tirto.id - Sosok Sukanto Tanoto dan kaitannya dengan PT Toba Pulp Lestari menjadi berbincangan banyak orang seiring bencana banjir yang melanda wilayah Sumatera Utara.
PT Toba Pulp Lestari (PT TPL) mulanya bernama PT Inti Indorayon Utama Tbk, perusahaan industri pulp asal Indonesia yang berdiri tahun 1983. Perusahaan ini berdiri di Provinsi Sumatera Utara dan didirikan oleh Sukanto Tanoto.
Sepanjang tahun 2025, masyarakat yang berada di sekitar perusahaan menuntut penutupan PT Toba Pulp Lestari. Mengutip laporan Antaranews pada Selasa (27/5/2025), sejumlah massa aksi mendatangi kantor Bupati dan DPRD Tapanuli Utara untuk mendesak pemerintah setempat agar berkomitmen dan mendukung penutupan operasional PT TPL.
Tak hanya itu, masyarakat juga mendesak penghentian segala bentuk kriminalisasi terhadap masyarakat adat dan petani di tanah Batak, dan mengembalikan seluruh tanah adat yang telah dirampas oleh PT TPL kepada pemilik sahnya.
Profil Sukanto Tanoto & Perjalanan Kariernya
Menukil laporan Blommberg, Sukanto Tanoto melakoni bisnis minyak dan pasokan konstruksi kecil milik ayahnya pada tahun 1966 di usia 17 tahun. Hal ini dilakukan setelah sekolah Tionghoanya di Indonesia terpaksa tutup.
Setelah ayahnya meninggal, Sukanto Tanoto mengambil alih pengelolaan bisnis tersebut. Pada tahun 1970an, harga minyak melonjak tinggi. kondisi membuat bisnisnya berkembang pesat.
Pada tahun 1975, Sukanto Tanoto memutuskan untuk membangun pabrik kayu lapis di Indonesia. Lanjut tahun 1979, ia mulai menanam kelapa sawit di Indonesia setelah melihat keberhasilan industri di Malaysia.
Pada pertengahan 1990-an, ia memindahkan keluarga dan kantor pusat perusahaannya ke Singapura. Pada tahun 2010-an, grup tersebut memiliki kepentingan yang luas dalam minyak sawit, pulp, dan energi di seluruh Asia, termasuk di Tiongkok.
Namun, kehadiran perusahaan ini tak lepas dari pemerhati isu lingkunga lingkungan oleh berbagai kelompok nirlaba, termasuk Greenpeace. Pada tahun 2015, grup tersebut merilis kebijakan keberlanjutan yang berkomitmen untuk menghilangkan deforestasi dari rantai pasokannya.
Mengutip laporan Forbes, Sukanto Tanoto memiliki sejumlah perusahaan di Tiongkok, Brasil, Kanada, Spanyol, dan Malaysia.
Bracell miliknya yang berbasis di Brasil adalah salah satu produsen selulosa khusus terbesar di dunia. produk tersebut digunakan dalam berbagai produk mulai dari tisu basah bayi hingga es krim. Perusahaan grup lainnya, APRIL, memproduksi pulp, kertas, dan karton.
Kemudian, Tanoto mulai merambah bisnis tisu pada tahun 2023, dengan mengakuisisi OL Papeis dari Brasil. Ia juga mengakuisisi perusahaan pembuat popok Vinda yang terdaftar di bursa saham Hong Kong dalam kesepakatan senilai $3,3 miliar pada tahun 2024.
Sektor perkebunan dan minyak sawit dijalankan melalui Asian Agri dan Apical. Sementara unit energi berada di bawah perusahaan Pacific Oil & Gas.
Laporan Blommberg menyebut Sukanto Tanoto sebagai konglomerat manufaktur dengan total kekayaan lebih dari $40 miliar. Berdasarkan data Forbes, Sukanto Tanoto termasuk dalam daftar 50 Orang Terkaya di Indonesia yang berada di urutan ke 19.
Kaitan Sukanto Tanoto dengan PT Toba Pulp Lestari
Sukanto Tanoto merupakan pengusaha asal Medan. Sosok Sukanto dikenal sebagai pendiri Royal Golden Eagle (RGE). Sebelumnya bernama Raja Garuda Mas.
RGE menjadi grup bisnis yang berkantor pusat di Singapura. RGE bergerak di bidang pulp dan kertas, serat viscose, minyak sawit, dan energi.
Selain itu, Sukanto Tanoto juga pendiri PT Inti Indorayon Utama Tbk pada 26 April 1983 di Sumatera Utara. Kemudian berubah nama menjadi PT Toba Pulp Lestari. Perusahaan ini berdiri di Desa Pangombusan, Kecamatan Parmaksian, Kabupaten Toba.
Pada awal berdiri, perusahaan memproduksi bubur kertas serta serat rayon berbahan baku kayu eukaliptus. Seiring waktu, PT Inti Indorayon Utama Tbk dikabarkan sempat bersitegang dengan masyarakat.
Atas kejadian tersebut, Presiden BJ Habibie kala itu menghentikan sementara operasi PT Inti Indorayon Utama Tbk dan memerintahkan audit lingkungan. Di era pemerintahan Gus Dur, perusahaan kembali dinyatakan harus ditutup atau direlokasi. Namun, tekanan investasi asing membuat pemerintah memberikan izin operasi kembali pada 2000 dengan catatan penghentian produksi rayon.
Pada akhir 2000, perusahaan memutuskan menghentikan operasional sebagai dampak konflik yang berkepanjangan. Kemudian, PT Inti Indorayon Utama Tbk berubah nama menjadi PT Toba Pulp Lestari Tbk dalam RUPS 15 November 2000 sebagai bagian dari restrukturisasi besar-besaran. Pabrik kembali beroperasi pada 2003 dengan klaim penerapan teknologi ramah lingkungan.
Berdasarkan uraian di atas, Sukanto Tanoto merupakan pendiri PT Inti Indorayon Utama Tbk yang berubah nama menjadi PT Toba Pulp Lestari Tbk. Pada periode 2007-2021, pemegang saham mayoritas perusahaan adalah Pinnacle Company Pte. Ltd.
Kemudian, kepemilikan PT Toba Pulp Lestari Tbk pada tahun 2025 beralih ke Allied Hill Limited, perusahaan investasi berbasis Hong Kong yang sepenuhnya dimiliki oleh Everpro Investments Limited, milik pengusaha Joseph Oetomo.
Dari total saham yang ada, 92,54% saham INRU diakuisisi oleh Allied Hill melalui transaksi senilai Rp555,8 miliar dengan harga Rp433 per saham. Sedangkan 7,58% sisanya tetap dimiliki publik.
Penulis: Sarah Rahma Agustin
Editor: Beni Jo
Masuk tirto.id





































