tirto.id - Hampir semua wilayah pesisir Sumatra mengalami bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung. Menurut data terakhir, ada 21 kabupaten/kota yang terdampak bencana ini.
Menurut data hingga 2 Desember 2025, jumlah korban bencana banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat mencapai 708 jiwa.
Situasi Banjir Sumatra Terbaru, Sudah Surut?
Berikut ini titik banjir di Sumatra menurut data terbaru. Banjir bandang dan tanah longsor melanda tiga provinsi yaitu Sumatra Utara (Sumut), Sumatra Barat (Sumbar), dan Aceh.
Situasi Banjir Sumut
Sejumlah wilayah di Sumut sudah mulai surut. Menurut informasi terbaru, banjir di Medan dan Deli Serdang sempat surut namun air kembali menggenang setelah hujan deras pada Selasa (2/12).
Sementara itu di Tapanuli Tengah jalur bantuan masih sulit diakses. Gubernur Sumut Bobby mengatakan, pemerintah sedang mengupayakan percepatan pembukaan jalur darat ini.
"Kami sedang berupaya keras membuka jalur, namun masih diperlukan kerja sama dan kesabaran untuk mencapai wilayah terdampak," ujar Bobby di posko pengungsian SMA Negeri 1 Tukka, Tapanuli Tengah, Selasa.
Menurutnya, Kecamatan Tukka di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, masih berada dalam status darurat pascabencana.
BNPB menyampaikan kabupaten/kota di Sumatera Utara paling terdampak banjir bandang dan tanah longsor, yakni Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Sibolga, dan Tapanuli Utara.
Distribusi logistik untuk Sumut dilakukan lewat tiga moda transportasi yaitu jalur darat, jalur udara dan jalur laut," kata Abdul Muhari.
Untuk jalur darat, sebanyak enam truk dengan masing-masing membawa 15 ton logistik menuju Sumut.
Sementara untuk jalur logistik dari laut, pengiriman logistik dari Jakarta membawa 100 ton beras akan sampai di Sibolga.
"Bantuan akan loading di Sibolga untuk didistribusikan ke kabupaten/kota terdampak, baik itu via jalur darat maupun jalur udara," kata Abdul Muhari.
Untuk jalur udara, saat ini di Silangit, Tapanuli Utara, disiagakan 7 unit helikopter dan akan ditambah 3 unit helikopter milik TNI dan 4 unit helikopter BNPB.
Situasi Banjir Sumbar
Berdasarkan data BPBD Provinsi Sumbar per Selasa (2/12) pukul 16.00 WIB, jumlah pengungsi terbesar berada di Kabupaten Pesisir Selatan dengan jumlah 83.463 jiwa.
Sementara itu, di Kabupaten Agam warga mengungsi berjumlah 6.320 jiwa, Kota Padang 4.456 jiwa, Solok 3.133 jiwa, dan Pasaman Barat 2.607 jiwa.
Banjir di wilayah tersebut sudah mulai surut, meninggalkan sampah dan lumpur padat serta menutup akses jalan.
Kawasan Komplek Griya Permata 2, Kelurahan Tabing Banda Gadang (TBG), Kecamatan Nanggalo, Kota Padang menjadi salah satu titik terparah dalam bencana banjir di Kota Padang selama sepekan terakhir.
Menurut foto terbaru dari kunjungan Wamendagri Bima Arya pada Selasa (2/12, situasi banjir di wilayah tersebut sudah surut dan meninggalkan lumpur serta jalanan yang becek.
Wali Kota Padang, Fadly Amran, menyebut banjir dan longsor di sejumlah titik telah menimbulkan kerusakan signifikan pada permukiman maupun infrastruktur.
Sementara itu, BPBD Sumbar masih menggunakan alat berat untuk mengakses jalur ke lokasi bencana yang terputus dan sebagai upaya membantu pencarian korban longsor.
Situasi Banjir Aceh
BPBD Kabupaten Aceh Barat mencatat di sebagian wilayah Aceh Barat saat ini air telah berangsur surut. Namun akses jalan ke sejumlah desa masih terputus.
“Beberapa lokasi jalan masih tertutupi lumpur dan material kayu, sehingga masih sulit untuk dilalui,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Aceh Barat Teuku Ronal Nehdiansyah di Meulaboh.
Sebanyak 30.884 jiwa atau 9.477 Kepala Keluarga (KK) tersebar di 121 desa, di 10 kecamatan, di kabupaten itu terdampak bencana banjir bandang yang terjadi sejak Rabu (26/11) pekan lalu.
Namun belum semua wilayah di Aceh sudah surut, misalnya di jalur darat Aceh Tamiang yang sebagian masih terendam. Hal ini tampak dari video udara.
Video udara memperlihatkan deretan truk BBM, truk logistik, dan kendaraan berat lainnya antre melewati jalur yang masih terendam untuk mendistribusikan bantuan ke Aceh.
Upaya pembukaan akses menjadi fokus utama pemerintah, mengingat jalur darat merupakan rute kritis untuk mobilisasi bantuan dan evakuasi warga.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id































