Suka-Duka Volunteer Asian Games 2018

Oleh: Aulia Adam - 24 Agustus 2018
Dibaca Normal 4 menit
Mereka jadi garda paling depan siraman protes masyarakat.
tirto.id - “Mbak gimana ini, udah empat bus lho yang lewat. Mau nunggu sampai kapan saya?” Indah protes pada salah seorang volunter Asian Games divisi transportasi yang berjaga di halte depan Gedung Akuatik, Gelora Bung Karno.

Raut muka Indah kurang selo. “Saya udah terlambat setengah jam, lho. Kakak saya udah dari tadi nunggu di Basket sana. Bus kalian cuma ini aja, ya? Gimana, sih?”

Perempuan yang ditanyai cuma tersenyum, mendengarkan. Lalu menjawab, “Sebentar ya, Ibu. Bus katanya ada yang sedang menuju kemari. Kebetulan bus yang ini mau dipakai ke Wisma Atlet.”

Di belakang si relawan memang ada dua bus Transjakarta berwarna oranye yang antre di depan halte. Namun, pintunya ditutup, dan isinya kosong.

Indah sempat cerita kepada saya bahwa ia sudah menunggu lebih dari setengah jam untuk mendapatkan bus.

“Dari tadi sebentar mulu. Kasian loh penonton jauh-jauh. Kalau jalannya enggak kalian tutup-tutupin, kan, bisa dari tadi kita jalan. Ini ditutupin, busnya enggak bisa dipake. Gimana, sih?” Indah terus protes.

Di ujung kalimatnya, Indah melihat sebuah bus datang mengantre di belakang dua bus yang setop itu. Penonton yang sudah ramai menumpuk di halte langsung berlari ke sana, termasuk Indah dan putrinya.

GBK memang sudah didesain khusus untuk keamanan Asian Games. Banyak rute dipasangi pagar pembatas, bikin jalan kaki dari satu arena ke arena lain cukup jauh.

“Sebenarnya kalau mau jalan, (penonton) bisa sampai lebih cepat ke venue,” kata salah volunter di Halte depan Gedung Akuatik.

Pernyataannya tidak salah-salah amat. Seperti kata Indah, menunggu bus kadang bisa jadi sangat lama. Banyak bus yang lewat tapi tak mengangkut penumpang. Alasannya? Karena dipakai untuk kebutuhan lain.

Keluhan begitu tak jarang terdengar bila Anda ikut menunggu shuttle bus di halte mana saja di GBK. Sejak dibuka 19 April kemarin, shuttle bus sebagai salah satu sarana yang disediakan Inasgoc agar penonton tak kelelahan berjalan itu memang menuai protes. Salah satu masalah utamanya jadwal kedatangan bus yang tak jelas. Ini yang bikin volunter tak jarang kena damprat.

Ikuti informasi Asian Games yang dihimpun Tirto dalam kanal khusus:


Tak Diupah?

Para relawan memang dipersiapkan Inasgoc untuk jadi garda terdepan menghadapi tak cuma penonton tapi juga atlet dan tamu. April lalu, dalam seleksi pertama, sejumlah 20.741 orang diterima Inasgoc sebagai relawan. Sebanyak 17 ribu di Jakarta, dan 3.741 di Palembang. Sekjen Inasgoc Eris Herryanto mengatakan sekitar 70 persen relawan akan ditugaskan sebagai Liaison Officer (LO), dan sisanya membantu Protocol Assistant, NOC Assistant, dan Work Force.

Sebab berstatus relawan, mereka dijanjikan sejak awal untuk tidak dibayar. Januari lalu, sempat ada rumor relawan akan dapat honor Rp600 ribu per hari. Namun, kabar itu langsung dibantah Inasgoc dan dianggap hoaks. Kendati demikian, tetap ada puluhan ribu orang yang mendaftar.

Salah satunya Iqbal Reza Pratama, mahasiswa Politeknik Semarang Semester V. Jauh-jauh dari Semarang, kini Reza tinggal di rumah saudara di Jalan Pulau Penyemar, Kompleks Kodamar, Kelapa Gading. Sejak 8 Agustus, ia sudah ada di Jakarta karena kebagian tugas di divisi seremoni: mengurusi pembukaan dan penutupan Asian Games.

Tiap pagi selama jadi relawan, Reza mesti bangun pagi dan berjalan sekitar 2 kilometer ke Halte Asmi, Kelapa Gading—halte busway terdekat dari rumah saudaranya. Ongkos busway sendiri sudah digratiskan Inasgoc yang bekerja sama dengan Pemerintah DKI Jakarta.

“Lumayan hitung-hitung hemat ongkos,” kata Reza.

Sebenarnya, Inasgoc menyiapkan penginapan di beberapa tempat seperti di Sunter, Pulo Gadung, dan Wisma Atlet. Namun, kata Reza, tempat-tempat itu juga tak bisa dipakai semua relawan. Hanya divisi-divisi tertentu, misalnya LO khusus atlet.

Dalam sehari, ia bisa menghabiskan Rp50 ribu selama jadi relawan. Pengeluaran itu ia tanggung sendiri. “Kecuali makan pagi dan malam, saya ikut saudara saya,” ungkap Reza. Makan pagi dan malam yang ia maksud adalah jatah dari Inasgoc.

Sebenarnya, pada tahap specific training job, para relawan dijanjikan dapat uang transportasi dan konsumsi, masing-masing Rp150 ribu per hari. Dan dijanjikan turun per lima hari sekali. Namun, hingga hari ini, dari total lima panitia yang saya tanyai dari divisi-divisi berbeda, uang tersebut belum turun.

Saat saya konfirmasi ke Sekjen Inasgoc Eris Herryanto, ia cuma bilang, "Semua volunter mendapat hak sesuai SBML (standar biaya umum dan lainnya) yang dikeluarkan oleh Kementerian Keuangan."

Reza sendiri tak mempermasalahkan hal ini. “Enggak apa-apalah. Ya, namanya sukarelawan, ya harus suka dan rela menjalani aktivitas di Asian Games,” katanya.


Hal serupa disampaikan Komang Ary Sandy Widhiartha, volunter asal Bali yang berjaga di Bulungan, Kemayoran, untuk divisi ticketing. Selama bekerja sejak 19 Agustus kemarin, Komang tak merasakan beban berarti. Padahal, masalah tiket adalah salah satu ihwal yang paling disorot dari penyelenggaraan Asian Games.

Perkara calo dan tiket kembar jadi masalah yang paling rutin dikupas media dan warga di media sosial. Komang yang berjaga di pertandingan voli putra juga sempat menangani masalah tersebut.

“Misalnya, ada tuh yang habis dari GBK datang kemari, karena ternyata tiketnya di sini. Tapi pas dicek, enggak terdaftar juga di sini. Ya sudah, entar dia protes. Kami langsung kasih ke supervisor,” jelas Komang.

Solusinya?

“Biasanya dikasih masuk, tapi mesti dicap sistem dulu. Di sini (Bulungan), enggak ada nomor kursi, jadi enggak terlalu ribet kayak yang di GBK,” tambah Komang.

Tapi, bagi dia dan 27 rekan volunter lain yang berjaga di sana, pekerjaan mereka cukup menyenangkan. Sama seperti Reza, Komang cuma ingin menambah pengalaman berhadapan dengan acara sebesar Asian Games sekaligus menambah kenalan.


Infografik HL Indepth Asian Games 2018


Jam Kerja Tak Jelas dan Kurang Orang

Rahmadini duduk membungkuk di halte seberang gedung Akuatik Gelora Bung Karno. Sudah pukul 7 malam saat kami bertemu. Di halte itu ada puluhan orang lain. Sebagian besar panitia berseragam, lainnya pengunjung. Kami semua menunggu shuttle bus. Sama seperti sebelum-sebelumnya, jadwal bus tak pernah rutin.

Saya sempat mengobrol 15 menit dengan Rahmadini, relawan khusus LO tamu VIP. Hari itu memang baru hari pertama pertandingan resmi, 19 Agustus, tapi ia sudah mulai bekerja sejak 5 Agustus karena para atlet dan tamu sudah berdatangan.

Seperti Reza, Rahmadini kini tinggal bersama saudara di daerah Tebet. Anak muda yang tinggal di Depok dan kuliah di UI ini terpaksa "mengungsi" sejenak selama Asian Games. “Kampus juga lagi libur, jadi ya enggak apa-apa dipakai buat acara ini dulu,” ungkapnya.

Hari itu ia sudah menemani salah seorang Menteri Malaysia, Presiden FIBA (Basket), dan Presiden Hoki Asia. Saat pembukaan, Rahmadini bertugas jadi LO Wakil Presiden Jusuf Kalla.

“Orang-orang di divisi saya memang biasanya yang bisa pakai minimal dua bahasa,” terang Rahmadini.

Setelah seleksi, Inasgoc memang menempatkan para relawan sesuai keahlian di bidang yang diperlukan. Rahmadini bisa berbahasa Korea, selain bahasa Inggris dan Indonesia.

Sayangnya, kata Rahmadini, divisinya tak diisi orang yang cukup. Sore itu ia harus segera ke arena basket karena menerima instruksi tugas baru. “Ya harus saling back-up gitu,” katanya. “Dan karena tamu kenegaraan, jadi jam datangnya juga enggak jelas.”

Dalam sehari, relawan VIP macam Rahmadini harus bekerja 8 jam per shift. Namun, ia berkata sering tak tentu. “Kadang bisa lama kosong, kadang bisa terus-terusan kayak gini."


Perkara orang yang kurang diakui beberapa volunter di divisi transportasi. Sebagian dari mereka yang harusnya menjaga halte justru terpaksa ikut jadi kenek karena petugas untuk deskripsi kerja itu kurang. Beberapa arena yang ramai penontonnya juga tak jarang membutuhkan tenaga lebih banyak, seperti arena bulutangkis, salah satu spot populer media.

Tak jarang saya mendapati para relawan yang kewalahan menangani penonton, terutama mereka yang suka protes dan bebal. Tak salah jika penonton berharap pelayanan baik, apalagi sudah membeli tiket. Namun, seringkali permasalahannya bukan pada pelayanan yang dibebankan kepada relawan sebagai panitia garda terdepan, melainkan pada manajemen penyelenggaraannya.

Misalnya, dalam pertandingan final bulutangkis nomor regu putra pada Rabu malam, 22 Agustus. Banyak orang akhirnya harus duduk di tangga karena bangku sudah terisi. Padahal beberapa orang yang duduk di bangku adalah kerabat yang punya akses badge name khusus wartawan atau polisi. Mereka tak pakai identitas sendiri, apalagi beli tiket.

Relawan sempat ketat men-sweeping. Namun, tetap saja, melawan praktik kolusi dan kongkalikong dengan orang yang punya akses atas penyelenggaraan Asian Games bukanlah pekerjaan mereka.

Baca juga artikel terkait ASIAN GAMES 2018 atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Indepth)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Fahri Salam
Artikel Lanjutan