Menuju konten utama

Respons Sayembara Begal, Pigai: Tidak Etis, Semoga Hanya Guyon

Pigai berharap sayembara itu hanya candaan belaka dan tidak serius dilakukan meski Dede merogoh kocek sendiri.

Respons Sayembara Begal, Pigai: Tidak Etis, Semoga Hanya Guyon
Menteri HAM, Natalius Pigai saat menghadiri acara KemenHAM di Kota Bandung, pada Selasa (28/7/2026). Nizar/tirto.id
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kebijakan sayembara begal yang dicetuskan Gubernur Jawa Barat (Jabar), Dedi Mulyadi, menuai sorotan dari Menteri HAM, Natalius Pigai. Dia menilai kebijakan tersebut tidak etis dan berharap Dedi hanya bercanda.

"Saya pikir, Pak Dedi itu cuman guyonan aja. Bisa saja guyonan dan media anggap serius. Kalau serius, ya, tidak boleh. Kalau guyonan, enggak apa-apa," kata Pigai saat konperensi pers di Bandung, Selasa (28/7/2026).

Saat disinggung perihal KDM sudah menyiapkan uang untuk hadiah sayembara menangkap begal itu, Pigai menimpali bahwa kemungkinan mantan Bupati Purwakarta itu hanya bercanda.

"Uangnya aja enggak kelihatan. Ngomong aja ada uangnya. Langsung kementerian HAM yang bilang, saya berharap ini guyonan. Kalau serius, tidak boleh. Itu Anda membayar untuk menangkap orang," ucapnya.

"Orang yang menangkap terlatih enggak? Kalau sipil yang tidak terlatih, mukul dong. Apakah kita memperbolehkan bayar orang untuk memukul? Tidak etis. Semoga guyonan dan tidak serius," tegas Pigai.

Sebelumnya, Dedi Mulyadi menyatakan siap menggelontorkan dana pribadi hingga puluhan juta rupiah sebagai hadiah bagi warga yang berhasil menangkap begal. Sayembara itu lantas menarik perhatian publik usai diumumkan, mengingat besaran hadiahnya berkisar Rp5 juta hingga 50 juta.

"Udah [uang sayembara] dari saya dulu cukup. Nanti kalau kewalahan baru [anggaran pemerintah]," celetuk Dedi kepada wartawan di Kantor Kelurahan Sukamiskin, Kota Bandung, Jumat (24/7/2026).

Aksi berburu “pelaku” ini bukan pertama kalinya digaungkan politukus Gerindra tersebut. Sebelumnya, dia pun menawarkan hadiah bagi warga yang mampu menangkap tersangka penyekapan dan penganiayaan, Taufik Hidayat.

Dedi menilai gelaran sayembara sebagai upaya pelestarian budaya. Menurutnya, memberi hadiah merupakan tradisi bangsa. Terlebih secara psikologis, warga menjadi lebih memilih untuk menyerahkan begal kepada polisi, daripada main hakim sendiri.

“Di sekolah, kalau ada ranking pertama, ranking pertamanya diumumin. Belajarnya suka rajin. Nah, kemudian daerah kalau dilombain, suka rajin,” jawab Dedi.

“Kalau ada sayembara dari saya, 'Eh, enggak usah digebukin [sampai] mati, lumayan Rp10 juta, udah dianterin'. Jadi ini dibuat untuk memicu orang juga untuk apa? Misalnya ronda,” lanjutnya.

Dia juga mengingatkan warga untuk tidak main hakim sendiri secara berlebihan. Hal ini bakal mempengaruhi keputusan dan syarat pemberian hadiah sayembara. Menurutnya apabila begal diserahkan dalam kondisi seperti demikian, dirinya tidak akan memberi hadiah.

“Kalau lecet dikit ya mungkin boleh, tapi kalau babak belur kita enggak kasih hadiah,” ucap Dedi.

Baca juga artikel terkait BEGAL atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Kontributor: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Fadrik Aziz Firdausi