan bahwa Jokowi mempunyai utang budi kepada Jakmania. Ia mengungkap ada perjanjian politik tak tertulis antara Timses Jokowi dan Jakmania saat Pilpres lalu.

Saat masa kampanye, timses Jokowi memakai Sutiyoso, yang juga ketua PKPI, untuk melobi Jakmania. Sebagai mantan Gubernur Jakarta dan penyokong Jakmania, Sutiyoso termasuk sosok yang disegani oleh para suporter. "Dari situ [faksi] kami mau bantu," ujarnya.

Ia mengatakan Jakmania "turut andil" memenangkan pasangan Jokowi-JK di DKI Jakarta. Pada 2014, Jokowi-JK menang 53 persen, berbanding 47 persen dari pasangan Prabowo-Hatta.

Adakah Restu Istana dalam Pengambilalihan Klub-Klub?

Pada 2015, konflik PSSI dan Kemenpora, yang berujung pembekuan aktivitas PSSI, berimbas pada kekosongan kompetisi sekitar setahun. Turnamen macam Piala Presiden, Piala Bhayangkara, dan Piala Jenderal Sudirman dianggap tak cukup membuat aktivitas dunia bola tanah air bergeliat.

Pemerintah pun didesak menggelar kompetisi atau mencabut surat pembekuan PSSI. Kekusutan PSSI yang berlarut-larut ini membuat opsi kedua lebih realistis. Pada saat itulah opsi menggelar liga sementara muncul. Di titik itulah Glenn Sugita muncul sebagai sosok yang membentuk PT Gelora Trisula Semesta (GST) sebagai operator kompetisi Indonesia Soccer Championship (ISC) 2016.

Kiprah Glenn berlanjut lewat PT Liga Indonesia Bersatu yang jadi operator Liga 1. Sebagai taipan kelas kakap, Glenn biasa datang membawa sponsor yang notabene perusahaan miliknya sendiri, sebut saja seperti Go-Jek, Traveloka, FWD Life, atau Bank BTPN.

Glenn saat ini masih menjabat Direktur Utama PT Persib Bandung Bermartabat. Kedatangan Glenn mengelola kompetisi sepakbola nasional disebut orang terdekat Glenn merupakan "tugas negara". Presiden Jokowi, sebut orang terdekat Glenn tersebut, yang memintanya langsung. Pertemuan antara Glenn dan Jokowi terjadi lewat perantara Kepala Kantor Staf Kepresidenan saat itu, Teten Masduki.

Teten, koordinator staf presiden, membenarkan kehadiran Glenn ke Istana bertujuan untuk membahas industri sepakbola di Indonesia bisa berkembang seperti di daratan Eropa dan Cina.

Hanya saja, Teten menyebut Glenn sebetulnya tidak datang sendiri. "Ada juga beberapa pengurus bola lain," kata Teten.

Agar industri sepakbola bisa maju, Teten mengungkapkan bahwa kompetisi dan klub haruslah dipegang pebisnis agar sponsor percaya dan mau mengucurkan uang.

Mantan Direktur Persib, Muhammad Farhan, yang masih bekerja dalam lingkungan Glenn, mengatakan kepada saya bahwa dalam benak pengusaha ini, mereka ingin menciptakan "ekosistem sepakbola yang lebih baik".

"Persib sendiri saja tidak bisa. Harus mesti dibarengi tim-tim lain. Minimal ada 7-8 tim yang keuangan dan manajemennya sehat. Kalau yang bagus cuma 1-2 klub, yang bagus nanti malah jadi ikut-ikutan terbawa jelek," kata Farhan.

Itu sebabnya, kata Farhan, beberapa pengusaha yang dulu berhimpun di Persib kini menyebar ke sejumlah klub, di antaranya Bali United dengan sosok pengusaha di belakangnya adalah Pieter Tanuri.

"Kalau ingin sepakbola maju, kami memang harus menyebar dan membentuk kerajaan-kerajaan baru," ucap Pieter kepada Tirto pada 17 Februari lalu.

Lalu bagaimana dengan Persija?

Infografik Indepth HL Sepak Bola

Adakah Uang Glenn Sugita di Persija?

Mantan Ketum Jakmania yang kini jadi Dewan Pembina, Richard Ahmad, tak kaget saat diberitahu bahwa Joko Driyono sebagai pemilik saham mayoritas di Persija. Kabar macam ini sudah bisa ia tebak, katanya. Sebab ia pernah berbincang dengan Jokdri soal satu ini.

Dari pengakuan Jokdri, Richard mengatakan bahwa uang yang dipakai menalangi Persija sebetulnya datang dari PSSI. "Jokdri bilang: 'Itu pakai duit gue'. Tapi gue yang dibilang Jokdri itu dalam artian uang PSSI," kata Richard kepada Tirto.

"Ya sekarang, kan, tahu, uang PSSI itu dari mana?" lanjut Richard merujuk kelompok Glenn Sugita dan Pieter Tanuri cs.

Richard tidak asal menebak. Anggapannya memang sejalan dengan dominasi perusahaan milik Glenn dan Pieter cs., yang kini jadi tulang punggung sumber finansial kompetisi dan klub plus PSSI. Sebut saja seperti Go-Jek dan Corsa yang uangnya menyebar nyaris ke keduabelas peserta Liga 1 musim lalu. Sebagian kepemilikan Go-Jek dimiliki oleh Northstar Group, dan Glenn serta Patrick Walujo adalah salah satu pendirinya.

Ketika saya bertanya kepada Glenn di Bandung, medio Februari lalu, bahwa kemungkinan dia di belakang Jokdri, Glenn hanya tersenyum sembari menjawab singkat, "Jangan tanya ke saya, silakan saja tanya ke dia."


Bantahan keras dilontarkan oleh Pieter Tanuri atas kabar miring soal keterlibatan kelompoknya yang dipimpin oleh Glenn di Persija.

"Kamu kalau begitu adu domba. Persija itu Jakmania, mana mungkin dia (Glenn) mengkhianati Persib? 100 persen saya berani jamin itu salah," kata Pieter.

"Karena buat Pak Glenn, darahnya biru (warna kebangsaan Persib). Enggak mungkin dia masuk ke Persija. Itu kayak, misalnya, Jakmania suruh pakai baju Persib. Buat Pak Glenn ini harga diri. Ini tuduhan ngaco. Taruhan juga saya berani," katanya.

Saat ditanya soal kehadiran Corsa, perusahaan miliknya, menjadi sponsor Persija sejak 2016, Pieter menjawab bahwa itu murni bisnis. "Enggak ada embel-embel lain," tambahnya.

Bantahan sama juga dilontarkan oleh Gede Widiade.

"Enggak mungkin GTS (Glenn Sugita). Karena saya sahabat-sahabatnya mereka," ucapnya. "Kalau geng Pak Glenn dan Pieter, berarti (sepakbola) Indonesia dikuasai satu orang saja," kata Gede.

Munculnya Orang Bakrie sebagai Komisaris Klub?

Nama lain selain Glenn Sugita adalah Nirwan Bakrie. Bagi publik sepakbola Indonesia, sudah jadi rahasia umum bahwa ada relasi cukup spesial antara Joko Driyono dan Nirwan Bakrie.

Jokdri sempat jadi manajer Pelita Jaya Cilegon pada awal 2000. Klub ini dimiliki keluarga Bakrie. Pengujung dekade yang sama, Jokdri bersama Nirwan bahu-membahu menyelamatkan Arema saat Bentoel lepas tangan dan menyerahkannya ke PT Arema Indonesia.

Tengara bahwa Bakrie di belakang Jokdri makin santer setelah di PT Persija Jaya Jakarta ada nama Reva Deddy Utama sebagai komisaris klub. Reva dekat dengan Nirwan Bakrie.

Saat ini Reva menjabat Direktur Technical & Sports di tvOne dan ANTV. Ia bekerja di ANTV sejak 1993. Reva dikenal sebagai wartawan yang telah lama berkecimpung di dunia olahraga. Kariernya berawal dari produser tayangan olahraga.

Peran Reva di belakang dominasi ANTV Sports memonopoli siaran langsung kompetisi di Indonesia selama bermusim-musim. Saat kepengurusan PSSI era La Nyalla Mattalitti, Reva terpilih sebagai anggota komite eksekutif (exco) PSSI. Namun, kariernya tak lama karena kepengurusan rezim La Nyalla tak diakui oleh pemerintah.

Terkait posisinya di Persija, Reva menyebutnya sebagai "kebetulan saja" sebab dia bekas pemain Persija.

"Kan saya memang dulu bekas pemain Jayakarta," katanya.

Reva memang bermain di klub Jayakarta, sebuah bond anggota Persija. Namun, kariernya terhenti pada umur 22 tahun. Ia memilih hengkang dari dunia bola dan fokus kuliah jurusan hukum.

Dalil bahwa ia terlibat di Persija karena pernah bermain di salah satu klub anggota Persija tidak terlalu kuat. Namanya kalah tenar jika dibandingkan Anjas Asmara atau Sutan Harhara atau legenda-legenda Persija lainnya.

Namun, saat disodorkan pertanyaan apakah jabatannya di Persija disebabkan permintaan Nirwan, ia membantah. "Oh enggak. Enggak," katanya, dan langsung menutup telepon.

Gede Widiade sama sekali tak menjawab saat disodorkan apakah Nirwan Bakrie adalah investor di balik akuisisi Persija. Berkali-kali, kami menanyakannya hingga tiga kali dan semuanya di momen yang berbeda-beda, Gede Widiade menghindari pertanyaan soal Nirwan. Begitupun Jokdri.

Bantahan sama dikatakan Lalu Mara Satria Wangsa. Mantan Wasekjen DPP Partai Golkar ini dikenal dekat dengan Nirwan Bakrie. Ia sempat diminta mengurusi dua klub Nirwan, Pelita Jaya dan Arema Cronus. Saat dihubungi via telepon, ia menilai Nirwan tak ikut bermain di Persija.

"Beliau perhatikan saja dari jauh," katanya.

=======

Adendum: Baca laporan lain terkait "Menguliti Lapis demi Lapis Konsorsium Glenn Sugita di PT Persib" & "Lingkaran Setan Pengurus PSSI dan Pemilik Klub"

Baca juga artikel terkait PERSIJA atau tulisan menarik lainnya Aqwam Fiazmi Hanifan
(tirto.id - Olahraga)

Reporter: Aqwam Fiazmi Hanifan & Felix Nathaniel
Penulis: Aqwam Fiazmi Hanifan
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan