tirto.id - Pekikan yel-yel berkobar dan spanduk protes berkibar di tengah kerumunan. Di tengah hiruk-pikuk Jakarta yang panas, ribuan mahasiswa berjalan kaki menyusuri Sudirman-Thamrin sambil mengepalkan tangan. Dukungan dari pengendara mobil dan motor juga tak habis-habisnya; mereka membunyikan klakson sebagai bentuk solidaritas. Namun, aparat kepolisian dan TNI malah mengadang, mencegah massa aksi menuju Bundaran Hotel Indonesia.
Di Surabaya, ibu-ibu pedagang naik ke panggung orasi, menuturkan betapa beratnya harus mengantre BBM serta melonjaknya harga beras dan minyak goreng. Bahkan di Yogyakarta, Aksi Gejayan Memanggil tetap ramai meski diguyur hujan deras.
Tak sedikit pula warga dan relawan yang mendirikan posko logistik dadakan serta membagikan makanan, minuman, dan bantuan medis. Para relawan berharap suara masyarakat dari berbagai kalangan ikut terdengar, bukan hanya suara mahasiswa.
Selama bertahun-tahun, ketika ada ketidakberesan, orang-orang rela menyingkirkan rasa takut dan lelah demi isu bersama. Lantas, mengapa mereka yang berbeda latar belakang sosial itu rela bersatu menembus barikade polisi dan terik matahari? Apa kekuatan tak terlihat yang membuat mereka mau mengorbankan kenyamanan pribadi demi keadilan komunal?
Memahami Solidaritas Sosial dan Pemicu Gerakan Massa
Dalam sosiologi gerakan sosial, inti yang menyatukan individu-individu berbeda menjadi satu pergerakan adalah kohesi dan integrasi kelompok. Sosiolog Prancis, Émile Durkheim, melalui The Division of Labour in Society (1893), menunjukkan pergeseran masyarakat Eropa dari tatanan agraris menuju industrial. Perubahan ekonomi itulah yang mengubah cara manusia saling terikat.
Secara teoretis, menurut Durkheim, ada dua bentuk solidaritas, yakni solidaritas mekanik dan solidaritas organik. Solidaritas mekanik muncul dalam masyarakat tradisional yang homogen, diikat oleh kesamaan agama, nilai, dan pekerjaan. Sementara itu, solidaritas organik muncul karena adanya hubungan saling melengkapi antara aktor-aktor yang terlibat dalam kegiatan berbeda.
Durkheim menganalogikan masyarakat modern mirip organisme yang tersusun dari bagian-bagian berbeda tetapi saling bergantung. Makin beragam suatu masyarakat, makin tinggi peluangnya untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia secara maksimal.
Atas dasar itu, demonstrasi dapat dianalisis melalui konsep solidaritas organik, yakni ketika kelompok masyarakat yang berbeda-beda itu merasa tatanan sosial atau rasa keadilan bersama sedang terganggu. Kebijakan negara yang menindas dinilai sebagai penyakit yang merusak sistem.
Menurut Durkheim, gambaran industri sebenarnya ditandai oleh permusuhan dan perjuangan antara buruh dan modal, krisis komersial, dan ketiadaan norma.
Dalam kerangka teori Durkheim, demonstrasi merupakan titik bertemunya berbagai kelompok masyarakat di hadapan kebijakan yang merugikan, mulai dari petani yang tanahnya digusur, buruh yang upahnya ditekan, hingga mahasiswa yang kebebasannya dibatasi. Kesamaan persepsi itulah yang memungkinkan terbentuknya solidaritas dalam aksi.

Teori Identitas Sosial ala Henri Tajfel dan John Turner dalam buku The Social Psychology of Intergroup Relations (1979) juga menjelaskan alasan orang rela berkorban dalam aksi kolektif. Menurut mereka, konsep diri seseorang terbentuk dari identitas personal dan identitas sosial yang berasal dari keanggotaannya dalam kelompok.
Ketika identitas kelompok melebur ke dalam konsep diri, keberhasilan kolektif terasa sebagai kemenangan pribadi. Ancaman terhadap kelompok juga dipersepsikan sebagai ancaman individu. Mekanisme psikologis tersebut melahirkan rasa kebersamaan, loyalitas, dan solidaritas yang kuat.
Solidaritas modern tidak lagi bergantung pada kesamaan primordial seperti agama atau etnis. Mereka hidup dalam ekosistem politik dan ekonomi yang saling terkait, sehingga kerusakan pada satu bagian sistem akan memicu reaksi seluruh tubuh sosial. Itulah salah satu yang mendasari demonstrasi mampu menghimpun aliansi lintas kelas, profesi, dan latar belakang, menjadikan jalanan sebagai ruang perlawanan bersama.
Simbol Solidaritas Sosial Kontemporer
Kemarahan publik dan peleburan identitas memang bisa menjadi pemicu awal, tetapi tanpa koordinasi, demonstrasi tidak akan berkembang. Sejarah menunjukkan bahwa penderitaan dan kesenjangan selalu ada, tetapi aksi massa hanya muncul ketika ada struktur yang mampu mengelola energi itu.
Di sinilah Teori Mobilisasi Sumber Daya (Resource Mobilization Theory) gagasan John D. McCarthy dan Mayer N. Zald menjadi relevan. Tercatat dalam American Journal of Sociology (1977), kedua sosiolog tersebut menolak anggapan bahwa demonstrasi lahir semata dari emosi spontan. Mereka menegaskan, gerakan hanya bisa bertahan jika ada aktor atau organisasi yang mampu mengumpulkan, mengatur, dan mendistribusikan sumber daya secara sistematis.
Dari perspektif McCarthy dan Zald, kelompok yang memiliki akses lebih besar terhadap sumber daya (discretionary resources) cenderung lebih mampu menginisiasi dan mempertahankan mobilisasi.
Setidaknya dalam konteks Indonesia, kampus memiliki infrastruktur penting tersebut, melalui organisasi mahasiswa, jaringan pertemanan, serta akses informasi dan pengetahuan. Namun, tentu saja tak cuma kampus yang memilikinya; ada juga organisasi lain, macam serikat buruh dan gerakan kolektif, yang berkekuatan dan berperan serupa.
Teori Solidaritas Aksi di Jalanan Indonesia
Di Indonesia, teori-teori yang lahir dari ruang kuliah dan jurnal akademik Barat menemukan bentuk nyatanya di jalanan, dari demonstrasi Tritura 1966, aksi protes yang kemudian berujung pada peristiwa Malari 1974, hingga Reformasi 1998. Belum lagi gelombang demonstrasi Agustus 2025, yang memperlihatkan bahwa solidaritas organik ala Durkheim bekerja. Rencana kenaikan tunjangan DPR, polah tingkahnya di gedung Senayan, serta pembunuhan terhadap Affan Kurniawan, dipersepsikan sebagai virus yang merusak tubuh demokrasi.
Sosiolog Universitas Indonesia, Dr. Ivanovich Agusta, menekankan bahwa demonstrasi massa harus dibaca sebagai batu uji relasi negara dan rakyat. Baginya, aksi jalanan merupakan proses sosial yang lahir dari pertentangan langsung antara pemerintah dan warganya.
Dorongan utama yang membuat kelas buruh dan mahasiswa turun ke jalan adalah melebarnya kesenjangan sosial-ekonomi; demonstrasi menjadi pilihan rasional untuk mempertahankan hak hidup.

Kerangka McCarthy & Zald tentang mobilisasi sumber daya juga tampak jelas dalam gerakan kiwari. Infrastruktur gerakan tidak lagi bergantung pada selebaran fisik, tapi juga ekosistem digital. Simbol Garuda Biru bertuliskan “Peringatan Darurat” yang viral di media sosial, misalnya, menjadi pemicu kesadaran kolektif.
Di lapangan, aliansi kampus dari berbagai daerah menjahit jaringan bersama masyarakat sipil. Narasi televisi juga berperan sebagai katalis, sementara X dan Instagram mempercepat pembentukan identitas kelompok. Tagar seperti #KawalPutusanMK dan #TolakPolitikDinasti mengajak orang-orang untuk meleburkan identitas individunya menjadi kesadaran kelompok (in-group) yang solid, sebagaimana dijelaskan Tajfel & Turner dalam Teori Identitas Sosial.
Demonstrasi juga memperlihatkan, ketika banyak orang berkumpul dalam satu momen, mereka tanpa sadar telah berbagi emosi, simbol, dan menyatukan tujuan. Durkheim menyebutnya collective effervescence, yang kemudian dikembangkan Randall Collins lewat bukunya, Interaction Ritual Chains (2004).
Collins menjelaskan bahwa solidaritas tidak hanya lahir dari kesamaan tujuan, tetapi juga dari interaksi tatap muka yang menciptakan fokus perhatian dan emosi bersama. Proses itu menghasilkan sesuatu yang ia sebut emotional energy, yakni rasa percaya diri, antusiasme, dan keterikatan kelompok, yang membuat individu terdorong untuk terus terlibat dalam tindakan kolektif.
Nyanyian, yel-yel, dan simbol visual, di ruang digital maupun fisik, menularkan emosi secara massal. Energi itu mengubah ketakutan individu menjadi keberanian kolektif, menjadikan demonstrasi sebagai entitas sosial yang berani menantang kekuasaan.
Namun, berbeda dari Reformasi 1998 yang bertumpu pada organisasi mahasiswa dengan struktur koordinasi jelas, banyak gerakan kontemporer tumbuh melalui jaringan yang lebih cair dan horizontal. Media sosial memungkinkan mobilisasi berlangsung cepat tanpa bergantung pada satu komando pusat. Selain itu, gerakan mahasiswa belakangan cenderung melemah.
Seturut dosen sosiologi Universitas Negeri Jakarta, Ubedilah Badrun, ada tiga faktor utama yang membuat gerakan mahasiswa acap gagal menghasilkan dampak politik, yakni melemahnya idealisme mahasiswa yang mudah terkooptasi kekuasaan, rendahnya kapasitas berpikir kritis dalam memahami isu sosial-politik, dan lemahnya strategi gerakan yang berkelanjutan.
Akibatnya, meski lebih cepat terbentuk dan mampu menciptakan perlawanan dalam waktu singkat, tetapi kesulitan menjaga momentum setelah aksi selesai. Solidaritas dapat muncul dengan cepat, tetapi menjaga keberlanjutannya tetap menjadi pekerjaan yang jauh lebih sulit.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id




































