Menuju konten utama

Suntikan Dana ke Garuda Tuai Kritik, Dinilai Ciptakan Distrosi

Pinjaman modal yang diberikan Danantara ke Garuda dinilai justru tidak tepat guna.

Suntikan Dana ke Garuda Tuai Kritik, Dinilai Ciptakan Distrosi
Maskapai Garuda Indonesia bersiap mendarat di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. (ANTARAFOTO/PUSPA PERWITASARI)

tirto.id - Suntikan dana sebesar 1 miliar dolar AS (Rp16,3 triliun) oleh Danantara kepada Garuda Indonesia menuai kritik dari sejumlah ekonom. Kebijakan ini dinilai berpotensi menciptakan distorsi dalam industri penerbangan nasional sekaligus menguras sumber daya Danantara yang seharusnya dialokasikan untuk proyek strategis pengungkit pertumbuhan ekonomi.

Peneliti Next Policy, Shofie Azzahrah misalnya, menyoroti risiko ketergantungan Garuda pada injeksi modal yang terus-terusan diberikan kepada maskapai penerbangan nasional tersebut.

"Kebijakan ini membuat Garuda kurang terdorong untuk melakukan efisiensi internal dan pembenahan manajerial secara serius," ujarnya kepada Tirto.id, Kamis (26/6/2025).

Pasalnya, maskapai lain, baik domestik maupun internasional, harus beroperasi di bawah tekanan pasar yang ketat, sementara Garuda Indonesia dimanjakan dengan pinjaman pemegang saham (shareholder loan) senilai Rp6,65 triliun sebagai tahap awal.

“Sehingga perlakuan khusus terhadap Garuda berpotensi menciptakan persaingan yang tidak setara dan distorsi dalam industri penerbangan nasional,” katanya.

Senada, Pengamat Ekonomi dari Celios, Bhima Yudhistira mengatakan dana himpunan dari dividen BUMN yang dialokasikan Danantara ke Garuda Indonesia bermasalah dari segi return of investment.

Menurutnya, Danantara seharusnya fokus pada proyek bankable yang mendorong pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar menyelamatkan BUMN bermasalah.

Sebab, menurut Bhima, jika dana kelolaan Danantara hanya digunakan untuk melakukan konsolidasi aset, pembenahan manajerial, dan kemudian perbaikan kinerja keuangan BUMN bermasalah, hanya akan membuat modal untuk investasi menciut.

“Jadi, resource-nya atau sumber dayanya kalau hanya digunakan untuk melakukan konsolidasi BUMN, itu bisa terkuras, bisa kurang efektif dan kurang efisien dalam mendorong tujuan Danantara menjadi engine of growth, mendorong di sisi pertumbuhan ekonomi,” ucapnya.

Ia menilai langkah ini berisiko moral hazard dan mengalihkan sumber daya dari tujuan strategis Danantara sebagai pendongkrak pertumbuhan dan pembuka lapangan kerja.

“Ekspektasi dari investor maupun swasta yang bekerja sama dengan Danantara agar segera memanfaatkan deviden untuk mendanai proyek-proyek yang dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi, bisa mendorong lapangan kerja kemudian bisa berkolaborasi dengan pelaku usaha swasta,” tambahnya.

Dengan begini, sambungnya, hanya akan mengulang cerita lama. Pasalnya, perusahaan penerbangan pelat merah ini sudah kerap mendapatkan pendanaan dari pemerintah lewa penyertaan modal negara (PMN), namun tetap sulit bernapas.

“Kenapa? Karena kalau menyuntik Garuda Indonesia ini kan dari dulu udah punya masalah banyak dari segi keuangan,” tuturnya.

Sejalan dengan Bhima, Shofie pun menilai pinjaman modal yang diberikan Danantara tidak tepat guna. Harusnya, intervensi fiskal dilakukan tidak dengan penyertaan dana langsung, tapi melalui skema subsidi yang terpisah dari kebutuhan bisnis komersialnya.

“Dengan pendekatan ini, fungsi sosial Garuda Indonesia tetap terlaksana tanpa mengorbankan prinsip efisiensi dan disiplin pasar,” tegasnya.

Sebelumnya, Direktur Utama Garuda Wamildan Tsani menyatakan bahwa sokongan dana tersebut adalah bagian dari transformasi jangka panjang di tubuh perseroan.

"Dukungan Danantara akan membantu Garuda menjadi maskapai kelas dunia, tidak hanya dari sisi finansial, tapi juga strategi bisnis," katanya.

Sementara Dony Oskaria, COO Danantara, menegaskan pendanaan ini berbasis akuntabilitas. "Kami hadir sebagai pemegang saham dengan mandat jelas untuk memastikan transformasi berjalan transparan dan terukur."

Baca juga artikel terkait HOLDING BUMN atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Insider
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Dwi Aditya Putra