tirto.id - Massa aksi membentangkan spanduk 'SAVE BANDUNG ZOO PANJANG UMUR PERJUANGAN', 'SEGERA BUKA BANDUNG ZOO DIAWASI TIM SEMENTARA' dan lain-lain. Mereka juga membawa boneka hewan sebagai simbolis tentang nasib para satwa imbas penutupan operasional.
"Tolong didengar, karena ini merupakan bentuk kepedulian kami sebagai karyawan. Tugas kami seperti BKSDA, menjaga satwa di kebun binatang. Buka operasional, abaikan penutupan," ujar salah satu orator dalam unjuk rasa di depan kantor BKSDA Jabar, Kamis (18/12/2025).
Ketua Serikat Pekerja Mandiri Direnten (SPMD) Bandung Zoo, Yaya Suhaya, mengatakan BKSDA memiliki tugas sebagai pelindung, sementara para pekerja berkewajiban memelihara dan menjaga satwa.
Menurutnya, penutupan kebun binatang selama empat bulan terakhir berdampak langsung pada operasional dan kondisi keuangan. Ia khawatir dengan kemampuan keuangan untuk memberi pakan satwa.
"Kami tahu ada konflik, kami mohon tidak dilibatkan dalam konflik, kami membutuhkan bantuan dari bapak ini, untuk keberlangsungan hidup satwa di Bandung Zoo,” tutur Yahya.
Ia menambahkan, mereka tidak hanya menuntut pembukaan kembali Bandung Zoo, tetapi juga meminta solusi dari BKSDA terkait kesejahteraan satwa. Ia menilai konflik pengelolaan seharusnya tidak berimbas pada karyawan, sarana, maupun satwa.
“Kami mohon solusinya, kami harus seperti apa. Saya yakin Bapak dan Ibu di sini punya cara. Jangan sampai satwa menanggung dari konflik tersebut. Mereka butuh hidup dan bergantung pada kami, kami mohon perhatian dari BBKSDA dan Kemenhut,” ujarnya.
Ia menjelaskan, sejak penutupan operasional, karyawan telah berupaya memenuhi kebutuhan pakan satwa dengan cara urunan dan menggalang dana.
Namun, hasilnya dinilai belum mencukupi. Dalam sebulan, Bandung Zoo membutuhkan sekitar Rp400 juta untuk biaya pakan atau sekitar Rp13 juta per hari.
Kekurangan anggaran itu disebut sebagai dampak dari dualisme kepengurusan yang berujung bentrok pada Agustus lalu, sehingga operasional Bandung Zoo ditutup untuk umum. Para pekerja pun ikut menutup kekurangan dana dengan sumbangan pribadi. “Kalau nggak salah totalnya Rp30 juta lebih,” katanya.
Selain satwa dan pegawai, para pelaku usaha yang berada di sekitar Bandung Zoo pun terdampak penutupan. Oleh sebab itu, mereka mendesak supaya segera dibuka kembali operasional di tempat edukasi wisata itu.
"Selain berdampak pada pekerja bonbin. Ini ada dampak terhadap UMKM. Kami selaku UMKM di Bandung Zoo, kami tergantung dari Bandung Zoo. Kami keluarga butuh makan dan biaya sekolah. Selama ditutup. Kami menunggu pihak berwenang membuka kembali," ujar seorang pegiat UMKM saat orasi.
Aksi berlangsung sejak pukul 10.00 WIB. Mereka secara bergantian menyampaikan aspirasi. Lalu sekira pukul 10.55 WIB, perwakilan massa aksi diterima BKSDA Jabar untuk audiensi.
Kepala BKSDA Jabar, Agus Arianto, menerima langsung massa aksi dalam audiensi tersebut. Ia berjanji akan menampung aspirasi serta menyampaikan langsung terhadap pemerintah kota dan Kementerian Kehutanan RI.
"Perlu tahu juga bukannya kementerian kehutanan diam, jadi semua sudah diupayakan. Kami tentu saja tetap prihatin. Bukan hanya satwa, tapi teman-teman yang ada di sana," ungkap Agus dalam audiensi di dalam ruang rapat, Kantor BKSDA Jabar.
Namun perihal pembukaan operasional, ia menunggu terlebih dahulu proses hukum yang saat ini sedang berjalan di pengadilan. Pihaknya juga mesti berkoordinasi dengan pemerintah pusat. Ia mengaku tak memiliki wewenang untuk membuka langsung Bandung Zoo.
"Itu [membuka operasional] tidak mudah. Ini masih dalam proses hukum. Saya engga mau ngomong karena itu ranah hukum. Mau niat membuka itu kan ada mekanisme hukum yang berjalan," ujar Agus.
"Saya memang kementerian kehutanan, tapi saya kepala balai. Aspirasi bapak pasti saya sampaikan. makanya nanti bukan hanya komunikasikan dengan pemkot, janji saya akan sampaikan itu. Mohon dimaklumi keterbatasan saya," paparnya.
Penulis: Amad NZ
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id






































