tirto.id - Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri hilang kontak saat terjadi banjir di Sibolga, Sumatera Utara. Menurut laporan, Akhmad sudah 3 hari tidak bisa dihubungi.
Ketua DPP NasDem Aceh, Bakhtiar Ahmad Sibarani terakhir mendapat kabar dari Akhmad Syukri pada 25 November 2025.
Akhmad mengirim pesan soal kondisi jalan menuju Sibolga tertutup imbas banjir dan longsor. Akhmad menjelaskan kepada Bakhtiar bahwa ia terjebak di Sitahuis, Tapanuli Tengah dan kesulitan mendapat sinyal.
Sosok Akhmad Syukri
Akhmad Syukri (35) menjabat sebagai Wali Kota Sibolga periode 2025–2030. Ia maju di Pilkada 2024 bersama wakilnya, Pantas Maruba Lumban Tobing dan memperoleh suara mayoritas.
Akhmad dan Pantas menjabat sejak 20 Februari 2025 setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta. Akhmad Ia juga menjabat sebagai Ketua DPD Partai NasDem Kota Sibolga.
Sebagai wali kota termuda dalam sejarah Sibolga, Akhmad termasuk aktif di Instagram. Posting terakhir 5 hari lalu, pada 23 November, ia bertemu dengan selebritas Raffi Ahmad.
Tampak akun Raffi Ahmad juga menandai Akhmad dalam posting foto. Mereka bertemu juga dengan Wakil Gubernur Sumut, Surya.
Sejak 25 November 2025, Syukri dilaporkan hilang kontak. Ia sempat mengirim pesan melalui WhatsApp bahwa dirinya terjebak di kawasan Sitahuis, Tapanuli Tengah yang mengalami banjir dan longsor.
Pesan terakhir dikirim sekitar pukul 11.10 WIB pada hari itu, menyebut bahwa akses jalan terputus dan jaringan komunikasi lumpuh.
Sejak saat itu, upaya menghubungi Syukri belum membuahkan hasil, dan keberadaannya dinyatakan hilang kontak.
Kondisi Sibolga Terkini
Kota Sibolga menjadi satu dari sejumlah daerah di Sumut yang terdampak banjir dan longsor. Wilayah yang mengalami banjir dan longsor terparah yakni di Kabupaten Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan.
Berdasarkan data BNPB daerah terdampak bencana alam banjir dan tanah longsor meliputi Bukit Barisan, ada Humbang Hasundutan, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, dan Sibolga.
Dampak dari Bencana tersebut selain merusak rumah warga, bencana juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah fasilitas umum seperti jembatan, saluran air, sekolah, tempat ibadah, serta lahan pertanian.
Sebanyak 47 orang meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi melanda 13 daerah tingkat kabupaten/kota di Sumut.
"Hingga hari ini total ditemukan ada 123 korban, di antaranya 47 korban meninggal dunia," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumut Tuahta Ramajaya Saragih di Medan, Sumut, Kamis (27/11).
Sedangkan 9 korban, lanjut dia, masih dinyatakan hilang, dan 67 korban lagi mengalami luka berat maupun luka ringan akibat banjir bandang dan tanah longsor di Sumut.
Editor: Iswara N Raditya
Masuk tirto.id





























