tirto.id - Ketika hamparan hijau berubah menjadi beton, lebih dari sekadar tanaman padi yang sirna. Indonesia kini menghadapi krisis yang jelas terlihat mata: kehilangan sawah yang merupakan bagian dari jati diri bangsa.
Dalam rentang waktu 32 tahun (1990-2022), Indonesia telah kehilangan 1,22 juta hektar sawah karena dikonversi menjadi jalan raya, pabrik, dan perumahan. Artinya, setiap tahun ada sekitar 50.000-110.000 hektar lahan pertanian yang hilang, setara dengan hilangnya area seluas 76.000 lapangan sepak bola setiap tahun. Jika ditarik lebih dekat, setidaknya sekitar 104 hektar sawah hilang setiap harinya.
Pulau Jawa, sebagai pusat produksi beras nasional, mengalami tekanan paling berat dengan konsentrasi kehilangan sawah tertinggi. Bahkan di Jawa Tengah, yang juga dikenal sebagai lumbung pangan nasional, sekitar 12.000 hektar sawah menghilang setiap tahunnya.
Sawah Hilang, Jati Diri Terancam
Tekanan urbanisasi menjadi penyebab utama hilangnya sawah di Indonesia. Pertumbuhan penduduk yang pesat membutuhkan lahan untuk perumahan, jalan, dan fasilitas umum. Kawasan penyangga Jakarta, seperti Bekasi, Depok, dan Tangerang, mengalami konversi lahan paling masif.
Banyak petani terpaksa menjual lahan karena desakan ekonomi dan rendahnya profitabilitas pertanian. Harga jual gabah yang tidak stabil, ditambah biaya produksi yang terus meningkat, membuat pertanian padi kurang menarik secara ekonomi.
Kabupaten Indramayu, salah satu lumbung padi terbesar di Jawa Barat, menjadi contoh konkret terancamnya sawah oleh berbagai proyek pembangunan. Penelitian terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Badan Informasi Geospasial (BIG), dan Universitas Indonesia, memprediksi wilayah ini bakal kehilangan 1.602,73 hektar sawah pada periode 2020-2030.
Dampaknya tidak main-main. Produksi beras akan berkurang sebesar 83.697,95 ton dalam kurun waktu tersebut. Penelitian yang menggunakan kombinasi Multi-Layer Perceptron Neural Network (MPL-NN) dan Markov Cellular Automata (Matkov CA) tersebut menunjukkan pola kehilangan yang sistematis dan terukur. Model-model ini menganalisis data historis untuk mendeteksi dan memprediksi perubahan penggunaan lahan di masa mendatang.
Potensi hilangnya lahan pertanian di Indramayu disinyalir diakibatkan oleh efek perluasan perkotaan. Hasil penelitian yang dipublikasikan pada 2 Juli 2025 tersebut pun selaras dengan hipotesisnya, bahwa kabupaten yang strategis ini mengalami tekanan pembangunan dari berbagai arah. Kedekatan dengan Jakarta dan akses transportasi yang baik membuat Indramayu menjadi target pengembangan industri dan perumahan, termasuk proyek-proyek besar pembangunan.
Salah satu contohnya adalah proyek Pelabuhan Patimban, yang merupakan Proyek Strategis Nasional senilai Rp30 triliun. Di Indramayu, proyek itu mengakuisisi 334 hektar lahan penghidupan masyarakat lokal, baik untuk pertanian padi (320 hektare) maupun tambak ikan dan garam (14 hektare).
Belum lagi perluasan industri Petrokimia Jawa Barat yang terus menggerus lahan sawah produktif. Proyek tersebut mencaplok 331,92 hektare di Indramayu. Sebagian besar area pertanian yang dikonversi itu adalah sawah kecil milik warga, dengan kepemilikan rata-rata 0,6 hektare per rumah tangga.
Para petani yang terkena dampak menghadapi dilema sulit. Mereka yang lahan sawahnya diambil untuk proyek pembangunan harus menerima kompensasi yang tidak selalu mencukupi untuk membeli lahan baru atau memulai usaha lain. Akibatnya, sebagian petani beralih profesi, pindah ke kota menjadi buruh, pekerja informal, bahkan tak jarang yang masih menganggur.
Kehilangan sawah bukan hanya persoalan ekonomi. Sawah memiliki fungsi ekologis yang sangat penting bagi lingkungan. Lahan sawah dapat menyimpan air hingga 600 meter kubik per hektar, berperan sebagai penyerap karbon, dan menjadi habitat bagi keanekaragaman hayati.
Ketika sawah beralih fungsi, kemampuan daerah untuk menampung air berkurang drastis. Hal ini menyebabkan banjir makin sering terjadi. Selain itu, suhu udara di daerah yang kehilangan sawah cenderung meningkat karena hilangnya efek pendinginan alami dari sawah.
Studi oleh Bambang Irawan (2005) dan Nyak Ilham, dkk. (2003) menegaskan, konversi sawah bersifat permanen, kumulatif, dan progresif. Sekali berubah, hampir mustahil dikembalikan. Bahkan pencetakan sawah baru tidak mampu menutupi kehilangan yang terjadi.
Data geospasial menunjukkan bahwa sawah dengan intensitas tanam tinggi (RCI 2) justru paling rentan dikonversi. Padahal, sawah jenis ini menyumbang produksi beras terbesar. Ketika lahan-lahan ini hilang, kita bukan hanya kehilangan hasil panen, tapi juga efisiensi produksi dan ketahanan lokal.
Riset yang dilakukan oleh Wiqoyatul Hikmah (2018) menyimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi mendorong konversi lahan melalui transformasi struktural dan sosial. Titik balik terjadi saat pendapatan per kapita meningkat, tapi pembangunan tidak lagi ramah lingkungan.
Lebih dari itu, hilangnya sawah berarti pudarnya budaya agraris yang telah mengakar dalam masyarakat Indonesia selama berabad-abad. Ketika sawah hilang, ikatan sosial yang terbangun dari kegiatan pertanian pun turut memudar. Tradisi gotong royong dan upacara adat pertanian mulai menghilang seiring berkurangnya aktivitas bertani di desa.
Untungnya, di Desa Lelea, Indramayu, upaya mempertahankan tradisi ngarot (ritual memasuki musim tanam) masih dilakukan sebagai bentuk perlawanan terhadap industrialisasi. Tradisi ini telah berlangsung selama 370 tahun dan melibatkan muda-mudi yang belum menikah untuk diajarkan ilmu bercocok tanam, dengan penekanan pada menjaga eksistensi budaya pertanian di tengah laju industri.
“Bagi masyarakat Lelea, ngarot hanya cara menjaga pertanian dipertahankan. Pesan arif dari tradisi ini adalah persawahan tidak beralih fungsi,” ujar tokoh setempat, Sasmita, dikutip dari Mongabay Indonesia.
Dampak kehilangan sawah tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi akan terus menguat dalam dekade mendatang. Tanpa intervensi yang tepat, Indonesia akan menghadapi krisis multidimensi yang melibatkan aspek ekonomi, sosial, budaya, dan lingkungan.
Krisis Ketahanan Pangan
Dampak paling nyata dari hilangnya sawah adalah merosotnya ketahanan pangan nasional. Urbanisasi yang pesat mempercepat alih fungsi lahan. Dengan kehilangan 1,22 juta hektar, Indonesia berpotensi kehilangan 6,1-7,3 juta ton produksi beras.
Penurunan produksi ini memaksa Indonesia makin bergantung pada impor beras. Ketergantungan impor akan terus meningkat, terutama saat terjadi gagal panen atau kondisi cuaca ekstrem.
Studi oleh Wijayanti & Priyanto (2021) menunjukkan, pertumbuhan kota berdampak negatif terhadap luas lahan garapan. Ketika desa kehilangan lahan dan tenaga kerja, kota belum tentu siap menampung beban pangan yang meningkat.
Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan, pada 2025, 68 persen penduduk Indonesia akan tinggal di kawasan perkotaan. Jika tren ini tidak diimbangi dengan kebijakan perlindungan lahan dan pemberdayaan petani, ketahanan pangan bisa goyah.
Pada 2024, Indonesia mengimpor 4,52 juta ton beras, naik 47,38 persen dari tahun sebelumnya. Sementara itu, produksi beras domestik turun 2,24 persen atau sekitar 700.000 ton.
Harga beras pun melonjak tinggi. Pada Februari 2024, harga beras mencapai rekor tertinggi dalam sejarah, tembus Rp18.000 per kilogram. Kenaikan ini berdampak langsung pada konsumsi rumah tangga, terutama kelompok berpendapatan rendah. Secara makro, hal itu memberikan andil inflasi sebesar 0,64 persen dan menyebabkan inflasi volatile food mencapai 7,22 persen.
Kita perlu menyadari bahwa setiap piring nasi yang disantap berasal dari sawah yang semakin hari semakin sempit. Menghargai petani dan hasil pertanian adalah langkah kecil yang dapat kita lakukan untuk mendukung pelestarian sawah.
Sawah adalah penyangga peradaban, bukan sekadar ladang. Ia menyimpan cerita tentang musim, kerja keras, dan harapan. Ketika sawah diuruk untuk menjadi mal atau pabrik, cerita-cerita itu pun ikut terkubur.
Jangan sampai generasi mendatang hanya mengenal sawah hanya dari cerita, foto lama, atau bahkan cuma muncul dalam buku gambar anak-anak.
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































